Sumber: Fortune,Fortune | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
White juga menekankan bahwa hedge fund Hong Kong ini tidak benar-benar bagian dari ekosistem kripto tradisional, karena mereka hanya bertransaksi lewat saham ETF, bukan langsung di bursa kripto. Akibatnya, masalah mereka tidak ramai dibicarakan di “Crypto Twitter”, yang biasanya menjadi pusat informasi industri. Tidak ada pula pihak lawan transaksi yang mengalami kerugian besar dan memberi peringatan ke pasar.
Meski demikian, White sendiri menegaskan bahwa ini masih sebatas teori. Sejarah menunjukkan, kejatuhan besar Bitcoin biasanya dipicu oleh banyak faktor, bukan satu penyebab tunggal.
Faktanya, gejolak kripto pekan ini juga bertepatan dengan aksi jual aset terkait AI, ketidakpastian soal nasib rancangan undang-undang blockchain penting, serta munculnya nama-nama kripto dalam berkas Epstein. Semua faktor ini kemungkinan ikut memperparah kejatuhan pasar.
Meski begitu, penjelasan White dinilai sebagai salah satu yang paling masuk akal. Teori ini juga didukung oleh sejumlah bukti tidak langsung, termasuk keputusan terbaru Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC) yang melonggarkan batasan perdagangan opsi Bitcoin.
Tonton: Cara Memilih Saham ala Warren Buffett & Charlie Munger: Fokus Bisnis, Bukan Harga Harian
Sejumlah tokoh senior kripto lainnya juga menyatakan dukungan hati-hati terhadap teori hedge fund Hong Kong ini. Salah satunya adalah investor ventura ternama Haseeb Qureshi, yang menyebut teori tersebut masuk akal, meski ia menambahkan bahwa konfirmasi bisa memakan waktu berbulan-bulan hingga laporan regulasi tersedia. Ia juga mengingatkan bahwa dalam dunia kripto, kadang ada pemain besar yang “meledak” tanpa pernah diketahui identitasnya.
Bagi sebagian pelaku pasar yang yakin hedge fund adalah biang kerok gejolak minggu ini, bahkan sudah muncul forum taruhan di Polymarket untuk menebak siapa pihak yang bertanggung jawab.













