Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Ancaman mogok kerja besar-besaran di Samsung Electronics memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas produksi chip global.
Serikat pekerja perusahaan asal Korea Selatan tersebut menyatakan tetap berkomitmen melanjutkan rencana aksi mogok mulai pekan depan meskipun manajemen telah menawarkan pembukaan kembali negosiasi upah tanpa syarat.
Serikat pekerja Samsung pada Jumat (15/5/2026) menegaskan aksi mogok selama 18 hari akan tetap dimulai pada 21 Mei mendatang. Langkah ini berpotensi mengganggu produksi di perusahaan pembuat chip memori terbesar di dunia tersebut.
Ketegangan meningkat setelah negosiasi yang dimediasi pemerintah terkait skema gaji dan bonus antara serikat pekerja dan perusahaan gagal mencapai kesepakatan pada pekan ini.
Meski demikian, serikat pekerja menyatakan masih bersedia melanjutkan pembicaraan baru setelah 7 Juni, sembari tetap mempertahankan agenda mogok kerja.
Pihak manajemen Samsung mendesak serikat pekerja untuk kembali ke meja perundingan. Eksekutif perusahaan juga menyampaikan permintaan maaf kepada publik dan pemerintah atas dampak perselisihan ketenagakerjaan tersebut.
Baca Juga: Trump Mulai Kehilangan Kesabaran terhadap Iran
Samsung menegaskan akan menjalani proses negosiasi dengan sikap terbuka dan terus berupaya mencapai kesepakatan. Perusahaan juga menyebut para eksekutif tengah menuju kampus produksi Samsung di Pyeongtaek untuk bertemu pimpinan serikat pekerja.
Kekhawatiran investor terhadap potensi gangguan produksi membuat saham Samsung sempat anjlok hingga 9,3%. Penurunan ini terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian mengenai kemampuan perusahaan memenuhi komitmen pengiriman kepada pelanggan global.
Analis senior NH Investment & Securities, Ryu Young-ho, mengatakan pasar mulai mencemaskan keandalan pengiriman produk apabila mogok kerja benar-benar terjadi.
“Ada kekhawatiran yang meningkat mengenai keandalan pengiriman jika mogok berlangsung dan muncul sentimen bahwa para pesaing bisa mendapatkan keuntungan dari ketidakpastian ini,” ujar Ryu.
Menurut dia, peluang terjadinya mogok semakin besar karena perusahaan dinilai belum memberikan proposal baru yang cukup signifikan kepada serikat pekerja.
Perselisihan dipicu ketidakpuasan pekerja terhadap kesenjangan bonus yang dinilai terlalu besar dibandingkan rival Samsung, yakni SK Hynix.
Serikat pekerja bahkan memperingatkan lebih dari 50.000 pekerja dapat melakukan aksi mogok pada pekan depan.
Pemerintah Korea Selatan turut menyuarakan kekhawatiran terhadap potensi dampak ekonomi dari aksi tersebut. Sejumlah pejabat tinggi, termasuk perdana menteri dan menteri keuangan, menilai mogok di Samsung harus dihindari karena dapat mengganggu pertumbuhan ekonomi, ekspor, dan pasar keuangan negara.
Menteri Industri Korea Selatan Kim Jung-kwan pada Kamis menyebut aksi mogok dapat menyebabkan kerusakan ekonomi yang sulit dipulihkan sehingga opsi arbitrase darurat bisa menjadi langkah yang tidak terhindarkan.
Baca Juga: Laba Emiten Blue-Chip Eropa Diproyeksi Catat Pertumbuhan Tertinggi Sejak 2022
Namun, berdasarkan hukum Korea Selatan, kewenangan untuk memberlakukan arbitrase darurat hanya dimiliki menteri tenaga kerja. Menteri Tenaga Kerja Kim Young-hoon sendiri menekankan pentingnya dialog antara perusahaan dan serikat pekerja.
Kantor Kepresidenan Korea Selatan atau Blue House pada Jumat juga menyatakan harapan agar aksi mogok dapat dicegah dan menilai situasi saat ini belum mencapai tahap pemberlakuan mediasi darurat.
Dalam laporannya, JPMorgan Chase memperkirakan dampak mogok terhadap produksi Samsung berpotensi lebih besar dari perkiraan sebelumnya karena tingginya partisipasi pekerja.
JPMorgan memperkirakan dampak terhadap laba operasional Samsung dapat mencapai 21 triliun won hingga 31 triliun won atau sekitar US$ 14,08 miliar hingga US$ 20,79 miliar. Sementara itu, potensi kehilangan penjualan diperkirakan mencapai sekitar 4,5 triliun won.
Pada perdagangan Jumat, saham 005930.KS turun 9,3%, lebih dalam dibanding pelemahan indeks acuan KOSPI yang terkoreksi sekitar 7%.
- Samsung Electronics
- krisis chip
- industri semikonduktor
- Pemerintah Korea Selatan
- Saham Samsung
- serikat pekerja samsung
- Mogok kerja Samsung
- produksi chip global
- saham Samsung anjlok
- dampak ekonomi Korea Selatan
- gaji karyawan Samsung
- arbitrase darurat
- investor Samsung
- dampak ekonomi korea
- jpmorgan samsung












