Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
Perang yang masih berlangsung juga memicu kekhawatiran terhadap krisis energi global. Jalur pelayaran di Selat Hormuz menjadi titik krusial karena sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia melewati wilayah tersebut.
Sejak Amerika Serikat dan Israel memulai serangan terhadap Iran pada 28 Februari, sebagian besar aktivitas pelayaran global di jalur tersebut terganggu.
International Energy Agency menyatakan minyak dari cadangan darurat global akan segera dilepas ke pasar. Negara-negara anggota berkomitmen menyediakan sekitar 411,9 juta barel untuk menjaga stabilitas pasokan energi.
Di sisi lain, pusat pengisian bahan bakar kapal global di Fujairah sempat ditutup setelah serangan rudal pada Sabtu, namun kembali beroperasi sehari kemudian.
Trump juga meminta negara-negara besar seperti China, Prancis, Jepang, Korea Selatan, dan Inggris untuk bekerja sama membuka kembali jalur pelayaran minyak di Selat Hormuz.
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer disebut telah berbicara dengan Trump mengenai pentingnya membuka kembali jalur tersebut.
Sementara itu, Uni Eropa sedang mempertimbangkan kemungkinan memperluas misi angkatan laut regional untuk melindungi kapal-kapal yang melintas di kawasan tersebut.
Iran Bantah Serang Area Sipil
Araqchi juga membantah tuduhan bahwa Iran menyerang wilayah sipil di Timur Tengah. Ia mengatakan Iran siap membentuk komite bersama negara-negara tetangga untuk menyelidiki siapa yang bertanggung jawab atas serangan terhadap area sipil.
Namun ketegangan terus meningkat. Garda Revolusi Iran kembali meluncurkan serangan rudal dan drone ke target di Israel serta pangkalan militer AS di kawasan.
Iran juga menyatakan belum menggunakan sistem rudal terbarunya dalam konflik ini.
Tonton: 6.000 WNI Masih Tertahan Akibat Konflik Timur Tengah, Ini Penjelasan Kemenlu
Di sisi lain, Israel mengklaim telah menyerang sejumlah target militer di Iran barat, termasuk markas Garda Revolusi dan milisi Basij di kota Hamadan.
Sumber keamanan Israel juga menyebut militer negara tersebut mulai menargetkan jalan dan jembatan yang diduga digunakan komandan Garda Revolusi untuk mobilisasi pasukan.
Ketegangan yang terus meningkat ini membuat prospek perdamaian masih belum jelas, sementara risiko krisis energi global dan instabilitas geopolitik tetap tinggi.













