Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Arab Saudi kembali menjadi tujuan terbesar pengiriman fuel oil dan vacuum gasoil (VGO) Rusia melalui laut pada Juli 2026.
Permintaan yang tinggi selama musim panas, terutama untuk memenuhi kebutuhan pembangkit listrik dan pendingin udara, membuat impor dari Rusia tetap deras meski volumenya menurun.
Berdasarkan data pelaku perdagangan dan LSEG, pengiriman fuel oil dan VGO dari pelabuhan Rusia ke Arab Saudi mencapai sekitar 1,1 juta ton pada Juli. Jumlah tersebut turun 18% dibandingkan Juni.
Baca Juga: Arab Saudi Perketat Pengawasan Transfer Bank ke Uni Emirat Arab
"Arab Saudi meningkatkan pembelian fuel oil Rusia yang didiskon untuk sektor listrik," demikian data perdagangan tersebut.
Langkah ini memungkinkan Arab Saudi menghemat penggunaan minyak mentah yang memiliki nilai lebih tinggi. Fuel oil Rusia yang lebih murah digunakan sebagai bahan bakar pembangkit untuk memenuhi lonjakan kebutuhan listrik selama musim panas.
Perubahan pola perdagangan ini terjadi setelah Uni Eropa memberlakukan embargo penuh terhadap produk minyak Rusia pada Februari 2023. Sejak saat itu, negara-negara di Timur Tengah dan Asia menjadi pasar utama bagi ekspor fuel oil dan VGO Rusia.
Selain Arab Saudi, pengiriman produk minyak Rusia ke Singapura dan Malaysia juga meningkat tajam. Ekspor ke dua negara yang menjadi pusat bunkering dan penyimpanan bahan bakar tersebut melonjak 2,5 kali lipat secara bulanan menjadi sekitar 470.000 ton pada Juli.
Baca Juga: Resmi Berganti, Arab Saudi Kuasai EA Sports dengan Modal Hampir Rp 1.000 Triliun
Sementara itu, tidak tercatat pengiriman fuel oil maupun VGO dari pelabuhan Rusia ke India pada Juli. Padahal, pada Juni pengiriman ke negara tersebut masih mencapai sekitar 150.000 ton.
Namun, sekitar 230.000 ton produk minyak berat Rusia masih berada di kapal yang berlokasi di sekitar Terusan Suez. Tujuan akhir kargo tersebut belum diketahui.
India sebelumnya menjadi salah satu pembeli utama fuel oil dan VGO Rusia karena harganya lebih murah dibandingkan minyak mentah Urals.
Namun, pembelian tersebut menurun setelah Departemen Keuangan Amerika Serikat menjatuhkan sanksi terhadap perusahaan minyak besar Rusia, Rosneft dan Lukoil, tahun lalu.
Di sisi lain, ekspor produk minyak berat Rusia ke Turki turun 21% secara bulanan menjadi sekitar 150.000 ton pada Juli.
Baca Juga: Perang Iran Panaskan Harga Minyak, Laba Raksasa Minyak Arab Saudi Ini Melambung 44%
Secara keseluruhan, ekspor fuel oil dan VGO Rusia melalui laut turun 12% dari Juni menjadi sekitar 2,4 juta ton pada Juli. Penurunan ini terjadi di tengah gangguan operasional kilang Rusia akibat serangan drone Ukraina yang menekan produksi produk minyak olahan.
Data pengiriman tersebut dihitung berdasarkan tanggal keberangkatan kargo dari pelabuhan Rusia.














