kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.725.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.715   -64,00   -0,36%
  • IDX 6.527   25,70   0,40%
  • KOMPAS100 847   5,14   0,61%
  • LQ45 642   3,52   0,55%
  • ISSI 229   -0,12   -0,05%
  • IDX30 359   2,54   0,71%
  • IDXHIDIV20 436   3,39   0,78%
  • IDX80 97   0,55   0,57%
  • IDXV30 121   0,35   0,29%
  • IDXQ30 114   0,80   0,71%

Dolar AS Tertekan, Investor Ragukan Upaya Departemen Keuangan Redam Imbal Hasil


Jumat, 21 Agustus 2026 / 09:19 WIB
Dolar AS Tertekan, Investor Ragukan Upaya Departemen Keuangan Redam Imbal Hasil
ILUSTRASI. Dolar AS, Forex, Bond (REUTERS/Chris Helgren)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Dolar Amerika Serikat (AS) berada di bawah tekanan pada perdagangan Jumat (21/8) dan berada di jalur untuk mencatat penurunan mingguan.

Investor menilai langkah Departemen Keuangan AS untuk menahan kenaikan imbal hasil obligasi hanya menjadi solusi sementara, sekaligus memicu kekhawatiran terhadap pendekatan pemerintah yang semakin intervensionis.

Baca Juga: Harga Minyak Bersiap Catat Kenaikan Mingguan Kedua, Perang AS-Iran Ganggu Pasokan

Mengutip Reuters, Jumat (21/8/2026), Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan pemerintah masih dapat meningkatkan pembelian kembali (buyback) obligasi Treasury.

Pernyataan tersebut disampaikan sehari setelah Departemen Keuangan AS mengumumkan akan menggandakan nilai pembelian kembali surat utang berjangka panjang pada kuartal berikutnya untuk meredam lonjakan imbal hasil.

Bessent juga mengatakan, dirinya bersama Direktur Anggaran Gedung Putih Russell Vought akan menjalankan upaya konsolidasi fiskal baru atas arahan Presiden AS Donald Trump.

Namun, berbagai langkah tersebut belum mampu menghentikan aksi jual Treasury. Investor justru semakin khawatir terhadap memburuknya kondisi fiskal AS dan kembali mempertanyakan kredibilitas institusi pemerintah AS.

Baca Juga: Pasar Asia Tertekan Jumat (21/8), Imbal Hasil Obligasi dan Harga Minyak Tetap Tinggi

Dolar Tertekan

Pelemahan dolar AS membuat sejumlah mata uang utama menguat.

Euro berada di dekat level tertinggi dalam tiga bulan dan terakhir diperdagangkan di US$ 1,1685, dengan kenaikan sekitar 1% sepanjang pekan.

Poundsterling juga mendekati level tertinggi dalam enam bulan dan naik 0,08% menjadi US$ 1,3643. Sepanjang pekan, sterling telah menguat sekitar 0,8%.

Sementara itu, indeks dolar AS berada di jalur penurunan lebih dari 0,8% sepanjang pekan.

Baca Juga: Inflasi Inti Jepang Naik pada Juli, Perkuat Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga

Indeks tersebut terakhir berada di 98,82, mendekati level terendah dalam tiga bulan terhadap sekeranjang enam mata uang utama.

"Pembelian kembali obligasi jangka panjang oleh Departemen Keuangan pada dasarnya merupakan contoh lain bagaimana pemerintah AS menggunakan instrumen yang tidak konvensional untuk mengelola biaya pinjaman. Ini terjadi di tengah tingginya utang pemerintah, defisit fiskal yang terus membesar dan ketidakpastian kebijakan," kata Carol Kong, currency strategist Commonwealth Bank of Australia.

Menurut Kong, kondisi tersebut dapat menjadi hambatan tambahan bagi sentimen investor terhadap aset dolar AS.

Investor juga berpotensi meningkatkan lindung nilai terhadap dolar dan melakukan diversifikasi ke aset lainnya.

Di pasar valuta asing lainnya, dolar Australia naik 0,13% menjadi US$ 0,7123, sedangkan dolar Selandia Baru menguat 0,23% menjadi US$ 0,5957. Dolar Selandia Baru berada di jalur kenaikan lebih dari 1% sepanjang pekan.

Yen Jepang melemah 0,05% menjadi 159,12 per dolar AS, masih tertekan oleh perbedaan suku bunga yang lebar antara AS dan Jepang.

Data terbaru menunjukkan inflasi konsumen inti Jepang meningkat pada Juli dibandingkan setahun sebelumnya. Kondisi tersebut semakin memperkuat alasan bagi Bank of Japan untuk menaikkan suku bunga.

Baca Juga: Subaru Tersandung Kasus Akses Data Servis Kendaraan di Australia

Imbal Hasil Treasury Masih Tinggi

Imbal hasil obligasi Treasury AS tenor 30 tahun naik sekitar 1,4 basis poin menjadi 5,2508% pada Jumat.

Sementara itu, imbal hasil Treasury 10 tahun stabil di 4,7041%, setelah naik 4,5 basis poin pada perdagangan sebelumnya. Kelegaan awal setelah pengumuman program buyback obligasi oleh Bessent mulai memudar.

"Keraguan kami bukan karena pembuat kebijakan tidak memiliki alat untuk memengaruhi imbal hasil obligasi jangka panjang. Sejarah menunjukkan bahwa mereka bisa, setidaknya untuk sementara. Keraguan kami adalah masalah yang dihadapi saat ini semakin terlihat sebagai masalah fiskal, bukan teknis," kata Vitali Meschoulam, strategist Goldman Sachs.

Ia menambahkan, pengalaman negara-negara maju menunjukkan premi jangka waktu (term premium) dapat ditekan.

Namun, pengalaman negara berkembang menunjukkan bahwa ketika pasar mulai berfokus pada dinamika pembiayaan utang pemerintah, upaya menekan imbal hasil menjadi semakin tidak efektif.

Baca Juga: PMI Manufaktur Jepang Ekspansi, Pesanan Baru Tumbuh Tercepat Sejak 2018

Investor Beralih ke Emas dan Bitcoin

Kekhawatiran terhadap utang AS yang telah melampaui US$ 40 triliun juga mendorong sebagian investor mencari alternatif seperti emas dan Bitcoin.

Kedua aset tersebut sebelumnya mendapat manfaat ketika investor melakukan diversifikasi dari aset-aset AS.

Harga Bitcoin pada Jumat mencapai level tertinggi dalam lebih dari dua bulan. Bitcoin terakhir diperdagangkan naik 1,6% menjadi US$ 73.823,43 dan berada di jalur kenaikan sekitar 17% sepanjang pekan.

Jika terealisasi, kenaikan tersebut akan menjadi penguatan mingguan terbesar Bitcoin dalam sekitar 2,5 tahun.

Sementara itu, harga emas spot juga berada di jalur untuk mencatat kenaikan lebih dari 3% sepanjang pekan, seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap prospek fiskal AS dan dolar.

Baca Juga: AS Tingkatkan Volume Buyback US Treasury, Bessent: Bisa Ditambah Lagi




TERBARU

[X]
×