Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Dolar Amerika Serikat (AS) bertahan menguat pada perdagangan Selasa (23/6/2026), didukung meningkatnya ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan kembali menaikkan suku bunga tahun ini. Sementara itu, yen Jepang terus tertekan dan berada di dekat level terlemah dalam hampir 40 tahun.
Penguatan dolar terjadi seiring kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS yang masih bertahan di level tinggi setelah melonjak pada perdagangan sebelumnya.
Baca Juga: Harga Emas Dunia Tertahan Selasa (23/6), Peluang Kenaikan Bunga The Fed Meningkat
Yield obligasi AS tenor dua tahun, yang sangat sensitif terhadap ekspektasi suku bunga, masih berada di dekat level tertinggi dalam 16 bulan terakhir.
Kondisi ini mencerminkan kekhawatiran pasar bahwa The Fed akan kembali memperketat kebijakan moneternya dalam beberapa bulan ke depan.
Pasar kontrak berjangka Fed Funds kini memperkirakan peluang sebesar 75% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga paling lambat September mendatang.
Sejumlah lembaga keuangan besar juga mulai mengubah proyeksinya. BofA Global Research dan Deutsche Bank meninggalkan prediksi sebelumnya yang memperkirakan suku bunga tetap stabil, dan kini memperkirakan adanya kenaikan suku bunga sebelum akhir tahun seiring ketahanan ekonomi AS yang masih kuat.
"Dolar AS tetap kokoh didukung kenaikan yield obligasi dan ekspektasi kebijakan The Fed yang lebih hawkish," ujar Strategis Valuta Asing OCBC, Sim Moh Siong dilansir Reuters.
Menurutnya, minimnya petunjuk yang jelas dari pejabat The Fed justru meningkatkan volatilitas pasar.
OCBC kini memperkirakan dolar AS akan menguat lebih lanjut, berbalik dari proyeksi sebelumnya yang memperkirakan pergerakan mata uang tersebut cenderung mendatar.
Sim menambahkan, indeks dolar AS masih berpotensi menguat 2% hingga 3% lagi apabila berhasil menembus level tertinggi 14 bulan terakhir di 101,97.
Pada perdagangan terbaru, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia berada di level 101,01, tidak jauh dari puncak satu tahun di 101,13 yang dicapai pekan lalu.
Baca Juga: Bursa Asia Tertekan Selasa (23/6), Investor Cermati Risiko Kenaikan Suku Bunga AS
Yen Dekati Level Terlemah Sejak 1986
Di pasar mata uang Asia, yen Jepang diperdagangkan di level 161,59 per dolar AS setelah sempat menyentuh 161,93 pada Senin malam.
Jika menembus level 161,96, yen akan berada pada posisi terlemah sejak 1986.
Kondisi tersebut memicu kekhawatiran di Jepang. Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama diketahui menggelar pertemuan daring dengan Menteri Keuangan AS Scott Bessent pada Senin malam untuk membahas gejolak nilai tukar.
Menurut sumber Reuters, pembahasan mencakup berbagai opsi kebijakan guna menghadapi pelemahan yen, termasuk kemungkinan intervensi di pasar valuta asing.
Namun hingga kini, otoritas Jepang belum memberikan sinyal yang jelas terkait waktu dan bentuk intervensi yang mungkin dilakukan.
Analis Pasar IG Tony Sycamore menilai, pelaku pasar kini memantau secara ketat level 161,95 yen per dolar AS.
"Pasar sedang memperhatikan apakah otoritas Jepang akan turun tangan mempertahankan level 161,95 dalam beberapa sesi perdagangan ke depan," ujarnya.
Meski demikian, Sycamore menilai intervensi, jika dilakukan, kemungkinan hanya memberikan dampak sementara terhadap pergerakan yen.
Baca Juga: Prediksi Inggris vs Ghana: The Three Lions Diunggulkan Raih 3 Poin
Euro dan Pound Stabil
Sementara itu, euro diperdagangkan di level US$ 1,1423, mendekati titik terendah dalam tiga bulan terakhir setelah Presiden Bank Sentral Eropa (ECB), Christine Lagarde, meredam kekhawatiran mengenai risiko inflasi lanjutan.
Pound sterling berada di level US$ 1,3246 dan relatif stabil setelah Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengumumkan pengunduran dirinya, membuka jalan bagi proses transisi pemerintahan yang diperkirakan berlangsung tertib.
Baca Juga: Booming AI Angkat Prestise Karyawan Samsung dan SK Hynix, Jadi Rebutan di Pasar Jodoh
Di sisi lain, dolar Australia dan dolar Selandia Baru yang sensitif terhadap sentimen risiko masing-masing turun sekitar 0,1%.
Harga minyak dunia juga kembali menguat setelah terkoreksi tajam pada sesi sebelumnya. Investor masih menunggu perkembangan lebih lanjut terkait pembicaraan damai antara AS dan Iran serta upaya pemulihan arus pengiriman minyak melalui Selat Hormuz.














