Sumber: Reuters | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - TOKYO. Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang (JGB) untuk tenor acuan naik ke level tertinggi baru dalam hampir tiga dekade pada hari Senin (6/4/2026). Ini terjadi karena investor khawatir tentang tekanan inflasi dari dampak perang di Timur Tengah. Di sisi lain, laporan pekerjaan Amerika Serikat (AS) yang kuat mengurangi ekspektasi untuk penurunan suku bunga lebih awal.
Senin (6/4/2026) pukul 07.30 WIB, imbal hasil obligasi pemerintah Jepang (JGB) untuk tenor acuan 10 tahun naik 2 basis poin (bps) menjadi 2,4%. Ini jadi posisi tertinggi sejak Februari 1999. Imbal hasil obligasi bergerak berlawanan arah dengan harga obligasi.
Kenaikan pada imbal hasil obligasi pemerintah Jepang ini terjadi setelah Presiden AS Donald Trump pada hari Minggu (5/4/2026) meningkatkan tekanan pada Iran, mengancam dalam unggahan media sosial yang penuh kata-kata kasar pada Minggu Paskah.
Baca Juga: Terungkap: India Diam-diam Borong Minyak Iran di Tengah Konflik
Trump bilang, AS akan menargetkan pembangkit listrik dan jembatan Iran pada Selasa (7/4/2026) jika Selat Hormuz yang strategis tidak dibuka kembali. Alhasil, harga minyak mentah acuan pun melonjak lebih tinggi.
Di sisi lain, data yang dirilis pada hari Jumat (3/4/2026) menunjukkan bahwa jumlah pekerjaan di sektor non-pertanian AS tumbuh lebih dari yang diperkirakan bulan lalu dan tingkat pengangguran turun menjadi 4,3%.
Hal tersebut memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga tetap stabil sambil menilai pertumbuhan, inflasi, dan dampak ekonomi dari perang dengan Iran.
Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah Jepang untuk tenor lima tahun naik 2 bps menjadi 1,815%. Obligasi tenor lainnya belum diperdagangkan pada pukul 00.22 GMT.












