kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.603.000   -7.000   -0,27%
  • USD/IDR 18.042   34,00   0,19%
  • IDX 6.320   85,12   1,37%
  • KOMPAS100 832   13,60   1,66%
  • LQ45 635   11,28   1,81%
  • ISSI 218   2,09   0,97%
  • IDX30 357   7,08   2,02%
  • IDXHIDIV20 439   8,12   1,89%
  • IDX80 95   1,54   1,64%
  • IDXV30 120   1,66   1,39%
  • IDXQ30 114   1,99   1,77%

Aramco Raup Laba US$32,69 Miliar, Gangguan Selat Hormuz Ancam Ekonomi Global


Selasa, 04 Agustus 2026 / 15:19 WIB
Aramco Raup Laba US$32,69 Miliar, Gangguan Selat Hormuz Ancam Ekonomi Global
ILUSTRASI. Raksasa minyak Arab Saudi, Aramco, membukukan lonjakan laba bersih sebesar 44% pada kuartal II 2026, (REUTERS/Danielle Villasana)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Raksasa minyak Arab Saudi, Aramco, membukukan lonjakan laba bersih sebesar 44% pada kuartal II 2026, didorong kenaikan harga minyak mentah, produk kilang, dan petrokimia di tengah gangguan distribusi akibat konflik di kawasan Timur Tengah.

Meski mencatat kinerja keuangan yang kuat, Aramco memperingatkan bahwa gangguan pengiriman minyak melalui Selat Hormuz telah menguras persediaan minyak dunia dan berpotensi memberikan dampak jangka panjang terhadap perekonomian global.

Aramco pada Selasa (4/8/2026) melaporkan laba bersih sebesar US$32,69 miliar untuk periode tiga bulan yang berakhir pada 30 Juni 2026. Angka tersebut meningkat dibandingkan laba bersih sebesar US$22,67 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Kinerja positif tersebut ditopang oleh kenaikan harga minyak mentah, produk hasil penyulingan, serta bahan kimia. Selain itu, perusahaan juga berhasil menjaga kelangsungan pasokan dengan mengalihkan jalur pengiriman menjauhi Selat Hormuz yang terdampak perang.

Baca Juga: Tiga Federasi Cabut Dukungan, Posisi Gianni Infantino di FIFA Terancam

Chief Executive Officer (CEO) Aramco, Amin Nasser, mengatakan perusahaan mampu mempertahankan operasional meskipun menghadapi salah satu gangguan pasokan energi terbesar dalam sejarah.

"Meskipun terjadi gangguan pasokan yang belum pernah terjadi sebelumnya melalui Selat Hormuz, kami terus menunjukkan kemampuan untuk menjaga keberlangsungan bisnis dengan memanfaatkan basis aset kami yang beragam serta perencanaan yang telah dibangun selama puluhan tahun," ujar Nasser.

Ia menyebut keberhasilan tersebut didukung oleh keberadaan East-West Pipeline, kapasitas penyimpanan minyak Aramco, serta terminal ekspor perusahaan.

Persediaan minyak dunia terkuras

Di balik keberhasilan tersebut, Aramco menilai gangguan distribusi minyak telah menimbulkan dampak besar terhadap rantai pasok global.

Menurut Nasser, dunia telah kehilangan lebih dari 2,6 miliar barel minyak yang seharusnya memasok berbagai sektor industri, mulai dari pertanian, semikonduktor, otomotif, kimia, hingga manufaktur.

Ia memperkirakan, sekalipun Selat Hormuz dibuka kembali saat ini, dibutuhkan waktu hingga 18 bulan untuk mengembalikan tingkat persediaan minyak global ke kondisi normal, dengan asumsi pengisian kembali berlangsung rata-rata 2,1 juta barel per hari.

"Saat kami melihat sisa tahun 2026 dan periode setelahnya, kami tetap khawatir bahwa gangguan yang terus berlanjut melalui Selat Hormuz serta ancaman terhadap pelayaran melalui Selat Bab el-Mandeb dapat memberikan dampak jangka panjang yang signifikan terhadap perekonomian dunia," kata Nasser dalam konferensi dengan para analis setelah pengumuman kinerja keuangan perusahaan.

Baca Juga: Toyota Kerek Proyeksi Laba Operasional Tahunan dan Bakal Gelar Buyback Saham

Ancaman meluas ke Laut Merah

Aramco menilai gangguan terhadap pasokan energi global berpotensi semakin luas setelah kelompok Houthi yang didukung Iran mengumumkan blokade terhadap industri minyak Arab Saudi pada bulan lalu.

Langkah tersebut meningkatkan tekanan terhadap jalur pelayaran di Laut Merah sekaligus memperluas dampak konflik yang sebelumnya telah menghambat arus distribusi minyak melalui Selat Hormuz.

Meski demikian, Aramco menyatakan tingkat keandalan pasokannya tetap mencapai 98,4% sepanjang kuartal II 2026, di tengah ketidakpastian geopolitik yang masih berlangsung di kawasan.

Sejak perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran memicu salah satu gangguan terbesar dalam sejarah pasar energi, Aramco meningkatkan ekspor minyak melalui East-West Pipeline menuju pelabuhan Yanbu di Laut Merah. Jalur tersebut sebelumnya disebut Nasser sebagai jalur penyelamat yang sangat penting bagi ekspor minyak Arab Saudi.

Namun kini, jalur alternatif tersebut beserta terminal ekspor Arab Saudi di Laut Merah juga mulai menghadapi ancaman.

Pada Juli lalu, pasukan Houthi mengumumkan blokade terhadap industri minyak Arab Saudi di Laut Merah. Langkah itu memperluas gangguan distribusi ke jalur pelayaran strategis kedua dan mendorong harga minyak dunia kembali meningkat.




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×