Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memperingatkan negara-negara yang masih mempertahankan hubungan bisnis dengan Iran agar segera menghentikan aktivitas tersebut. Washington mengancam akan menjatuhkan sanksi sekunder terhadap pihak yang tetap terlibat dalam jaringan ekonomi Iran.
Peringatan tersebut disampaikan ketika perang antara AS dan Iran mendekati enam bulan. Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyebut Washington tengah melancarkan tekanan ekonomi besar-besaran untuk memutus hubungan keuangan Iran dengan dunia internasional.
Namun, Departemen Keuangan AS belum secara langsung menjatuhkan sanksi sekunder terhadap negara tertentu. Pemerintah AS juga belum mengungkap negara mana yang menjadi sasaran maupun kapan sanksi tersebut akan diberlakukan.
Pada Senin (24/8/2026), Departemen Keuangan AS mengumumkan sanksi baru terhadap 60 individu, entitas, dan kapal. Namun, daftar tersebut belum mencakup lembaga keuangan China yang diduga membantu perdagangan minyak Iran.
Baca Juga: Iran Bersumpah Balas Tekanan Ekonomi AS, Harga Minyak Jadi Perhatian
"Kenapa saya ingin menghancurkan sistem keuangan global? Kami percaya penting untuk menyamakan pemahaman dan memberikan masa tenggang, tetapi mereka harus tahu bahwa langkah itu akan bergerak sangat cepat dan kami serius," ujar Bessent dalam konferensi pers.
China Jadi Perhatian Utama AS
China menjadi salah satu pihak yang paling diperhatikan Washington karena selama beberapa tahun terakhir menjadi pembeli terbesar minyak Iran.
AS telah meningkatkan tekanan untuk membatasi pembelian minyak Iran oleh perusahaan-perusahaan China. Namun, hingga kini Washington masih menahan diri untuk menjatuhkan sanksi terhadap bank-bank China yang terlibat dalam transaksi tersebut.
Ketika ditanya apakah Departemen Keuangan AS kini siap mengambil tindakan terhadap bank China, Bessent menegaskan bahwa tidak ada negara yang berada di luar jangkauan sanksi AS.
"Jika mereka memfasilitasi transaksi dan menjadi bagian dari ekosistem yang mengubah minyak Iran menjadi uang, menjadi alat penindasan, mereka akan menjadi sasaran," kata Bessent.
Ancaman tersebut berpotensi meningkatkan ketegangan hubungan AS-China. Terlebih, Trump dan Presiden China Xi Jinping dijadwalkan bertemu di Washington pada akhir September.
Sanksi baru terhadap bank-bank China dapat mengganggu prospek perpanjangan kesepakatan yang dicapai pada November tahun lalu. Kesepakatan tersebut antara lain mengatur kelancaran pasokan logam tanah jarang China serta pembatasan tarif AS.
Langkah terbaru Washington juga menyasar sejumlah perusahaan di China, Uni Emirat Arab, Singapura dan beberapa negara lainnya. Salah satu entitas yang terkena tindakan merupakan perusahaan kilang minyak nabati di Prancis.
Sanksi Diperluas ke Lima Sektor Ekonomi Iran
Bessent mengatakan pemerintahan Trump memperluas cakupan aktivitas komersial yang dapat dikenai sanksi sekunder.
Setidaknya terdapat lima sektor ekonomi Iran yang menjadi perhatian, yakni aset digital, emas, teknologi, penerbangan, dan pelayaran.
Bessent juga mengatakan dirinya telah memberikan gambaran mengenai rencana pengumuman besar terkait sanksi terhadap sebuah lembaga keuangan pada akhir pekan ini. Namun, juru bicara Departemen Keuangan AS belum memberikan keterangan lebih lanjut mengenai rencana tersebut.
Langkah itu menjadi bagian dari kampanye tekanan ekonomi AS terhadap Iran yang telah berlangsung selama beberapa dekade.
Daniel Fried, mantan koordinator sanksi di Departemen Luar Negeri AS yang kini berada di Atlantic Council, menilai pengumuman terbaru Washington belum sebesar yang sebelumnya digembar-gemborkan.
Baca Juga: Drone Ketiga dan Bahan Peledak Ditemukan di Dekat Bandara Leipzig, Jerman
"Pengumuman ini tidak memenuhi ekspektasi yang dibangun sebelumnya," ujar Fried.
Meski demikian, menurut dia, tekanan ekonomi masih lebih baik dibandingkan kembali memulai konflik militer.
Fried menilai kampanye tekanan terhadap Iran membutuhkan waktu untuk memberikan dampak. Washington juga kemungkinan harus melakukan sejumlah kompromi untuk mendapatkan kerja sama dari negara-negara lain.
"Anda harus membuat negara-negara Teluk setuju, dan Anda harus mendengarkan apa yang mereka inginkan, serta harus tetap konsisten," kata Fried.
Perang Iran Tekan Harga Energi Global
Perang AS dengan Iran telah mendorong kenaikan harga energi di berbagai negara. Konflik tersebut kini mendekati enam bulan, sementara pertempuran besar telah mereda.
Upaya diplomatik untuk mengakhiri perang masih menemui jalan buntu. Pada saat yang sama, pengiriman minyak dan bahan baku melalui Selat Hormuz masih terhambat sehingga harga energi global tetap berada pada level tinggi.
Tekanan ekonomi dan meningkatnya biaya energi juga menjadi tantangan politik bagi pemerintahan Trump. Dalam survei Reuters/Ipsos terbaru, tingkat persetujuan terhadap kinerja Trump turun menjadi 33%.
Trump tetap berpendapat bahwa dampak ekonomi tersebut diperlukan untuk memastikan Iran tidak memiliki senjata nuklir.
AS Perketat Sanksi terhadap Minyak Iran
Amerika Serikat telah menerapkan sanksi terhadap Iran selama puluhan tahun. Sebagian besar kebijakan tersebut diarahkan untuk membatasi pendapatan minyak Iran, menghambat pengadaan komponen senjata, serta memutus pendanaan terhadap perusahaan yang dikendalikan Korps Garda Revolusi Islam Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC).
Sanksi AS melarang entitas yang masuk daftar hitam mengakses sistem keuangan berbasis dolar AS. Namun, Iran selama ini mampu beradaptasi dengan cepat melalui pembentukan perusahaan baru, entitas perantara, serta registrasi kapal baru untuk menghindari sanksi.
Departemen Keuangan AS juga baru-baru ini menjatuhkan sanksi terhadap kilang independen China yang dikenal sebagai "teapot refinery" karena membeli minyak Iran.
Washington turut memperluas sanksi terhadap "shadow fleet" atau armada kapal tanker yang digunakan untuk mengangkut minyak Iran.
Meski telah menghadapi sanksi AS selama puluhan tahun, Iran masih mampu bertahan. Namun, blokade laut yang diberlakukan AS telah memberikan tekanan ekonomi yang jauh lebih besar terhadap negara tersebut.
Reuters sebelumnya melaporkan bahwa tekanan tersebut telah mengurangi minat pembeli China untuk membeli minyak mentah Iran. Kondisi ini berpotensi mengurangi dampak apabila AS nantinya benar-benar menerapkan sanksi sekunder terhadap China.
Baca Juga: Prancis dan Arab Saudi Sepakat Bangun Taman Hiburan Dragon Ball Z Senilai US$7 Miliar
Pada awal Agustus, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan Amerika Serikat dapat mempertahankan blokade laut terhadap Iran tanpa batas waktu. Jika berlangsung lama, kondisi tersebut berpotensi menjaga harga minyak tetap tinggi dan meningkatkan tekanan terhadap konsumen AS menjelang pemilihan kongres pada November.
Lebih dari 1.000 Individu dan Entitas Iran Disanksi
Data Departemen Keuangan AS menunjukkan bahwa Washington telah menjatuhkan sanksi terkait Iran terhadap lebih dari 1.000 individu, kapal, dan pesawat sejak Trump memulai periode kedua kepresidenannya pada 2025.
Sejumlah kebijakan terbaru menyasar armada minyak Iran yang beroperasi secara tersembunyi, perusahaan asuransi pelayaran, jaringan pengadaan senjata, serta bursa aset digital.
AS juga memperkirakan telah membekukan sekitar US$500 miliar aset kripto yang terkait dengan Iran.
Dalam pernyataannya, Bessent secara khusus menyoroti Bank Melli Iran yang masih memiliki sejumlah cabang di Eropa, Timur Tengah, dan Asia.
"Setiap cabang Bank Melli harus ditutup dan dibuat tidak beroperasi," tegas Bessent.
Ancaman sanksi sekunder tersebut menunjukkan bahwa pemerintahan Trump berupaya memperluas tekanan terhadap jaringan perdagangan dan keuangan Iran, termasuk pihak ketiga yang membantu negara tersebut mempertahankan aliran pendapatan dari ekspor minyak.
Jika Washington benar-benar menerapkan sanksi terhadap lembaga keuangan China, langkah tersebut berpotensi memperbesar tekanan terhadap perdagangan minyak Iran sekaligus meningkatkan risiko ketegangan baru dalam hubungan AS-China.














