Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli
Penangkapan Maduro oleh pasukan khusus AS memicu kecaman luas dari China, Rusia, dan sekutu kiri Venezuela. Operasi ini disebut sebagai intervensi terbesar AS di Amerika Latin sejak invasi Panama pada 1989.
Rincian operasi masih terbatas. Venezuela belum mengumumkan angka korban secara resmi, namun militer setempat menyebut 23 personel tewas, sementara Kuba melaporkan 32 anggota militernya gugur.
Maduro, 63 tahun, yang memimpin Venezuela sejak 2013, mengaku tidak bersalah atas dakwaan narkotika di pengadilan Manhattan. Ia dihadirkan dengan belenggu kaki dan mengenakan seragam tahanan.
Baca Juga: Harga Minyak Naik Seiring Meningkatnya Tindakan AS Terhadap Kapal Tanker Venezuela
AS saat ini menekankan pemulihan sektor minyak Venezuela dengan dukungan perusahaan AS, ketimbang mendorong pembebasan tahanan politik atau pemilu baru.
Tokoh oposisi utama Maria Corina Machado menyatakan ingin kembali ke Venezuela dan meyakini oposisi akan menang dalam pemilu yang bebas, namun tetap berhati-hati agar tidak berseberangan dengan Trump.
Sementara itu, Washington memperingatkan para pejabat tinggi Venezuela agar bekerja sama atau berisiko menghadapi nasib serupa Maduro.
Menteri Dalam Negeri Diosdado Cabello dan Presiden sementara Delcy Rodriguez yang aset keuangannya disebut menjadi alat tekan AS menjadi sorotan utama dalam dinamika politik dan diplomatik yang kian memanas.













