kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.664.000   -6.000   -0,22%
  • USD/IDR 17.738   -15,00   -0,08%
  • IDX 6.582   56,22   0,86%
  • KOMPAS100 861   9,01   1,06%
  • LQ45 652   7,68   1,19%
  • ISSI 230   1,56   0,68%
  • IDX30 365   4,26   1,18%
  • IDXHIDIV20 449   5,78   1,31%
  • IDX80 98   1,03   1,07%
  • IDXV30 124   0,47   0,38%
  • IDXQ30 116   1,50   1,30%

AS Bikin Para Menteri G20 Kesal Setelah Izinkan Rusia Kembali Bergabung


Selasa, 01 September 2026 / 09:48 WIB
AS Bikin Para Menteri G20 Kesal Setelah Izinkan Rusia Kembali Bergabung
ILUSTRASI. Amerika Serikat (AS) menghadapi kritik dari sejumlah pemimpin keuangan negara-negara G20 setelah kembali mengundang Rusia dalam pertemuan G20  (REUTERS/Sam Wolfe)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - ASHEVILLE. Amerika Serikat (AS) menghadapi kritik dari sejumlah pemimpin keuangan negara-negara G20 setelah kembali mengundang Rusia dalam pertemuan G20 di Asheville, North Carolina, Senin (31/8/2026). Kehadiran Rusia di forum tersebut dinilai mengganggu upaya AS untuk memusatkan pembahasan pada pertumbuhan ekonomi global.

Pertemuan yang berlangsung selama dua hari itu digelar ketika perekonomian global menghadapi sejumlah tekanan. Ekonomi dunia dibayangi guncangan energi akibat perang Iran, meningkatnya ketegangan terkait surplus perdagangan barang China yang sangat besar, serta ketidakpastian mengenai dampak jangka panjang lonjakan investasi di sektor kecerdasan buatan (AI).

Saat Menteri Keuangan AS Scott Bessent membuka pertemuan, sejumlah menteri keuangan terkejut sekaligus kecewa melihat Menteri Keuangan Rusia Anton Siluanov duduk di meja G20.

Kehadiran tersebut menjadi momen penting karena merupakan pertama kalinya Siluanov menghadiri forum G20 secara langsung sejak Rusia menginvasi Ukraina pada 2022.

Menteri Keuangan Polandia Andrzej Domanski mengatakan kepada Reuters bahwa dirinya tidak senang melihat Rusia diwakili dalam pertemuan tersebut. Namun, ia mengakui bahwa negara tuan rumah G20 memiliki hak untuk mengundang pihak tertentu sebagai tamu.

Polandia Soroti Kehadiran Rusia

"Kami tidak mempercayai Rusia. Mereka terus-menerus berbohong dan Anda harus benar-benar sangat berhati-hati ketika berdiskusi dengan mereka," kata Domanski kepada Reuters.

Ia menegaskan bahwa Rusia merupakan pihak agresor dalam konflik dengan Ukraina.

"Jadi bagi saya, akan sangat sulit untuk melakukan percakapan apa pun dengan Rusia," ujarnya.

Baca Juga: Yield US Treasury Tembus Level Tertinggi 19 Bulan, Konflik AS-Iran Jadi Pemicu

Di sisi lain, Siluanov menggelar pertemuan bilateral dengan Bessent. Kementerian Keuangan Rusia mengatakan pertemuan tersebut membahas kerja sama keuangan dalam kerangka G20.

Namun, pejabat AS menyebut fokus pertemuan tersebut adalah rencana perdamaian Presiden Donald Trump untuk Ukraina. Sumber yang mengetahui pembicaraan tersebut mengatakan Bessent menyampaikan kepada Siluanov bahwa tidak akan ada keringanan ekonomi bagi Rusia maupun kesepakatan mengenai isu lainnya hingga perang berakhir.

Menteri Keuangan Jerman Lars Klingbeil mengatakan Eropa tengah mempersiapkan paket sanksi tambahan terhadap Rusia. Menurut dia, kehadiran Siluanov di Asheville memberikan sinyal yang "cukup mengkhawatirkan" mengenai kerja sama AS dengan upaya tersebut.

"Saya menginginkan kejelasan yang lebih besar dari pihak Amerika bahwa dia tidak seharusnya diterima di sini sebagai tamu biasa," kata Klingbeil.

Para pejabat Eropa juga menyatakan keberatan untuk tampil dalam foto bersama tradisional para menteri keuangan dan gubernur bank sentral G20. Pada akhirnya, foto bersama tersebut diambil tanpa kehadiran Siluanov.

Kehadiran Rusia kali ini sangat berbeda dibandingkan April 2022. Saat itu, partisipasi Siluanov secara virtual dalam pertemuan G20 di Washington mendapat kecaman luas terkait invasi Rusia ke Ukraina. Sejumlah pejabat dari AS, Inggris, Kanada, dan Bank Sentral Eropa bahkan meninggalkan pertemuan.

AS Dorong Fokus pada Pertumbuhan Ekonomi Global

Di tengah perbedaan pandangan terkait Rusia, Bessent berupaya mengarahkan pembahasan G20 pada pertumbuhan ekonomi global.

Menurut Bessent, pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat merupakan jalan terbaik untuk mengatasi beban utang yang menumpuk sejak krisis keuangan global 2008 dan pandemi Covid-19.

Utang global pada awal tahun ini mencapai rekor hampir US$353 triliun. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran terhadap stabilitas keuangan dan mendorong sebagian investor untuk kembali mengevaluasi aset yang selama ini dianggap sebagai tempat berlindung yang aman, termasuk surat utang pemerintah AS atau US Treasury.

"Dunia dipenuhi utang setelah krisis keuangan global dan setelah Covid-19, dan satu-satunya cara bagi kita untuk keluar dari kondisi ini adalah dengan menumbuhkan ekonomi," kata Bessent saat membuka pertemuan.

"Saya yakin banyak pemimpin sangat menerima gagasan ini," tambahnya.

Departemen Keuangan AS juga mengambil langkah yang tidak biasa dengan mengundang sejumlah tokoh dari sektor swasta untuk berpartisipasi dalam beberapa sesi G20 yang membahas penguatan pertumbuhan ekonomi.

Langkah tersebut mencerminkan pandangan pemerintahan Trump bahwa pertumbuhan ekonomi dapat didorong melalui deregulasi, peningkatan produksi energi, serta pengembangan inovasi.

Baca Juga: Ekspansi Manufaktur Malaysia Melambat, PMI Manufaktur Malaysia Turun ke 50,2

Dalam salah satu sesi, Bessent mengatakan pertumbuhan ekonomi global telah berada di bawah potensinya selama terlalu lama. Menurut dia, kondisi tersebut tidak lagi dapat disebabkan oleh "kegagalan kebijakan yang kita buat sendiri."

Bessent mengatakan Departemen Keuangan AS telah mengidentifikasi sejumlah hambatan terhadap pertumbuhan yang perlu ditangani negara-negara G20.

Hambatan tersebut meliputi "beban regulasi dan administrasi yang berlebihan, insentif keuangan dan sistem perpajakan yang dirancang dengan buruk, investasi publik dan swasta yang tidak mencukupi, fragmentasi pasar internal, serta kesenjangan keterampilan dan mobilitas tenaga kerja."

Akses Jurnalis Juga Dipersoalkan

Selain kehadiran Rusia, keputusan Departemen Keuangan AS untuk menolak akreditasi sejumlah jurnalis yang hendak meliput pertemuan G20 juga menuai kritik.

Beberapa jurnalis dari Bloomberg News serta reporter tertentu dari The New York Times dan The Wall Street Journal disebut tidak mendapatkan akses untuk meliput pertemuan tersebut.

"Saya percaya pers memiliki kepentingan yang sepenuhnya sah untuk melaporkan secara terbuka dan bebas mengenai KTT G20 ini," kata Klingbeil.

"Saya menganggap tidak dapat diterima jika jurnalis atau seluruh tim editorial dikecualikan," ujarnya.

Juru bicara Departemen Keuangan AS mengatakan lebih dari 300 media meliput acara tersebut, termasuk reporter lain dari The New York Times. Menurut dia, akses peliputan disertai dengan "tanggung jawab untuk melaporkan informasi faktual yang sesuai dengan standar jurnalistik yang telah ditetapkan."

Sementara itu, Ketua Federal Reserve AS Kevin Warsh, yang menghadiri pertemuan kebijakan ekonomi internasional pertamanya sejak menjabat pada Mei 2026, mengatakan dirinya ingin mempelajari lebih jauh prospek pertumbuhan ekonomi negara-negara anggota G20.

Warsh menilai era "stagnasi sekuler" yang ditandai dengan minimnya inovasi tampaknya telah berakhir seiring dengan lonjakan investasi AI.

"Jika saya harus menggambarkan momen ini, saya akan menyebutnya sebagai lonjakan investasi global," kata Warsh.

Menurut dia, kondisi tersebut telah membalikkan fenomena "kelebihan tabungan global" yang sebelumnya membuat modal menganggur karena minimnya peluang investasi.

AS Klaim Tak Ada Gejolak di Pasar Utang

Bessent juga menyoroti kuatnya pertumbuhan ekonomi AS. Pertumbuhan tersebut antara lain ditopang investasi pada infrastruktur AI yang turut mendorong kenaikan imbal hasil US Treasury karena menyerap tabungan yang sebelumnya mengalir ke surat utang pemerintah AS dan membantu menekan biaya pinjaman.

Menjelang pertemuan G20, Bessent berupaya meredam kekhawatiran pasar terhadap tingginya tingkat utang AS.

Ia menilai posisi AS masih lebih kuat dibandingkan banyak negara maju lainnya karena ekonomi AS terus tumbuh meskipun pemerintah mencatat defisit anggaran yang besar.

"Pertama-tama, saya tidak yakin di mana gejolak pasar obligasi itu berada," kata Bessent kepada Reuters dalam wawancara pada Minggu (30/8/2026).

"Yang juga penting adalah bahwa kita terus tumbuh," tambahnya.

Baca Juga: Meksiko Diguncang Bom Mobil dan Drone, Kekerasan Kartel Kian Mengkhawatirkan

Pada Selasa (1/9/2026), AS akan mengarahkan pembahasan G20 pada upaya mengurangi ketidakseimbangan perdagangan global.

Bessent mengatakan dirinya akan mendorong negara-negara anggota G20 untuk mengevaluasi kembali hubungan perdagangan mereka dengan China. Langkah tersebut ditujukan untuk menekan Beijing agar menyeimbangkan kembali perekonomiannya, dari ketergantungan terhadap ekspor menuju konsumsi domestik.

"Dunia tidak dapat memiliki China dengan surplus perdagangan sebesar US$1,2 triliun," kata Bessent kepada Reuters.

"Di China, perekonomiannya cukup lemah dan mereka berusaha mengekspor jalan keluar dari masalah tersebut. Mereka perlu menyeimbangkan kembali perekonomian mereka," ujarnya.

Para ekonom menilai AS juga perlu mengurangi defisit fiskal yang terus membesar sebagai bagian dari upaya menyeimbangkan kembali perekonomian global.

"Kita membutuhkan dunia yang lebih seimbang," kata Menteri Keuangan Prancis Roland Lescure.

"Kita tahu bahwa setiap kawasan besar, baik China, AS maupun Eropa, memiliki pekerjaan rumah masing-masing yang harus diselesaikan," ujarnya.




TERBARU

[X]
×