Reporter: Harris Hadinata | Editor: Harris Hadinata
KONTAN.CO.ID - KUALA LUMPUR. Kinerja sektor manufaktur Malaysia kehilangan momentum pada Agustus 2026. Pertumbuhan pesanan baru melambat, diikuti moderasi produksi. Namun, pasar tenaga kerja mulai menunjukkan perbaikan dan tekanan inflasi di sektor manufaktur terus mereda.
Menurut pengumuman S&P Global, Selasa (1/9/2026), Purchasing Managers' Index (PMI) sektor Manufaktur Malaysia periode Agustus 2026 turun menjadi 50,2 dari 50,7 pada Juli dan Juni. Meski turun, indeks masih berada di atas level netral 50,0 yang memisahkan ekspansi dan kontraksi.
Dengan demikian, sektor manufaktur Malaysia mencatat perbaikan kondisi bisnis selama tiga bulan berturut-turut. Namun, level 50,2 merupakan perbaikan paling lemah dalam rangkaian tersebut.
Perlambatan terutama terlihat dari sisi produksi. Setelah mencatat ekspansi moderat dalam dua bulan berturut-turut, produksi manufaktur kembali melambat pada Agustus. Laju perlambatan berada pada tingkat moderat dan menjadi yang tercepat sejak Februari.
Perusahaan yang disurvei mengaitkan pelemahan produksi dengan pertumbuhan pesanan baru yang lebih lambat, kekurangan material serta kondisi ekonomi yang masih menantang.
Baca Juga: Meksiko Diguncang Bom Mobil dan Drone, Kekerasan Kartel Kian Mengkhawatirkan
Pesanan baru sendiri masih tumbuh untuk bulan ketiga berturut-turut. Namun, pertumbuhannya hanya marginal dan menjadi yang terlemah dalam rangkaian pertumbuhan tersebut. Perlambatan pesanan baru disebut sejalan dengan faktor-faktor yang menekan produksi.
Meski permintaan masih terbatas, terdapat perbaikan di pasar tenaga kerja. Jumlah pekerja di sektor manufaktur meningkat pada Agustus untuk pertama kalinya dalam empat bulan.
Produsen menambah pekerja penuh waktu maupun paruh waktu, meski laju penciptaan lapangan kerja masih moderat. “Di tengah kondisi permintaan yang lesu, produsen menunjukkan tren operasional yang beragam,” kata Maryam Baluch, Ekonom S&P Global Market Intelligence, dalam rilis pers, Selasa (1/9/2026).
Penambahan tenaga kerja tersebut terjadi ketika perusahaan masih memiliki kapasitas yang cukup. Ini tercermin dari penurunan backlog pekerjaan untuk bulan kedua berturut-turut. Meski demikian, laju pengurangan backlog hanya marginal.
Berbeda dengan perekrutan yang mulai meningkat, aktivitas pembelian perusahaan justru menurun. Aktivitas pembelian turun untuk pertama kalinya dalam lima bulan pada Agustus, meski penurunannya masih moderat.
Baca Juga: Defisit Transaksi Berjalan Australia Melebar Jadi A$27,2 Miliar pada Kuartal II 2026
Sejumlah produsen menyebut kondisi pasar yang lemah, harga bahan baku yang masih tinggi serta persediaan yang mencukupi sebagai alasan untuk mengurangi pembelian.
Perusahaan kemudian menggunakan persediaan yang sudah ada untuk memenuhi pertumbuhan pesanan baru. Akibatnya, baik persediaan bahan baku maupun barang jadi mengalami penurunan pada Agustus.
Persediaan input turun setelah sempat mengalami akumulasi marginal selama dua bulan sebelumnya. Sementara itu, stok barang jadi juga berkurang karena perusahaan melakukan penyesuaian terhadap kebutuhan produksi.
Di sisi pasokan, produsen Malaysia masih menghadapi waktu pengiriman input yang lebih panjang. Cuaca buruk, rendahnya ketersediaan stok serta kemacetan di pelabuhan menjadi faktor utama keterlambatan.
Namun, tingkat gangguan pasokan relatif ringan dan menjadi yang paling rendah dalam tujuh bulan.
Baca Juga: Korea Selatan Usulkan Anggaran 2027 Capai US$599 Miliar, Semikonduktor Jadi Prioritas
Kabar positif datang dari sisi harga. Inflasi biaya input maupun harga output sama-sama melandai pada Agustus.
Keduanya masih mengalami kenaikan secara moderat, tetapi laju kenaikannya merupakan yang terlemah dalam enam bulan dan secara historis tergolong rendah.
Produsen yang menaikkan harga menyebut kenaikan biaya bahan bakar dan bahan baku sebagai faktor utama. Sebagian perusahaan kemudian meneruskan kenaikan biaya tersebut kepada pelanggan.
Meredanya tekanan harga berpotensi memberikan ruang bagi produsen untuk menopang permintaan. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang dapat membantu pemulihan produksi apabila permintaan membaik.
Untuk periode 12 bulan mendatang, produsen manufaktur Malaysia masih memperkirakan produksi akan meningkat. Namun, tingkat optimisme dunia usaha tetap lemah secara historis dan relatif tidak berubah dibandingkan Juli.
Baca Juga: Trump Rebut Kendali Minyak Venezuela, AS Singkirkan Pengaruh China-Rusia
Baluch menilai kondisi manufaktur Malaysia kemungkinan masih menghadapi tantangan dalam setahun ke depan. Meski demikian, meredanya tekanan harga dapat memberikan ruang bagi perusahaan untuk mendukung pertumbuhan permintaan.
“Ke depan, tingkat keyakinan masih rendah, menunjukkan bahwa kondisi yang menantang saat ini kemungkinan akan berlanjut sepanjang tahun mendatang,” ujar Baluch.
S&P Global mencatat, berdasarkan hubungan historis antara PMI dan data resmi, pertumbuhan PDB serta output manufaktur Malaysia diperkirakan membaik pada kuartal III-2026.
Dengan demikian, data Agustus memberikan gambaran pemulihan yang belum sepenuhnya solid. PMI masih berada di atas level 50, tetapi hanya tipis. Di sisi lain, perlambatan pesanan dan produksi dibarengi dengan perbaikan tenaga kerja serta tekanan harga yang semakin rendah.














