kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.668.000   -5.000   -0,19%
  • USD/IDR 17.822   -47,00   -0,26%
  • IDX 6.177   4,80   0,08%
  • KOMPAS100 808   -9,54   -1,17%
  • LQ45 609   -7,52   -1,22%
  • ISSI 213   1,66   0,79%
  • IDX30 345   -4,23   -1,21%
  • IDXHIDIV20 421   -5,17   -1,21%
  • IDX80 92   -1,32   -1,42%
  • IDXV30 113   -1,72   -1,50%
  • IDXQ30 110   -1,54   -1,38%

AS-Iran Mulai Negosiasi di Swiss, Konflik Lebanon Masih Jadi Ganjalan


Minggu, 21 Juni 2026 / 14:53 WIB
AS-Iran Mulai Negosiasi di Swiss, Konflik Lebanon Masih Jadi Ganjalan
ILUSTRASI. Wakil Presiden AS JD Vance tiba di Swiss untuk negosiasi damai Iran. Namun, ancaman penutupan Selat Hormuz picu kekhawatiran baru. (via REUTERS/Matt Rourke)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - ZURICH/DUBAI/WASHINGTON. Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance, tiba di Swiss pada Minggu (21/6/2026) untuk mengikuti perundingan damai dengan Iran.

Pertemuan ini menjadi langkah penting dalam upaya kedua negara mengakhiri konflik yang telah berlangsung hampir empat bulan, meski masih terdapat perbedaan pandangan terkait status Selat Hormuz yang strategis bagi perdagangan energi dunia.

Amerika Serikat dan Iran sebelumnya telah menyepakati gencatan senjata selama 60 hari guna mendukung proses negosiasi. Namun, situasi menjadi lebih rumit setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) pada Sabtu (20/6/2026) menyatakan Selat Hormuz ditutup sebagai respons terhadap serangan Israel di Lebanon.

Meski demikian, militer AS menyebut aktivitas pelayaran komersial di jalur tersebut masih terus berlangsung.

Perkembangan tersebut berpotensi mempersulit pembahasan mengenai kesepakatan sementara yang dimediasi Pakistan dan ditandatangani Presiden Donald Trump serta Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada Rabu lalu. Kesepakatan itu bertujuan mengakhiri perang yang telah berlangsung hampir empat bulan.

JD Vance Optimistis Ada Kemajuan

JD Vance bersama istrinya, Usha Vance, tiba di Pangkalan Udara Emmen, Swiss, pada Minggu pagi waktu setempat.

Sebelum keberangkatannya dari Maryland, Vance menyampaikan optimisme terhadap hasil perundingan. "Saya berharap kami dapat mencapai kemajuan dalam isu nuklir dan juga kemajuan terkait gencatan senjata di Lebanon," kata Vance kepada wartawan.

Ia menambahkan bahwa perundingan kemungkinan akan berlangsung selama beberapa hari.

Baca Juga: SpaceX Raih Peringkat Utang Investment Grade, Prospek Stabil di Tengah Ekspansi AI

Iran Klaim Selat Hormuz Ditutup

IRGC menuduh Israel melakukan "kejahatan" di Lebanon yang dianggap melanggar komitmen Amerika Serikat dalam kesepakatan gencatan senjata. Iran juga memperingatkan bahwa kapal-kapal yang mendekati Selat Hormuz akan menghadapi risiko keamanan.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran energi paling penting di dunia. Sebelum pecahnya konflik pada 28 Februari lalu, sekitar seperlima pasokan minyak global melewati wilayah tersebut.

Meski demikian, Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) melaporkan sebanyak 55 kapal dagang melintasi Selat Hormuz pada Sabtu dengan membawa lebih dari 17 juta barel minyak menuju pasar global.

CENTCOM menegaskan pasukan AS akan memastikan lalu lintas perdagangan internasional tetap berjalan.

Trump: Tidak Ada Tarif Selama Gencatan Senjata

Presiden Donald Trump menyatakan tidak akan ada pungutan atau tarif bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz selama masa gencatan senjata maupun setelahnya.

Namun, Trump membuka kemungkinan pemberlakuan biaya transit apabila perundingan damai gagal mencapai hasil.

Dalam unggahan media sosialnya, Trump menyebut Amerika Serikat dapat mengenakan tarif sebagai kompensasi atas perannya sebagai "malaikat penjaga" bagi negara-negara di Timur Tengah.

Perbedaan Sikap di Dalam Iran

Penasihat Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, yaitu Mohammad Mokhber, menuduh Amerika Serikat belum menjalankan poin pertama dari 14 butir kesepakatan yang telah disepakati kedua negara.

Menurutnya, kesepakatan gencatan senjata harus berlaku di seluruh front konflik, termasuk di Lebanon. "Selama perjanjian itu hanya berada di atas kertas, aliran energi dari Timur Tengah akan tetap terhenti," ujar Mokhber.

Di sisi lain, Menteri Perminyakan Iran Mohsen Paknejad menunjukkan nada yang lebih positif. Ia menyatakan bahwa apabila negara-negara Barat mematuhi semangat perjanjian tersebut, Iran siap membuka ratusan peluang investasi dan berbagai skema kontrak baru di sektor energi.

Baca Juga: AS Bantah Klaim Iran Tentang Penutupan Selat Hormuz

Delegasi Tingkat Tinggi Hadir di Swiss

Delegasi Iran dalam perundingan di resor pegunungan Buergenstock dipimpin Ketua Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf. Rombongan juga mencakup Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi serta sejumlah pejabat senior bidang keamanan, perbankan sentral, dan energi.

Sementara itu, tim negosiasi Amerika Serikat selain dipimpin JD Vance juga melibatkan utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner, menantu Presiden Trump.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menegaskan Teheran akan terus menuntut implementasi penuh seluruh komitmen yang telah disepakati, mengingat pengalaman masa lalu ketika sejumlah perjanjian tidak dijalankan oleh pihak lain.

Pakistan, yang berperan sebagai mediator utama, juga mengirim Perdana Menteri Shehbaz Sharif dan Panglima Angkatan Darat Jenderal Syed Asim Munir untuk menghadiri sesi perundingan akhir pekan ini.

Konflik Lebanon Masih Membayangi

Meski gencatan senjata telah diberlakukan, bentrokan antara Israel dan kelompok Hezbollah yang didukung Iran masih terjadi.

Pejabat pertahanan sipil Lebanon melaporkan serangan Israel pada Sabtu menewaskan sedikitnya 20 orang, hanya beberapa jam setelah gencatan senjata mulai berlaku.

Israel menyatakan serangan tersebut merupakan respons atas aksi Hezbollah. Sementara Hezbollah menegaskan tidak akan memberikan "kebebasan bergerak" kepada Israel di wilayah Lebanon.

Pemerintah Israel juga menegaskan bahwa mereka bukan bagian dari kesepakatan Iran-AS dan akan tetap mempertahankan pasukannya di wilayah Lebanon yang saat ini diduduki.

Militer Israel dalam pernyataannya menyebut tetap berkomitmen terhadap gencatan senjata, namun akan bertindak terhadap setiap ancaman yang muncul.

Baca Juga: PM Inggris Dikabarkan Siap Mundur, Sumber: Starmer Masih Fokus pada Pekerjaannya

Mayoritas Warga Israel Nilai Iran Lebih Diuntungkan

Sebuah jajak pendapat yang dilakukan Universitas Hebrew Israel menunjukkan mayoritas warga Israel menilai Iran memperoleh keuntungan lebih besar dibandingkan Israel dari kampanye militer gabungan Israel-AS.

Sebanyak 92% responden berpendapat Iran lebih diuntungkan dari konflik tersebut, sementara hanya 8% yang menilai Israel keluar sebagai pemenang.

Survei yang sama juga menunjukkan hampir 90% warga Israel menilai tujuan perang belum tercapai. Kurang dari 30% responden percaya terhadap klaim Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengenai pencapaian besar dalam konflik tersebut.

Dampak terhadap Pasar Energi Global

Perundingan damai di Swiss menjadi perhatian dunia karena hasilnya akan menentukan stabilitas kawasan Timur Tengah sekaligus masa depan pasokan energi global.

Status Selat Hormuz menjadi faktor krusial karena jalur tersebut merupakan pintu utama distribusi minyak dari negara-negara Teluk ke pasar internasional. Setiap gangguan terhadap arus pelayaran di wilayah ini berpotensi memicu lonjakan harga minyak dunia dan meningkatkan ketidakpastian ekonomi global.

Dengan masih berlangsungnya ketegangan di Lebanon serta perbedaan interpretasi atas implementasi kesepakatan damai, perundingan antara Amerika Serikat dan Iran diperkirakan akan berlangsung alot dalam beberapa hari ke depan.




TERBARU

[X]
×