Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance membatalkan rencana perjalanannya ke Swiss untuk bertemu negosiator Iran dalam rangka memulai pembicaraan teknis implementasi kesepakatan damai sementara antara Washington dan Teheran.
Pembatalan tersebut menambah ketidakpastian terhadap prospek perdamaian jangka panjang setelah berakhirnya perang yang berlangsung selama tiga bulan.
Baca Juga: Bursa Asia Berpesta Jumat (19/6), Nikkei dan KOSPI Sentuh Rekor Tertinggi
Melansir Reuters, Juru bicara Gedung Putih pada Kamis (18/6/2026) menyatakan, delegasi AS sebenarnya telah siap berangkat ke Jenewa begitu jadwal pembicaraan disepakati.
Namun, kompleksitas logistik dan ketidakpastian diplomatik membuat kunjungan tersebut akhirnya dibatalkan.
"Logistik negosiasi ini memang tidak pernah sederhana atau mudah diprediksi," demikian pernyataan Gedung Putih.
Sebelumnya, pejabat AS menyatakan kedua negara akan menggelar seremoni penandatanganan resmi kesepakatan damai di Jenewa.
Namun, Kementerian Luar Negeri Iran meragukan perlunya acara tersebut mengingat dokumen kesepakatan telah ditandatangani oleh Presiden Donald Trump dan pemimpin Iran pada Rabu (17/6).
Media semi-resmi Iran, Tasnim, melaporkan Teheran ingin melihat bukti implementasi kesepakatan dari pihak AS terlebih dahulu sebelum melanjutkan putaran perundingan berikutnya. Hingga kini, Iran juga belum mengonfirmasi apakah delegasinya akan berangkat ke Jenewa.
Baca Juga: Yen Nyaris Ambruk ke Level Terendah 40 Tahun Jumat (19/6), Jepang Siaga Intervensi
Implementasi Kesepakatan Masih Penuh Tantangan
Kesepakatan sementara yang dicapai kedua negara memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari dan memberikan waktu bagi para negosiator untuk menyelesaikan isu utama, yakni program nuklir Iran.
Dalam kesepakatan tersebut, dibentuk pula dana rekonstruksi senilai US$ 300 miliar untuk Iran beserta berbagai insentif ekonomi lainnya. Sebagai bagian dari proses negosiasi, AS juga berencana membahas pembatasan rudal jarak jauh milik Iran.
Namun, sejumlah pihak di Washington mempertanyakan konsesi yang diberikan pemerintahan Trump kepada Iran.
Beberapa anggota Partai Republik menilai AS telah mengalah terlalu banyak demi mengakhiri konflik yang tidak populer di mata publik Amerika.
Padahal, saat perang dimulai hampir empat bulan lalu, Trump menyatakan tujuannya adalah menghancurkan program nuklir Iran, menghentikan kemampuan militer Teheran mengancam negara tetangga, serta membatasi dukungannya terhadap kelompok-kelompok militan di Timur Tengah.
Meski demikian, kesepakatan yang ditandatangani justru memberikan pelonggaran sanksi ekonomi, membuka kembali akses terhadap aset Iran yang sebelumnya dibekukan, serta memungkinkan ekspor minyak Iran kembali berjalan.
Baca Juga: Damai AS-Iran Mulai Berlaku, Selat Hormuz Kembali Dibuka untuk Kapal Tanker
Iran Tegaskan Tak Akan Mudah Berkompromi
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei menyebut Trump menandatangani kesepakatan tersebut karena "keputusasaan". Ia juga memperingatkan bahwa negosiasi terkait program nuklir Iran tidak akan berjalan mudah.
"Jika pihak Amerika ingin terlalu banyak menuntut, kami tidak akan menerimanya," kata Khamenei dalam pernyataan tertulis.
Dalam kesepakatan tersebut, Iran kembali menegaskan posisinya bahwa negara itu tidak akan mengembangkan senjata nuklir.
Iran juga menyetujui pengenceran stok uranium yang diperkaya tinggi dan inspeksi oleh Badan Energi Atom Internasional (IAEA), namun menolak tuntutan AS untuk memindahkan material nuklir tersebut keluar dari wilayah Iran.
Pejabat AS optimistis negosiasi lanjutan masih dapat menghasilkan kesepakatan nuklir yang lebih kuat dibanding perjanjian tahun 2015 yang dibatalkan Trump pada masa jabatan pertamanya.
Namun para pengkritik menilai posisi Iran kini justru lebih kuat karena mampu bertahan dari tekanan militer, mempertahankan pengaruhnya di Selat Hormuz, dan memperoleh pelonggaran sanksi yang signifikan.
Baca Juga: Harga Minyak Turun Lagi Jumat (19/6): Brent ke US$ 78,31 & WTI ke US$ 76,14
Konflik Lebanon Bayangi Perdamaian
Ketahanan kesepakatan AS-Iran juga dibayangi konflik yang masih berlangsung di Lebanon. Israel, yang tidak terlibat dalam proses negosiasi, melanjutkan serangan terhadap kelompok Hizbullah yang didukung Iran.
Serangan udara terbaru Israel pada Kamis memunculkan pertanyaan mengenai seberapa jauh Washington mampu mendorong sekutunya menghentikan operasi militer di Lebanon.
Kesepakatan damai AS-Iran sebenarnya menyerukan penghentian permanen perang di Lebanon serta penghormatan terhadap kedaulatan negara tersebut.
Namun Israel menegaskan tidak berencana menarik pasukannya dan bahkan merilis peta baru yang menunjukkan perluasan zona pendudukan.
Presiden Trump sendiri menyatakan menginginkan gencatan senjata penuh di seluruh kawasan Timur Tengah dan meminta semua pihak menjaga komitmen terhadap proses perdamaian yang sedang berlangsung.













