Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Harga minyak mentah dunia menguat lebih dari 2% pada perdagangan Senin (31/8/2026), setelah aksi militer antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali terjadi. Kondisi ini memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan minyak global.
Melansir Reuters, harga minyak Brent berjangka naik US$ 2,37 atau 2,69% menjadi US$ 90,47 per barel pada pukul 10.54 EDT atau 21.54 WIB. Brent bahkan sempat menyentuh US$ 91,52 per barel, level tertinggi sejak 25 Agustus 2026.
Baca Juga: Ketua The Fed Warsh: Era Global Savings Glut Berakhir, Investasi Kini Melonjak
Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) AS naik US$ 2 atau 2,4% menjadi US$ 85,40 per barel.
Kenaikan harga minyak terjadi setelah pasukan AS menyerang dua peluncur rudal di Pulau Larak, Iran, yang berada di kawasan Selat Hormuz pada Minggu (30/8).
Serangan tersebut menjadi serangan AS pertama yang diketahui terhadap Iran sejak akhir Juli 2026 dan menandai berlanjutnya konflik yang kini memasuki bulan keenam.
Sebagai respons, Iran menyerang dua pangkalan udara AS di Yordania, menurut laporan media Iran yang mengutip Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
“Sejumlah barel minyak dari kawasan Teluk masih mengalir melalui selat tersebut sehingga membatasi kenaikan harga. Namun, pertukaran serangan militer langsung pertama dalam sebulan memaksa trader kembali memperhitungkan premi pasokan yang signifikan dalam jangka pendek,” kata analis Gelber & Associates dalam sebuah catatan.
Baca Juga: Liverpool Resmi Datangkan Bradley Barcola dari PSG Senilai £120 Juta
Selat Hormuz Jadi Sorotan
Pasar kini mencermati apakah eskalasi konflik AS-Iran akan mereda atau justru semakin meluas.
Presiden AS Donald Trump pada Minggu mengunggah pernyataan di media sosial yang menyebut pusat energi Iran di Pulau Kharg sedang “dihancurkan”. Namun, tidak terdapat bukti bahwa pulau tersebut menjadi sasaran serangan.
Unggahan Trump juga menyertakan video yang dibuat menggunakan kecerdasan buatan (AI). Iran membantah adanya serangan terhadap Pulau Kharg dan menyatakan aktivitas operasional minyak di wilayah tersebut masih berlangsung.
Sementara itu, mediator terus berupaya mencapai kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz.
Baca Juga: Decathlon akan Akuisisi 50% Sport 2000 France, Bidik Pasar Ski
Sebelum perang dimulai pada akhir Februari, sekitar seperlima pasokan minyak global melewati jalur strategis tersebut.
Namun, upaya diplomatik untuk membuka kembali jalur pelayaran tersebut masih menemui jalan buntu.
Data pelayaran menunjukkan jumlah kapal komoditas yang terlihat melintas di Selat Hormuz sepanjang akhir pekan turun menjadi sekitar lima kapal per hari.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan tujuan sanksi AS terhadap Iran adalah menciptakan kondisi yang mendorong Teheran kembali ke meja perundingan.
“Tujuannya adalah menciptakan kondisi agar mereka mau kembali ke meja perundingan,” kata Bessent dalam wawancara dengan CNBC, Senin.
Pasokan Venezuela
Meski harga minyak melonjak pada awal pekan, Brent dan WTI masih berada di jalur untuk mencatat penurunan terbatas sepanjang Agustus.
Harga minyak juga telah turun lebih dari 4% pada pekan lalu, sekaligus menjadi penurunan mingguan pertama dalam tiga pekan.
Potensi tambahan pasokan dari Venezuela turut menjadi perhatian pasar.
Baca Juga: Iran Masih Buka Jalur Diplomasi, Harga Minyak Dunia Terangkat
Trump mengatakan minyak yang diperoleh AS melalui kesepakatan dengan Venezuela akan digunakan untuk mengisi kembali cadangan minyak strategis atau Strategic Petroleum Reserve (SPR) AS.
Cadangan tersebut kini berada di sekitar level terendah dalam 44 tahun.
Di Venezuela, sejumlah perusahaan energi juga bersiap menandatangani kesepakatan final untuk proyek energi setelah berbulan-bulan melakukan negosiasi.
Chevron dan GE Vernova dari AS, ONGC dari India, Eni dari Italia, serta GeoPark dari Kolombia disebut akan menandatangani kesepakatan tersebut, menurut empat sumber yang mengetahui persiapan transaksi.














