Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – WASHINGTON. Departemen Perdagangan Amerika Serikat (AS) pada Selasa mengumumkan penerapan bea anti-subsidi (countervailing duties) terhadap sel dan panel surya yang diimpor dari perusahaan-perusahaan di India, Indonesia, dan Laos.
Langkah ini bertujuan untuk menanggapi subsidi pemerintah yang dianggap mendukung industri surya di negara-negara Asia tersebut.
Dengan keputusan ini, pejabat perdagangan AS memihak produsen panel surya domestik, yang menilai bahwa perusahaan-perusahaan dari ketiga negara menerima subsidi pemerintah sehingga produk Amerika menjadi kurang kompetitif.
Langkah ini merupakan bagian dari rangkaian bea yang telah diberlakukan selama lebih dari satu dekade terhadap impor panel surya murah dari Asia, yang sebagian besar diproduksi oleh perusahaan Tiongkok.
Berdasarkan lembar fakta yang dipublikasikan di situs web Departemen Perdagangan AS, lembaga ini menghitung tingkat subsidi umum sebesar 125,87% untuk impor dari India, 104,38% untuk impor dari Indonesia, dan 80,67% untuk impor dari Laos.
Baca Juga: IMF Minta AS Konsolidasi Fiskal, Defisit Transaksi Berjalan Dinilai Terlalu Besar
Ketiga negara ini pada tahun lalu menyumbang sekitar US$ 4,5 miliar impor panel surya ke AS, atau sekitar dua pertiga dari total impor pada 2025, menurut data perdagangan pemerintah.
Pengenaan tarif AS sebelumnya telah terbukti mengganggu perdagangan global panel surya. Impor dari Malaysia, Vietnam, Thailand, dan Kamboja turun drastis setelah kasus perdagangan yang menghasilkan tarif tinggi pada impor dari negara-negara tersebut, yang sebelumnya mendominasi pasar AS.
Pengumuman ini merupakan yang pertama dari dua keputusan yang diperkirakan akan dikeluarkan Departemen Perdagangan dalam beberapa minggu mendatang terkait kasus perdagangan yang diajukan tahun lalu oleh kelompok yang mewakili sebagian sektor manufaktur surya kecil di AS.
Departemen Perdagangan dijadwalkan membuat keputusan terpisah bulan depan mengenai apakah perusahaan dari ketiga negara tersebut membanjiri pasar AS dengan harga di bawah biaya produksi.
Kelompok pengaju petisi, Alliance for American Solar Manufacturing and Trade, mencakup Hanwha Qcells (Korea Selatan), First Solar yang berbasis di Arizona, dan Mission Solar di San Antonio, yang dimiliki oleh OCI Holdings (Korea Selatan).
Para produsen ini berupaya melindungi investasi miliaran dolar di pabrik-pabrik surya AS.
Tim Brightbill, pengacara utama Alliance, menyebut langkah ini sebagai “langkah penting untuk mengembalikan persaingan yang adil.”
“Produsen Amerika sedang menginvestasikan miliaran dolar untuk membangun kembali kapasitas domestik dan menciptakan lapangan kerja dengan gaji layak. Investasi ini tidak akan berhasil jika impor yang diperdagangkan secara tidak adil dibiarkan merusak pasar,” ujarnya dalam pernyataan resmi.
Baca Juga: AS dan Kanada Akan Bertemu Dalam Beberapa Pekan Mendatang untuk Membahas Perdagangan
Selain tarif umum, Departemen Perdagangan juga menghitung tarif individu, yaitu 125,87% untuk Mundra Solar di India, 143,3% untuk PT Blue Sky Solar dan 85,99% untuk PT REC Solar Energy di Indonesia, serta 80,67% untuk Solarspace Technology Sole Co dan Vietnam Sunergy Joint Stock Company di Laos.
Matthew Nicely, pengacara Solarspace yang berbasis di Tiongkok, menyatakan kekecewaannya. “Tarif ini tidak mencerminkan pengalaman nyata perusahaan atau bahkan analogi yang realistis,” ujarnya melalui email.
Perusahaan-perusahaan lain belum dapat memberikan komentar melalui pengacara mereka di AS.
Departemen Perdagangan AS memperkirakan keputusan akhir dalam penyelidikan anti-subsidi ini akan keluar pada Juli mendatang.













![[Intensive Workshop] Excel for Business Reporting](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_28012616011400.jpg)