Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - International Monetary Fund (IMF) mendesak Amerika Serikat (AS) untuk menekan defisit fiskal yang terus membengkak sebagai langkah utama menurunkan defisit transaksi berjalan dan perdagangan yang dinilai “terlalu besar”.
Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva menyampaikan dalam konferensi pers usai tinjauan tahunan kebijakan ekonomi AS (Article IV) bahwa defisit transaksi berjalan Negeri Paman Sam memang berada pada level yang mengkhawatirkan.
“Kesimpulannya sederhana: defisit transaksi berjalan terlalu besar. Dan hal itu juga diakui oleh pemerintahan,” ujarnya dilansir dari Reuters Rabu (25/2/2026).
IMF memperkirakan defisit transaksi berjalan AS berada di kisaran 3,5% hingga 4,0% dari produk domestik bruto (PDB) dalam waktu dekat.
Baca Juga: Pejabat AS Peringatkan Ancaman Iran Jelang Perundingan Nuklir di Jenewa
Tarif Bukan Solusi Utama
Pernyataan IMF muncul setelah Mahkamah Agung Amerika Serikat membatalkan tarif darurat luas yang diberlakukan Presiden Donald Trump.
Sebagai gantinya, pemerintah AS menggunakan Pasal 122 Undang-Undang Perdagangan 1974 untuk menerapkan tarif baru yang diklaim bertujuan memperbaiki neraca pembayaran.
Namun, Direktur Departemen Belahan Barat IMF Nigel Chalk menegaskan bahwa cara paling efektif menurunkan defisit eksternal bukan melalui tarif, melainkan dengan mengurangi defisit fiskal pemerintah.
Menurut laporan Article IV pertama di era pemerintahan Trump saat ini, IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi AS tetap solid di level 2,4% pada 2026, sejalan dengan proyeksi Januari lalu.
Sementara inflasi diperkirakan baru kembali ke target 2% yang ditetapkan Federal Reserve pada awal 2027, di tengah ketidakpastian jalur inflasi dan pertumbuhan.
Baca Juga: Investasi Bisnis Australia Kuartal IV Naik 0,4%, Tertinggi Lebih dari Satu Dekade
Utang Tembus 140% PDB pada 2031
IMF memperingatkan bahwa defisit fiskal AS akan tetap tinggi di kisaran 7% hingga 8% dari PDB dalam beberapa tahun mendatang lebih dari dua kali lipat target yang dicanangkan Menteri Keuangan AS Scott Bessent.
Dana Moneter Internasional itu juga memproyeksikan rasio utang pemerintah umum terkonsolidasi AS akan mencapai 140% terhadap PDB pada 2031.
“Meski risiko tekanan utang negara (sovereign stress) di AS tergolong rendah, tren kenaikan rasio utang terhadap PDB dan meningkatnya utang jangka pendek menjadi risiko stabilitas yang semakin besar bagi ekonomi AS dan global,” tulis IMF dalam pernyataan awal Article IV.
Peringatan IMF ini mempertegas kekhawatiran pasar terhadap keberlanjutan fiskal AS di tengah ketegangan perdagangan global dan beban pembiayaan utang yang terus meningkat.













![[Intensive Workshop] Excel for Business Reporting](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_28012616011400.jpg)