Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Sejumlah pejabat senior pemerintahan Presiden Donald Trump memperingatkan bahwa Iran masih menjadi ancaman besar bagi Amerika Serikat (AS) menjelang putaran ketiga perundingan nuklir tahun ini yang dijadwalkan berlangsung di Jenewa, Kamis (26/2/2026).
Delegasi AS dan Iran dijadwalkan bertemu di Geneva untuk membahas program nuklir Teheran.
Pertemuan ini berlangsung di tengah peningkatan kehadiran militer AS di Timur Tengah, salah satu yang terbesar dalam beberapa tahun terakhir, di tengah kemungkinan opsi serangan terhadap Republik Islam tersebut.
Baca Juga: Investasi Bisnis Australia Kuartal IV Naik 0,4%, Tertinggi Lebih dari Satu Dekade
Dalam pidato kenegaraan (State of the Union) pada Selasa, Trump menuduh Iran kembali menghidupkan program nuklirnya serta mengembangkan rudal yang “segera” mampu menjangkau wilayah Amerika Serikat.
Ia juga menuding Teheran berada di balik serangan bom pinggir jalan yang menewaskan personel militer dan warga sipil AS.
Trump memperingatkan bahwa akan menjadi “hari yang sangat buruk” bagi Iran jika tidak tercapai kesepakatan untuk menyelesaikan sengketa nuklir yang telah berlangsung lama.
Iran sebelumnya mengancam akan menyerang pangkalan militer AS di kawasan jika diserang.
Rubio: Iran Coba Bangun Kembali Program Nuklir
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyuarakan kekhawatiran serupa saat berbicara kepada wartawan dalam kunjungan ke St. Kitts dan Nevis.
“Setelah program nuklir mereka dilumpuhkan, mereka diperingatkan untuk tidak mencoba memulainya kembali, dan sekarang mereka melakukannya lagi,” kata Rubio.
“Mereka mungkin tidak memperkaya uranium saat ini, tetapi mereka berusaha mencapai titik di mana pada akhirnya bisa melakukannya.”
Trump sebelumnya memerintahkan serangan terhadap fasilitas nuklir Iran tahun lalu dan mengklaim fasilitas tersebut telah “dilumpuhkan”.
Baca Juga: Google Bongkar Operasi Peretasan Global Terkait China, Begini Respons Beijing
Namun, para pejabat AS belakangan menyebut Iran semakin dekat dengan kemampuan memproduksi senjata nuklir.
Rubio juga menyoroti kemampuan rudal balistik Iran yang dinilai mengancam kepentingan AS di kawasan, bahkan berpotensi menjangkau wilayah Eropa dan daratan utama Amerika Serikat.
Menurutnya, penolakan Iran untuk membahas isu rudal balistik dalam perundingan Jenewa menjadi “masalah besar”.
Iran memiliki persediaan rudal balistik terbesar di Timur Tengah, menurut Kantor Direktur Intelijen Nasional AS.
Teheran selama ini menyatakan jangkauan rudalnya dibatasi hingga 2.000 km, yang diklaim cukup untuk kebutuhan pertahanan, termasuk menjangkau Israel.
“Iran Tidak Boleh Memiliki Senjata Nuklir”
Wakil Presiden AS JD Vance menyatakan, utusan AS Steve Witkoff dan Jared Kushner akan bertemu delegasi Iran di Jenewa guna menilai peluang tercapainya kesepakatan.
“Prinsipnya sangat sederhana: Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir,” tegas Vance.
Baca Juga: Produksi Kopi Dunia Diramal Cetak Rekor 180 Juta Karung, Harga Kopi Tertekan
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi telah bertemu Menteri Luar Negeri Oman, Badr al-Busaidi, yang berperan sebagai mediator, setibanya di Jenewa.
Media pemerintah Iran melaporkan bahwa Araqchi menyampaikan posisi Teheran terkait isu nuklir dan pencabutan sanksi AS yang disebutnya ilegal dan sepihak.
Putaran perundingan kali ini dinilai krusial di tengah meningkatnya tensi militer dan retorika keras dari kedua belah pihak, dengan risiko eskalasi yang dapat mengguncang stabilitas kawasan Timur Tengah dan pasar energi global.













![[Intensive Workshop] Excel for Business Reporting](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_28012616011400.jpg)