Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Iran dan Amerika Serikat dijadwalkan kembali menggelar pembicaraan nuklir pada Kamis mendatang di Jenewa, Swiss. Pertemuan ini menjadi putaran ketiga dalam upaya mencari solusi atas sengketa panjang terkait program nuklir Teheran.
Reuters melaporkan, Menteri Luar Negeri Oman, Badr Albusaidi, yang selama ini menjadi mediator dalam komunikasi tidak langsung antara Washington dan Teheran, mengonfirmasi bahwa kedua negara akan melanjutkan negosiasi dengan dorongan untuk mencapai kesepakatan final.
Pertemuan ini berlangsung di tengah meningkatnya kekhawatiran potensi konflik militer antara dua negara yang telah lama berseteru. Amerika Serikat diketahui memperkuat kehadiran militernya di Timur Tengah.
Presiden AS, Donald Trump, sebelumnya memperingatkan bahwa “hal-hal yang sangat buruk” bisa terjadi jika tidak ada kesepakatan terkait program nuklir Iran.
Iran Tawarkan Konsesi Baru
Menurut laporan Reuters, Iran disebut menawarkan konsesi baru dalam program nuklirnya. Namun, Teheran mengajukan dua syarat utama: pencabutan sanksi ekonomi dan pengakuan atas hak Iran untuk melakukan pengayaan uranium untuk tujuan damai.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menyampaikan optimisme hati-hati. Ia menilai negosiasi terakhir memberikan “sinyal yang menggembirakan”, meski tetap menegaskan kesiapan Iran menghadapi berbagai kemungkinan.
Baca Juga: Trump Pasang Tarif 15%, Inggris Jadi Salah Satu Negara yang Paling Dirugikan
Di sisi lain, utusan khusus AS untuk negosiasi nuklir, Steve Witkoff, menyatakan bahwa Trump penasaran mengapa Iran belum “menyerah” atau menyetujui pembatasan program nuklirnya di bawah tekanan militer dan ekonomi yang ada.
Pernyataan itu langsung ditanggapi Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, yang menulis di media sosial bahwa Iran tidak akan “menyerah” karena mempertahankan prinsip kedaulatan nasional.
Isu Pengayaan Uranium Jadi Titik Krusial
Salah satu sumber ketegangan utama adalah tuntutan AS agar Iran menghentikan pengayaan uranium di dalam negeri. Washington menilai aktivitas tersebut berpotensi mengarah pada pembuatan senjata nuklir.
Iran membantah tuduhan itu dan menegaskan programnya murni untuk tujuan sipil.
AS bahkan sebelumnya melakukan serangan terhadap fasilitas nuklir Iran pada Juni lalu bersama Israel. Trump menyebut fasilitas utama Iran telah “dihancurkan”. Namun, Iran diyakini masih memiliki cadangan uranium yang telah diperkaya sebelumnya.
Baca Juga: Eropa Kaji Tunda Ratifikasi Tarif, AS Tetap Dorong Kesepakatan Tarif Jalan Terus
Witkoff menyebut tingkat pengayaan uranium Iran telah mencapai 60 persen kemurnian fisil—angka yang dinilai mendekati level yang dibutuhkan untuk bahan bom nuklir.
Sebagai bagian dari opsi kompromi, Iran disebut mempertimbangkan pengiriman sebagian cadangan uranium yang diperkaya tinggi ke luar negeri, sementara sisanya akan diencerkan.













![[Intensive Workshop] Excel for Business Reporting](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_28012616011400.jpg)