kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.670.000   31.000   1,17%
  • USD/IDR 17.648   -28,00   -0,16%
  • IDX 6.663   -4,52   -0,07%
  • KOMPAS100 871   -1,74   -0,20%
  • LQ45 661   -1,90   -0,29%
  • ISSI 231   -0,32   -0,14%
  • IDX30 370   -0,82   -0,22%
  • IDXHIDIV20 457   -2,15   -0,47%
  • IDX80 99   -0,33   -0,34%
  • IDXV30 126   -0,79   -0,62%
  • IDXQ30 119   -0,43   -0,36%

AS Selidiki Serangan pada Acara Pernikahan di Iran yang Tewaskan 5 Orang


Jumat, 04 September 2026 / 09:25 WIB
AS Selidiki Serangan pada Acara Pernikahan di Iran yang Tewaskan 5 Orang
ILUSTRASI. Amerika Serikat (AS) tengah menyelidiki serangan udara yang menghantam sebuah pesta pernikahan di Iran pada awal pekan ini (via REUTERS/Matt Rourke)


Sumber: Reuters | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Amerika Serikat (AS) tengah menyelidiki serangan udara yang menghantam sebuah pesta pernikahan di Iran pada awal pekan ini dan menewaskan sedikitnya lima orang. Analisis Reuters terhadap rekaman serta gambar dari lokasi menunjukkan bahwa serangan tersebut kemungkinan berasal dari hantaman langsung amunisi buatan AS.

Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan pemerintah AS sedang menyelidiki insiden yang terjadi di wilayah selatan Iran tersebut. Serangan itu terjadi pada Selasa dan menghantam sebuah rumah yang tengah digunakan untuk menggelar pesta pernikahan.

"Kami sedang menyelidikinya karena tentu saja kami peduli. Kami ingin tahu," kata Vance kepada wartawan pada Kamis.

Vance mengatakan, apabila militer AS terbukti melakukan kesalahan, pemerintah akan mengevaluasi kejadian tersebut untuk mencegah terulangnya kesalahan serupa.

"Jika kami memang melakukan kesalahan, sekali lagi, ini merupakan perbedaan besar antara kami dan Iran. Ketika militer kami melakukan kesalahan, mereka belajar dari kesalahan tersebut untuk berusaha menjadi lebih baik," ujar Vance.

Baca Juga: Terdampak Karhutla: Kualitas Udara Singapura Memburuk, PSI Tembus 104

Militer AS menyatakan mengetahui laporan dari Iran mengenai insiden tersebut. Namun, militer AS menegaskan bahwa pihaknya tidak pernah menjadikan warga sipil sebagai sasaran.

Seorang pejabat AS yang berbicara secara anonim mengatakan pemerintah masih mempertimbangkan sejumlah kemungkinan terkait jatuhnya korban dalam pesta pernikahan tersebut. Kemungkinan itu mencakup apakah korban disebabkan serangan AS, pantulan rudal pertahanan udara Iran, atau rudal pencegat yang melenceng dari sasaran.

Analisis Reuters Ungkap Dugaan Hantaman Langsung

Reuters membagikan rekaman video dan gambar insiden kepada empat pakar persenjataan militer. Berdasarkan pemeriksaan terhadap kerusakan yang terlihat di lokasi, para pakar menilai pola kerusakan lebih konsisten dengan hantaman langsung sebuah amunisi dibandingkan kerusakan sekunder akibat amunisi yang memantul setelah mengenai sasaran lain.

Tiga dari empat pakar tersebut menilai amunisi yang digunakan kemungkinan merupakan senjata AS, bukan rudal pertahanan udara Iran yang salah sasaran. Salah seorang pakar mengatakan senjata tersebut mungkin hanya meleset dari sasaran yang sebenarnya.

Insiden tersebut terjadi sekitar enam bulan setelah sebuah rudal menghancurkan sebuah sekolah dasar di Iran. Pejabat Iran mengatakan serangan itu menewaskan lebih dari 175 anak-anak dan guru.

Reuters sebelumnya melaporkan bahwa penyelidikan internal awal militer AS menunjukkan pasukan AS kemungkinan bertanggung jawab atas serangan tersebut. Namun, Pentagon belum mempublikasikan hasil penyelidikan itu kepada publik.

Korban Tewas Serangan di Iran Bertambah

Televisi pemerintah Iran pada Kamis melaporkan seorang perempuan berusia 22 tahun meninggal dunia di rumah sakit setelah menjadi korban serangan yang menghantam sebuah rumah saat pesta pernikahan berlangsung.

Baca Juga: Mengapa Jeda Internasional FIFA 2026/27 Menjadi 3 Pekan? Ini Alasan dan Dampaknya

Dengan tambahan korban tersebut, jumlah korban tewas yang dilaporkan mencapai lima orang. Sementara itu, pejabat Iran menyebut hampir 70 orang mengalami luka-luka.

Pada Kamis sore, warga berkumpul di luar Desa Kuhestak, Kabupaten Sirik, di sepanjang pesisir Selat Hormuz. Mereka berkumpul untuk menghadiri pemakaman korban setelah kawasan tersebut dihantam serangkaian serangan udara AS pada Selasa malam.

Dalam video yang dirilis kantor berita Mehr, terlihat sebuah mobil bak terbuka membawa peti jenazah yang ditutupi bendera dan berada di bawah naungan pelepah pohon palem.

Seorang reporter yang berada di depan kendaraan tersebut mengatakan, "Ini adalah jenazah Syahid Amir-Mohammad Karimi, seorang anak berusia 4 tahun yang gugur dalam serangan terhadap wilayah selatan negara ini oleh rezim kriminal Amerika."

Rekaman lain dari prosesi pemakaman memperlihatkan para pelayat menaburkan kelopak bunga ke udara diiringi musik duka dari pengeras suara. Sebuah peti jenazah juga terlihat dibawa melewati barisan tentara yang berdiri dalam posisi siap dengan senapan.

"Jika ini adalah lokasi militer, rasa sakitnya mungkin tidak sebesar ini. Ini adalah sebuah pesta pernikahan, tetapi mereka mengubah kebahagiaan masyarakat menjadi duka," kata seorang warga setempat, seperti dikutip kantor berita semi-resmi Tasnim.

Serangan AS Picu Eskalasi Perang Iran

AS melancarkan serangan udara pada Selasa dengan menyasar apa yang disebutnya sebagai fasilitas militer di sepanjang pesisir Iran. Washington mengatakan serangan tersebut merupakan tindakan balasan atas serangan Iran terhadap kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz.

Baca Juga: Bedah Strategi Transfer Chelsea yang Berbuah Rekor, Raup Lebih dari Rp11 Triliun

Eskalasi mendadak dalam perang Iran tersebut turut mengguncang pasar minyak global. Harga minyak mentah melonjak ke level tertinggi sejak Juli.

Harga minyak Brent bahkan naik untuk hari keempat berturut-turut pada Kamis dan menembus level US$96 per barel.

Iran melaporkan 18 orang tewas dalam serangan AS terbaru. Teheran kemudian membalas serangan tersebut pada Rabu dengan melancarkan serangan terhadap sejumlah pangkalan AS di Irak, Yordania, Qatar, Kuwait, dan Bahrain.

Iran juga melakukan serangan tambahan pada Kamis pagi dengan mengklaim menargetkan pangkalan AS lainnya di Kuwait. Militer Kuwait menyatakan sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat rudal dan drone yang masuk.

Namun, setelah rangkaian serangan balasan tersebut, eskalasi perang yang menjadi yang terbesar sejak Juli mulai mereda. Hingga Kamis, tidak ada laporan mengenai serangan besar lanjutan dari kedua pihak.

Situasi tersebut tetap menjadi perhatian pasar global, terutama karena konflik berlangsung di sekitar Selat Hormuz, jalur strategis bagi perdagangan minyak dunia. Setiap gangguan terhadap aktivitas pelayaran di kawasan tersebut berpotensi menekan pasokan minyak global dan kembali mendorong kenaikan harga energi.




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×