Badan pangan PBB: Anak-anak Afghanistan bisa mati kelaparan

Minggu, 31 Oktober 2021 | 10:05 WIB Sumber: Reuters
Badan pangan PBB: Anak-anak Afghanistan bisa mati kelaparan


KONTAN.CO.ID - DUBAI. Ekonomi Afghanistan semakin memburuk pasca Taliban mengambil alih kekuasaan pada Agustus lalu. Krisis ekonomi perlahan mulai mendorong kelangkaan pangan dan menyebabkan jutaan orang kelaparan.

Badan pangan PBB memperingatkan, jutaan orang Afghanistan, termasuk anak-anak, bisa mati kelaparan jika situasi krisis tidak segera diatasi. PBB kini menyerukan agar dana Afghanistan yang dibekukan untuk segera dicairkan.

Program Pangan Dunia (WFP) menyebutkan, 22,8 juta orang Afghanistan menghadapi kerawanan pangan parah dan sedang bersiap menuju kelaparan. Jumlah tersebut lebih dari setengah populasi Afghanistan yang mencapai 39 juta penduduk.

Direktur Eksekutif WFP David Beasley melaporkan, jumlah warga yang menghadapi kelaparan naik cukup tajam dalam dua bulan. Pada Agustus, jumlahnya hanya sekitar 14 juta. 

"Anak-anak akan mati. Orang-orang akan kelaparan. Semua hal akan menjadi jauh lebih buruk," ungkap Beasley, seperti dikutip Reuters.

Baca Juga: Tokoh wanita Afghanistan mendesak PBB untuk melarang kehadiran Taliban di forumnya

Krisis yang dialami Afghanistan bermula pada Agustus setelah kelompok Taliban berhasil menggulingkan pemerintahan. Berkuasanya Taliban menyebabkan banyak negara donor menahan miliaran dolar bantuan untuk Afghanistan.

Krisis pangan diperburuk oleh perubahan iklim yang sangat mengerikan. Kondisi ini bahkan sudah terjadi sebelum Taliban mengambil alih kekuasaan. Minimnya bantuan internasional masuk jelas membuat pemerintahan Taliban saat ini sangat kesulitan.

Beasley memprediksikan, keruntuhan Afghanistan bisa terjadi lebih cepat dari dugaan. Ia mendesak dana bantuan, yang sementara ini dibekukan oleh sejumlah negara, disalurkan melalui WFP untuk Afghanistan.

Saat ini, WFP membutuhkan hingga US$ 220 juta per bulan untuk memberi makan sebagian dari hampir 23 juta orang yang rentan saat musim dingin mendekat.

Baca Juga: Taliban meminta komunitas internasional mengakui pemerintahan mereka di Afghanistan

Editor: Prihastomo Wahyu Widodo

Terbaru