Bakal Bertemu Xi Jinping di Bali, Joe Biden Cari Garis Merah Hubungan AS-China

Senin, 14 November 2022 | 14:41 WIB   Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk
Bakal Bertemu Xi Jinping di Bali, Joe Biden Cari Garis Merah Hubungan AS-China

ILUSTRASI. Presiden Amerika Serikat Joe Biden. REUTERS/Kevin Lamarque


KONTAN.CO.ID - BALI. Presiden Amerika Serikat (AS), Joe Biden, akan bertemu tatap muka dengan Presiden China Xi Jinping di Bali pada Senin (14/11) sebelum  Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 dimulai. Dalam pertemuan tersebut, Biden akan mencari tahu garis merah hubungan panas Amerika dengan China.

Pada Asian Summit yang digelar pada Minggu sebelum pertemuannya dengan Xi, Biden telah menetapkan beberapa parameter tegas tentang kebebasan navigasi di Laut China Selatan dan memperingatkan China agar tidak mencoba menginvasi Taiwan. 

Namun, ia juga mengatakan ingin tetap menjaga jalur komunikasi terbuka dengan Beijing. 

"Saya tahu Xi Jinping. Kami selalu melakukan diskusi langsung," katanya seperti dilansir The Guardian, Senin (14/11).

Baca Juga: Presiden China Xi Jinping Mendarat di Bali, Disambut Menko Luhut dan Gubernur Koster

Keduanya sudah saling mengenal selama lebih dari satu dekade sejak Biden menjabat sebagai wakil presiden. Namun, pertemuan di KTT G20 Bali akan menjadi pertemuan tatap muka pertama mereka sebagai pemimpin. 

Biden mengatakan, terdapat sedikit kesalahpahaman antara dirinya dan Xi Jinping. Keduanya baru saja mencari tahu apa garis merahnya. AS saat ini sedang mencari formula dengan China yang memungkinkan persaingan dan koeksistensi berjalan beriringan. 

Biden menetapkan visinya untuk kawasan yang tentu dipandu dengan supremasi hukum, yakni akan membangun hubungan Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka, stabil dan makmur, serta tangguh dan aman. 

Setelah pertemuan di XI di Bali, Biden akan menghadiri KTT G20 pada Selasa dan Rabu, dan di lanjutkan dengan forum kerjasama Ekonomi Asia-Pasifik di Bangkok. 

Banyak pemain kunci di Asia Tenggara enggan untuk ikut ambil bagian dalam konfrontasi antara AS-China. Presiden Indonesia Joko Widodo misalnya berjanji tidak membiarkan Asia tenggara jadi garis depan perang dingin yang baru. Indonesia ia sebut tidak akan jadi proxi bagi kekuatan manapun. Dia mengatakan, Asia Tenggara harus menjadi damai dan jadi jangkar stabilitas global. 

Biden kemungkinan akan menekan China berbuat lebih banyak untuk mengekang ambisi nuklir Korea Utara, dan mendorong target pengurangan karbon yang lebih ambisius. Pada Agustus lalu, China menangguhkan pembicaraan iklim dengan AS setelah Ketua DPR AS Nancy Pelosi mengunjungi Taiwan. 

Sementara Xi kemungkinan akan memprotes kebijakan ekspor baru di AS yang diterapkan pada Oktober yang bertujuan mengekang kemampuan China mendapatkan chip canggih, mengembangkan dan memelihara superkomputer, dan memproduksi semikonduktor canggih untuk aplikasi militer.

China keberatan dengan apa yang dianggapnya sebagai persenjataan perdagangan, saat kementerian luar negerinya menuduh AS berusaha membuat NATO versi Asia-Pasifik dengan Australia, Jepang, dan Korea Selatan untuk mengganggu keamanan dan stabilitas di wilayah tersebut.

Presiden Rusia, Vladimir Putin, yang sangat ingin tetap berada di slipstream China tetapi takut akan isolasi publik di KTT, telah memutuskan untuk tidak hadir dalam perhelatan G20, sebagai gantinya mengirim menteri luar negeri veterannya, Sergei Lavrov. 

Baca Juga: Ada Ketidakpastian Global, Malaysia Igatkan Volatilitas Pasar CPO Berlanjut di 2023

Ketakutan Rusia adalah bahwa Xi semakin ingin menjauhkan diri dari serangan Rusia di Ukraina,dan setidaknya bersedia menegaskan  menentang ancaman atau penggunaan senjata nuklir.

AS tidak yakin ke mana arah hubungan Putin-Xi. Colin Kahl, wakil menteri pertahanan untuk kebijakan yang dekat dengan Biden, mengatakan pekan lalu bahwa para pemimpin China lebih bersedia memberi isyarat bahwa hal ini mengarah ke aliansi daripada hanya kemitraan yang dangkal. Sebaliknya, Biden menyebut bahwa China tidak terlalu menghormati Rusia atau Putin.

Lavrov, dalam konferensi pers di Phnom Penh, mengajukan banding ke China dengan mencoba menggambarkan AS sebagai negara yang berusaha mendominasi kawasan. 

“Amerika Serikat dan sekutu NATO-nya sedang berusaha menguasai ruang ini,” katanya. 

Rencana AS akan melibatkan militerisasi kawasan ini dengan fokus yang jelas untuk menahan China dan menahan kepentingan Rusia di Asia-Pasifik.  Dia mengatakan strategi Indo-Pasifik Biden adalah upaya untuk melewati struktur inklusif  untuk kerja sama regional.

Menjelang G20, Kementerian Luar Negeri Rusia mendesak para pemimpinnya untuk tidak fokus pada masalah keamanan, sebuah kode untuk Ukraina, melainkan melihat masalah jangka panjang yang digembar-gemborkan oleh tuan rumah Indonesia, termasuk ketahanan pangan dan transformasi digital. Pitch diplomatik Rusia dirancang untuk menarik tidak hanya ke China tetapi juga kepada anggota selatan global yang merasa perang merusak lingkungan mereka.

Editor: Tendi Mahadi

Terbaru