Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Bank-bank besar Wall Street mencatat lonjakan pendapatan dari aktivitas perdagangan (trading) pada kuartal I-2026, seiring volatilitas pasar yang tinggi akibat ketidakpastian ekonomi global dan perang Iran.
Volatilitas pasar biasanya menjadi keuntungan bagi meja perdagangan (trading desk) bank-bank besar, karena investor semakin sering menyesuaikan portofolio untuk melakukan lindung nilai (hedging) terhadap berbagai risiko. Laporan keuangan dari Wells Fargo, JPMorgan Chase, dan Citigroup pada Selasa menunjukkan pendapatan trading secara umum lebih kuat.
“Kinerja kuartal ini merupakan hasil dari tingginya keterlibatan klien, kondisi pasar yang volatil, serta keberhasilan dalam mengelola risiko terkait,” kata Chief Financial Officer JPMorgan, Jeremy Barnum seperti yang dilansir Reuters.
Namun Barnum menahan diri untuk memberi proyeksi mengenai kinerja pasar dalam jangka panjang, meskipun ia mengatakan ada sejumlah peluang cerah ke depan.
“Secara umum, saya akan memperingatkan orang agar tidak langsung memproyeksikan kinerja luar biasa kuartal ini ke masa depan, karena saya pikir kondisinya unik,” ujar Barnum. “Namun secara keseluruhan, kami merasa baik dengan fondasi bisnis kami, karena ada beberapa sumber pendapatan yang sangat tahan lama.”
Citigroup mencatat pendapatan kuartalan tertinggi dalam satu dekade, didorong volatilitas pasar selama kuartal pertama yang membuat total pendapatan divisi pasar (markets) naik 19% dibanding setahun sebelumnya. Biaya dari pasar saham (equity markets) naik 39% pada kuartal tersebut, didukung pertumbuhan derivatif, prime services, dan transaksi saham tunai (cash equities).
Citi menyebut saldo prime (prime balances) pada divisi pasar melonjak lebih dari 50%.
Baca Juga: Trump Sebut Negosiasi Damai dengan Iran Bisa Digelar 2 Hari Lagi
Pendapatan dari perdagangan pendapatan tetap (fixed income trading) naik 13% dibanding tahun lalu. Pendapatan dari transaksi suku bunga dan mata uang naik 6%, sementara pendapatan fixed income lainnya naik 27%, didorong kinerja kuat komoditas.
JPMorgan Chase mencatat kenaikan laba kuartal pertama sebesar 13% yang melampaui perkiraan, karena volatilitas pasar mendorong pendapatan trading ke rekor tertinggi dan aktivitas dealmaking membaik. Pendapatan pasar (markets revenue) JPMorgan naik 20% pada kuartal pertama, dengan pendapatan fixed income naik 21% dan pendapatan pasar saham melonjak 17%.
Wells Fargo juga melaporkan pendapatan pasar naik 19% pada kuartal tersebut, yang menurut perusahaan didorong oleh kenaikan pendapatan di sebagian besar kelas aset.
Goldman Sachs pada Senin juga menunjukkan kekuatan di bisnis perdagangan saham. Divisi trading saham Goldman mencatat kuartal rekor, dengan pendapatan dari intermediasi perdagangan dan pembiayaan naik 27%. Namun bank investasi AS itu juga menunjukkan pelemahan pada divisi pendapatan tetap, mata uang, dan komoditas (FICC).
Saham bank bergerak bervariasi, dengan Wells Fargo turun 4%, JPMorgan turun 0,5%, dan Citigroup naik 3,5%.
Kekhawatiran terhadap dampak kecerdasan buatan (AI) pada perusahaan perangkat lunak serta ketidakpastian perang Iran telah mengguncang pasar keuangan pada kuartal pertama, memicu aksi jual berulang yang membuat aktivitas meja trading semakin sibuk.
Kegelisahan pasar meningkat pada Maret setelah pecahnya perang AS-Israel melawan Iran. Kekhawatiran gangguan pasokan minyak akibat potensi penutupan Selat Hormuz, jalur yang mengalirkan seperlima minyak dunia, memicu ketakutan stagflasi. Ketakutan terhadap AI yang mengganggu bisnis perusahaan perangkat lunak serta kekhawatiran kredit swasta (private credit) juga menambah tekanan bagi investor.
Tonton: Kebakaran Terjadi di Kantor Pusat BYD Shenzhen, Saham Turun 0,6%
Waspadai Risiko Ekonomi, Namun Konsumen Masih Kuat
Perbankan menyoroti kewaspadaan terhadap risiko ekonomi meskipun mereka menilai konsumen dan rumah tangga masih cukup kuat. CEO JPMorgan Jamie Dimon memperingatkan meningkatnya risiko ekonomi global.
“Ada rangkaian risiko yang semakin kompleks, seperti ketegangan geopolitik dan perang... Meski kami tidak bisa memprediksi bagaimana risiko dan ketidakpastian ini akan berkembang, dampaknya signifikan dan memperkuat alasan mengapa kami menyiapkan perusahaan menghadapi berbagai skenario,” kata Dimon dalam pernyataan.
Dimon mengatakan meski pasar tenaga kerja melemah, kondisinya belum terlihat memburuk, dan konsumen masih terus belanja.
“Ekonomi AS tetap tangguh,” kata Dimon.
CFO JPMorgan juga menyebut pertumbuhan belanja konsumen masih berjalan lebih cepat dibanding tahun lalu.
CFO Wells Fargo Mike Santomassimo mengatakan konsumen kemungkinan membelanjakan sekitar 25% hingga 30% lebih banyak untuk bensin dibandingkan sebelum konflik. Wells Fargo memperoleh sekitar 40% pendapatannya dari layanan perbankan konsumen.
“Secara keseluruhan, belanja tetap cukup tangguh dan kuat. Kami tidak melihat tren belanja berubah secara signifikan,” kata Santomassimo kepada wartawan.
Volatilitas dan kekhawatiran akibat konflik Iran juga berpotensi mempengaruhi aktivitas merger dan akuisisi (M&A) serta penawaran saham perdana (IPO). CFO Citi Gonzalo Luchetti mengatakan jika konflik berlangsung lama, hal itu dapat mempengaruhi pipeline transaksi pada paruh kedua tahun ini, meskipun ia menyebut saat ini pipeline masih “sangat aktif.”
CEO Citi Jane Fraser mengatakan semakin lama konflik berlangsung, “semakin terasa dampak tingkat kedua atau ketiga di seluruh dunia,” dengan inflasi yang kini menjadi risiko lebih besar.
Citi juga menyebut mereka terus melakukan stress test terhadap portofolio, termasuk pada sektor kredit swasta (private credit), yang tahun ini mengalami gejolak di industri.













