Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Perundingan untuk mengakhiri perang Iran kemungkinan akan kembali digelar di Pakistan dalam dua hari ke depan, kata Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Selasa (14/4/2026), setelah gagalnya negosiasi akhir pekan lalu mendorong Washington memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Melansir Reuters, pejabat dari negara-negara Teluk, Pakistan, dan Iran juga menyebut tim perunding dari AS dan Iran berpotensi kembali ke Pakistan pada pekan ini. Namun, seorang sumber senior Iran mengatakan belum ada tanggal yang ditetapkan.
“Anda sebaiknya tetap di sana, sungguh, karena sesuatu bisa terjadi dalam dua hari ke depan, dan kami lebih condong untuk pergi ke sana,” Trump dikutip mengatakan dalam wawancara dengan New York Post.
Meski blokade AS memicu pernyataan keras dari Teheran, sinyal bahwa jalur diplomasi masih terbuka membantu menenangkan pasar minyak, sehingga harga acuan turun di bawah US$ 100 per barel pada Selasa.
Pembicaraan tingkat tinggi antara kedua pihak yang bermusuhan sejak Revolusi Islam 1979 berakhir di Islamabad tanpa terobosan, memunculkan keraguan terhadap kelangsungan gencatan senjata dua pekan yang masih tersisa satu minggu. Sejumlah isu krusial yang dipertaruhkan antara lain akses ke Selat Hormuz, program nuklir Iran, serta sanksi internasional terhadap Teheran.
Sejak Amerika Serikat dan Israel memulai perang pada 28 Februari, Iran pada dasarnya menutup Selat Hormuz bagi hampir semua kapal kecuali kapal miliknya sendiri, dengan menyatakan bahwa pelayaran hanya akan diizinkan di bawah kendali Iran dan dikenakan biaya. Sebelumnya, hampir seperlima pasokan minyak dan gas dunia mengalir melalui jalur sempit tersebut, sehingga dampak penutupannya meluas.
Baca Juga: AS Siap Luncurkan Sistem Pengembalian (Refund) Tarif Mulai 20 April 2026, Apa Itu?
Sebagai langkah balasan, militer AS mengatakan mulai memblokir lalu lintas kapal yang masuk dan keluar pelabuhan Iran sejak Senin. Teheran mengancam akan menyerang kapal-kapal angkatan laut yang melintasi selat tersebut dan melakukan pembalasan terhadap pelabuhan negara-negara tetangga di Teluk.
IMF Pangkas Proyeksi Pertumbuhan
Komando Pusat AS (CENTCOM) menyebut blokade terhadap pelabuhan Iran, yang hanya berlaku untuk kapal yang menuju atau berasal dari Iran, melibatkan lebih dari 10.000 personel militer AS, lebih dari selusin kapal perang, serta puluhan pesawat.
“Dalam 24 jam pertama, tidak ada kapal yang berhasil melewati blokade AS dan enam kapal dagang mematuhi arahan pasukan AS untuk berbalik arah kembali memasuki pelabuhan Iran di Teluk Oman,” kata CENTCOM dalam pernyataan yang diunggah di X.
Data pelayaran menunjukkan blokade itu belum banyak memengaruhi lalu lintas di Selat Hormuz pada Selasa, dengan setidaknya delapan kapal masih melintasi jalur tersebut.
Kebuntuan terbaru ini semakin mengaburkan prospek keamanan energi global serta pasokan barang-barang yang bergantung pada minyak bumi.
Dana Moneter Internasional (IMF) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi dan menyatakan ekonomi global akan berada di ambang resesi jika konflik memburuk dan harga minyak bertahan di atas US$ 100 per barel hingga 2027. Sementara itu, Badan Energi Internasional (IEA) juga menurunkan perkiraan pertumbuhan pasokan dan permintaan minyak dunia.
Tonton: Arab Saudi Pulihkan Jalur Minyak Vital! Dunia Bernapas di Tengah Ancaman Hormuz
Sekutu NATO Amerika Serikat, termasuk Inggris dan Prancis, mengatakan mereka tidak akan terseret ke dalam konflik dengan ikut serta dalam blokade, meskipun mereka menawarkan bantuan untuk menjaga Selat Hormuz melalui misi pertahanan multilateral jika ada kesepakatan.
China, pembeli utama minyak Iran, mengatakan blokade AS “berbahaya dan tidak bertanggung jawab” serta hanya akan memperburuk ketegangan.













