Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Bank Sentral Selandia Baru (Reserve Bank of New Zealand/RBNZ) menaikkan suku bunga acuan (Official Cash Rate/OCR) sebesar 25 basis poin menjadi 2,50% pada Rabu (8/7/2026).
Otoritas moneter juga mengisyaratkan masih diperlukan kenaikan suku bunga lanjutan untuk mengembalikan inflasi ke target, meskipun pemulihan ekonomi masih berlangsung secara bertahap.
Baca Juga: Mayoritas Mata Uang Asia Melemah terhadap Dolar AS Rabu (8/7), Won Jadi Pengecualian
Keputusan tersebut sesuai dengan ekspektasi mayoritas ekonom. Sebanyak 22 dari 28 ekonom yang disurvei Reuters sebelumnya memperkirakan RBNZ akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin.
Sebelumnya, sejak Agustus 2024, RBNZ memangkas suku bunga hingga total 325 basis poin untuk menopang perekonomian yang melemah seiring meredanya inflasi.
Namun, lonjakan harga minyak akibat konflik Iran diperkirakan kembali mendorong inflasi melampaui target bank sentral sebesar 1%–3%, sehingga memaksa otoritas mempercepat normalisasi kebijakan moneter.
Dalam pernyataan Monetary Policy Review, RBNZ menyebutkan bahwa inflasi masih berada di atas target dan aktivitas ekonomi diperkirakan terus membaik.
Baca Juga: KTT NATO Dibayangi Kritik Trump, Eropa Berupaya Jaga Soliditas Aliansi
"Dengan inflasi yang masih berada di atas target dan aktivitas ekonomi yang diperkirakan menguat, pengurangan stimulus moneter lebih lanjut kemungkinan masih diperlukan untuk mengembalikan inflasi ke titik tengah target 2%," tulis RBNZ.
Usai pengumuman tersebut, dolar Selandia Baru (kiwi) menguat sekitar 0,4% menjadi US$ 0,57, sementara suku bunga swap tenor dua tahun naik 5 basis poin menjadi 3,3801%.
Pelaku pasar kini hampir sepenuhnya memperkirakan akan ada kenaikan suku bunga kembali pada Oktober mendatang.
Meski demikian, RBNZ menegaskan bahwa keputusan selanjutnya akan bergantung pada perkembangan data ekonomi, perilaku penetapan harga, serta kekuatan aktivitas ekonomi yang memengaruhi tekanan inflasi jangka menengah.
RBNZ memperkirakan, inflasi tahunan mencapai puncaknya di 3,9% pada kuartal II 2026 sebelum melambat menjadi 3,3% pada kuartal III 2026. Inflasi diproyeksikan kembali mendekati target 2% pada 2027.
Baca Juga: Saham Chip Korea Selatan Rebound Rabu (8/7) Pagi, Investor Manfaatkan Koreksi Harga
Proyeksi tersebut lebih rendah dibandingkan perkiraan RBNZ pada Mei lalu yang memperkirakan inflasi akan mencapai 4,3% pada kuartal III 2026 sebelum kembali ke target pada pertengahan 2027.
Menurut RBNZ, revisi proyeksi tersebut terutama dipengaruhi oleh penurunan harga minyak yang mengurangi dampak langsung terhadap harga-harga konsumen serta membatasi efek rambat (pass-through) ke inflasi yang lebih luas.
Risalah rapat kebijakan juga menunjukkan seluruh anggota komite sepakat bahwa kenaikan OCR lebih lanjut kemungkinan masih diperlukan dalam beberapa pertemuan mendatang. Namun, waktu pelaksanaannya masih bergantung pada perkembangan kondisi ekonomi.
Ekonomi Selandia Baru mulai kembali tumbuh pada paruh kedua 2025. Akan tetapi, momentumnya sempat tertahan akibat konflik di Timur Tengah yang memicu lonjakan harga energi.
Baca Juga: Piala Dunia: 30 Juta Penonton Saksikan Kekalahan AS dari Belgia, Rekor Baru Tercipta
Dengan mulai meredanya harga minyak, pembuat kebijakan berharap tekanan terhadap rumah tangga dan dunia usaha berkurang sehingga mampu menopang pertumbuhan sekaligus membantu menurunkan inflasi.
Langkah RBNZ memperketat kebijakan moneter sejalan dengan tren global. Sejumlah bank sentral utama, termasuk Bank Sentral Eropa (ECB) dan Reserve Bank of Australia (RBA), juga telah menaikkan suku bunga, sementara Federal Reserve Amerika Serikat mengadopsi sikap yang lebih hawkish untuk menjaga inflasi tetap terkendali.














