Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Aktivitas ekonomi Amerika Serikat tercatat meningkat tipis dalam beberapa pekan terakhir. Namun di saat yang sama, harga-harga masih terus naik sementara tingkat ketenagakerjaan relatif stabil. Hal ini diungkapkan oleh Federal Reserve dalam laporan terbarunya yang dirilis Rabu (4/3).
Laporan tersebut juga menyoroti dampak kebijakan pengetatan imigrasi pemerintahan Donald Trump yang memicu gangguan bagi dunia usaha dan pekerja di sejumlah wilayah, termasuk Minnesota.
Melansir Reuters, secara keseluruhan, bank sentral AS menilai prospek ekonomi masih cukup optimistis. Dalam laporan “Beige Book” terbaru, sebagian besar wilayah ekonomi di bawah pengawasan bank sentral memperkirakan pertumbuhan ringan hingga moderat dalam beberapa bulan mendatang.
Laporan Beige Book sendiri merupakan rangkuman kondisi ekonomi dari berbagai wilayah di Amerika Serikat. Data ini dikumpulkan melalui survei serta wawancara dengan pelaku usaha, organisasi masyarakat, dan pemimpin bisnis di berbagai daerah.
Menurut laporan tersebut, pelaku usaha memperkirakan harga masih akan meningkat dalam waktu dekat, meskipun dengan laju yang lebih lambat dibandingkan sebelumnya.
Data dalam laporan ini dihimpun hingga 23 Februari, atau setelah keputusan Mahkamah Agung Amerika Serikat yang membatalkan sebagian tarif global yang diberlakukan pemerintahan Trump. Data ini juga dikumpulkan sebelum konflik militer antara AS dan Israel dengan Iran mulai pecah.
Baca Juga: AS Bunuh Tokoh Iran yang Ingin Bunuh Presiden AS, Pentagon: Trump Tertawa Terakhir
Secara umum, laporan ini menggambarkan ekonomi AS yang tetap cukup tangguh meskipun menghadapi berbagai tekanan kebijakan. Di antaranya adalah tarif impor yang mendorong kenaikan harga serta kebijakan pengetatan imigrasi yang berdampak pada pasokan tenaga kerja dan, di beberapa wilayah seperti Minneapolis, turut menekan permintaan konsumen.
Dari 12 wilayah ekonomi yang diawasi bank sentral, tujuh wilayah melaporkan aktivitas ekonomi yang meningkat. Sementara lima wilayah lainnya mencatat kondisi ekonomi yang stagnan atau menurun, sedikit lebih lemah dibanding laporan sebelumnya pada Januari.
Pada pertemuan 27–28 Januari lalu, Federal Reserve memutuskan mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50% hingga 3,75%. Keputusan ini diambil karena pasar tenaga kerja dinilai mulai stabil sementara inflasi masih relatif tinggi.
Sebelumnya, bank sentral telah menurunkan suku bunga dalam tiga pertemuan terakhir sepanjang 2025. Namun setelah itu, kebijakan tersebut dihentikan sementara.
Sejumlah data ekonomi terbaru menunjukkan sektor manufaktur masih tumbuh stabil. Namun harga grosir melonjak pada Januari dan belum terlihat tanda pelemahan yang signifikan di pasar tenaga kerja.
Baca Juga: Kilang Minyak Terbesar di Arab Saudi Jadi Sasaran Serangan Drone
Karena itu, banyak analis memperkirakan bank sentral kembali mempertahankan suku bunga pada pertemuan berikutnya yang dijadwalkan pada 17–18 Maret, bahkan sebelum konflik dengan Iran memicu lonjakan harga minyak dunia.
Jika tekanan inflasi kembali meningkat akibat kenaikan harga energi, bank sentral kemungkinan akan menunda pemangkasan suku bunga lebih lama.
Saat ini, pelaku pasar memperkirakan pemangkasan suku bunga berikutnya baru akan terjadi pada pertemuan 28–29 Juli.
Pada saat itu, mantan gubernur bank sentral Kevin Warsh diperkirakan sudah menjabat sebagai pimpinan baru bank sentral AS. Trump pada Rabu juga telah mengajukan pencalonan Warsh ke Senat untuk menggantikan Ketua Jerome Powell.
Masa jabatan Powell sebagai pimpinan bank sentral dijadwalkan berakhir pada pertengahan Mei.
Dampak pengetatan imigrasi
Laporan Beige Book juga menyoroti dampak kebijakan pengetatan imigrasi terhadap pasar tenaga kerja dan aktivitas ekonomi.
Para pembuat kebijakan bank sentral menilai pasar tenaga kerja saat ini mulai stabil. Namun inflasi masih menjadi persoalan yang belum sepenuhnya teratasi, meskipun diperkirakan akan mereda seiring berkurangnya dampak tarif impor.
Banyak pelaku usaha di berbagai wilayah AS mengaku masih menghadapi kenaikan biaya akibat tarif perdagangan.
Sebagai contoh, importir bunga di wilayah Boston melaporkan telah menaikkan harga untuk ketiga kalinya dalam 12 bulan terakhir. Sementara seorang pelaku usaha di wilayah Dallas mengaku harga bahan baku sering naik tanpa pemberitahuan, bahkan terkadang bisa melonjak hingga dua kali lipat.
Meski demikian, banyak perusahaan memilih menahan harga jual meskipun biaya produksi meningkat karena konsumen kini semakin sensitif terhadap harga.
Laporan tersebut juga menunjukkan pasokan tenaga kerja masih lebih besar dibanding permintaan. Bahkan sebuah perusahaan jasa keuangan di wilayah San Francisco mengaku baru saja merekrut kandidat dengan pengalaman puluhan tahun untuk posisi level pemula.
Di sisi lain, pemutusan hubungan kerja masih relatif terbatas dan sebagian besar terjadi di sektor teknologi.
Kekhawatiran bahwa kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) akan menggantikan pekerja juga belum terlihat nyata dalam laporan terbaru ini.
Tonton: Awal 2026 Positif! Kemendag Sebut Ekspor RI Surplus US$ 0,95 Miliar
Beberapa perusahaan besar bahkan masih aktif merekrut lulusan perguruan tinggi karena mempertimbangkan kebutuhan tenaga kerja jangka panjang dan keyakinan bahwa teknologi AI justru akan meningkatkan produktivitas bisnis.
Namun dampak kebijakan imigrasi terlihat cukup besar di wilayah Minneapolis. Penegakan aturan terhadap imigran tanpa dokumen menyebabkan gangguan pada aktivitas bisnis dan tenaga kerja.
Salah satu perusahaan jasa lanskap di Minnesota melaporkan kesulitan mencari pengganti pekerja yang terdampak kebijakan tersebut.
Selain itu, pekerja, pemasok, hingga pelanggan dilaporkan merasa takut untuk bepergian. Nilai izin pembangunan non-perumahan di kota tersebut bahkan turun ke level terendah dalam satu dekade.
Sebuah survei juga menunjukkan penurunan tajam jumlah pengunjung di kawasan Minneapolis–St. Paul, terutama pada sektor ritel dan layanan makanan.













