kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.639.000   15.000   0,57%
  • USD/IDR 17.676   -107,00   -0,60%
  • IDX 6.668   72,11   1,09%
  • KOMPAS100 872   13,18   1,53%
  • LQ45 663   10,90   1,67%
  • ISSI 232   2,15   0,94%
  • IDX30 371   5,78   1,58%
  • IDXHIDIV20 459   8,65   1,92%
  • IDX80 100   1,57   1,60%
  • IDXV30 127   2,77   2,24%
  • IDXQ30 119   2,33   2,00%

Beri Kesempatan Disinflasi, Waller Redakan Ekspektasi Kenaikan Bunga The Fed


Jumat, 04 September 2026 / 05:48 WIB
Beri Kesempatan Disinflasi, Waller Redakan Ekspektasi Kenaikan Bunga The Fed
ILUSTRASI. Gubernur Federal Reserve (The Fed) Christopher Waller (REUTERS/Kylie Cooper)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Gubernur Federal Reserve Christopher Waller memberikan sinyal bahwa The Fed dapat mempertahankan suku bunga pada pertemuan September apabila data inflasi Amerika Serikat (AS) menunjukkan tekanan harga terus mereda.

Waller mengatakan, keputusan kebijakan moneter pada pertemuan The Fed 15-16 September akan sangat bergantung pada data inflasi Agustus.

Baca Juga: Harga Emas Melonjak 2% Kamis (3/9), Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed Mereda

"Jika ada kemajuan berkelanjutan menuju target 2%, saya bersedia mendukung untuk mempertahankan suku bunga kebijakan pada level saat ini," ujar Waller dalam acara Reuters NEXT Newsmaker di Washington, Kamis (3/9/2026).

Namun, Waller menegaskan bahwa opsi kenaikan suku bunga masih terbuka apabila inflasi kembali meningkat.

"Jika inflasi muncul lebih tinggi dari perkiraan, saya akan mempertimbangkan kenaikan suku bunga" pada pertemuan 15-16 September, katanya.

Saat ini, suku bunga kebijakan The Fed berada di kisaran 3,50%-3,75%. Menurut Waller, level tersebut hanya sedikit membatasi permintaan agregat.

Karena itu, percepatan inflasi yang tidak terlalu besar sekalipun dapat membuat dirinya mendukung kebijakan moneter yang lebih ketat.

Waller mengakui inflasi AS masih berada secara signifikan di atas target The Fed sebesar 2%. Namun, dia menilai inflasi telah menunjukkan kemajuan secara perlahan tetapi berkelanjutan menuju target tersebut.

Baca Juga: Harga Minyak Bervariasi Kamis (3/9), Pasar Cermati Eskalasi Konflik Timur Tengah

"Give Disinflation a Chance"

Dalam sesi setelah pernyataan resminya, Waller mengatakan dirinya cenderung memberikan waktu bagi data ekonomi terbaru untuk memastikan bahwa tekanan harga memang mulai mereda.

Waller bahkan menggunakan referensi dari lagu terkenal John Lennon untuk menggambarkan pendekatannya terhadap kebijakan moneter.

"Saya akan memparafrasekan John Lennon di sini. Beri kesempatan bagi disinflasi," ujar Waller.

Menurut dia, bukan berarti The Fed harus menunggu hingga tahun depan untuk mengambil keputusan. Namun, bank sentral AS perlu melihat apakah terdapat perbaikan lebih lanjut pada tekanan inflasi.

"Saya tidak mengatakan mari kita tunggu sampai tahun depan, tetapi mari kita lihat apakah kita mendapatkan sedikit perbaikan," katanya.

Baca Juga: Sektor Keuangan Global Catat Pertumbuhan Terkuat dalam Lebih dari Lima Tahun

Inflasi Jadi Fokus Utama

Investor sebelumnya memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan The Fed bulan ini cukup besar.

Dalam beberapa pekan terakhir, sejumlah pejabat The Fed menyampaikan kekhawatiran terhadap inflasi.

Sebagian pejabat membuka peluang kenaikan suku bunga, sementara lainnya menilai kebijakan perlu disesuaikan untuk mengembalikan inflasi yang masih berada di atas target ke level 2%.

Pekan lalu, Ketua The Fed Kevin Warsh juga memberikan sinyal bahwa bank sentral kemungkinan perlu mengambil tindakan apabila tekanan inflasi tidak menunjukkan tanda-tanda mereda.

Setelah pernyataan Waller, kontrak berjangka saham AS bergerak relatif datar. Namun, trader memangkas ekspektasi kenaikan suku bunga pada pertemuan September.

Peluang kenaikan suku bunga kini diperkirakan sekitar 50%, turun dari sekitar 60% sebelumnya.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS juga turun seiring perubahan ekspektasi terhadap kebijakan moneter The Fed. Yield bergerak berlawanan arah dengan harga obligasi.

Baca Juga: Pertumbuhan Ekonomi Global Capai Level Tertinggi dalam 27 Bulan

Risiko Inflasi Masih Ada

Waller mengatakan, inflasi menjadi fokus utama kebijakan The Fed saat ini karena perekonomian AS secara keseluruhan masih menunjukkan kinerja yang solid, sementara pasar tenaga kerja relatif stabil.

Dia menilai sejumlah faktor yang sebelumnya mendorong inflasi kemungkinan tidak akan menjadi sumber tekanan harga yang besar dalam jangka panjang.

"Saya tidak melihat kenaikan harga energi dan tarif saat ini sebagai sumber tekanan inflasi yang signifikan dan berkelanjutan," ujar Waller.

Menurutnya, dampak kenaikan pajak impor atau tarif kemungkinan besar sudah mulai diteruskan ke dalam perekonomian.

Sementara itu, kenaikan harga energi akibat perang di Timur Tengah belum menunjukkan dampak yang meluas terhadap harga barang dan jasa lainnya.

Meski demikian, Waller mengingatkan masih terdapat sejumlah risiko kenaikan inflasi.

Baca Juga: Nvidia Resmi Umumkan Akuisisi Hugging Face Senilai US$ 12,93 Miliar

Harga energi kembali meningkat dan masih jauh lebih tinggi dibandingkan awal 2026. Selain itu, perekonomian AS menghadapi tekanan terhadap harga barang teknologi akibat pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan (AI), serta kemungkinan adanya kenaikan tarif tambahan.

Dengan kondisi tersebut, arah kebijakan The Fed pada September masih sangat bergantung pada data inflasi dan indikator ekonomi yang akan dirilis menjelang pertemuan bank sentral AS.


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×