kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.639.000   15.000   0,57%
  • USD/IDR 17.676   -107,00   -0,60%
  • IDX 6.668   72,11   1,09%
  • KOMPAS100 872   13,18   1,53%
  • LQ45 663   10,90   1,67%
  • ISSI 232   2,15   0,94%
  • IDX30 371   5,78   1,58%
  • IDXHIDIV20 459   8,65   1,92%
  • IDX80 100   1,57   1,60%
  • IDXV30 127   2,77   2,24%
  • IDXQ30 119   2,33   2,00%

Harga Minyak Bervariasi Kamis (3/9), Pasar Cermati Eskalasi Konflik Timur Tengah


Jumat, 04 September 2026 / 05:34 WIB
Harga Minyak Bervariasi Kamis (3/9), Pasar Cermati Eskalasi Konflik Timur Tengah
ILUSTRASI. Harga Minyak (REUTERS/Leonardo Fernandez Viloria)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Harga minyak mentah bergerak bervariasi pada perdagangan Kamis (3/9/2026), setelah investor menimbang eskalasi konflik di Timur Tengah dengan peluang tercapainya kesepakatan damai antara Rusia dan Ukraina.

Melansir Reuters, harga minyak Brent berjangka ditutup turun 11 sen atau 0,12% menjadi US$ 95,52 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 29 sen atau 0,32% menjadi US$ 91,30 per barel.

Baca Juga: Sektor Keuangan Global Catat Pertumbuhan Terkuat dalam Lebih dari Lima Tahun

Kedua kontrak minyak tersebut sempat menyentuh level tertinggi dalam enam pekan pada perdagangan Kamis.

Harga minyak mendapat dukungan setelah serangan Amerika Serikat (AS) terhadap Iran serta ancaman terbaru Israel terhadap Teheran kembali meningkatkan kekhawatiran mengenai potensi gangguan pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah.

Menteri Kesehatan Iran mengatakan serangan AS pada Selasa (1/9) malam menewaskan 18 orang dan melukai 108 lainnya.

Bulan Sabit Merah Iran juga melaporkan empat orang tewas dan 67 lainnya terluka dalam sebuah acara pernikahan di dekat pesisir Selat Hormuz. Sementara itu, tiga pilot Angkatan Darat Iran dilaporkan tewas dalam serangan tersebut.

Serangan itu menjadi salah satu pertukaran tembakan terbesar antara AS dan Iran sejak Juli. Konflik yang dimulai setelah serangan AS-Israel pada akhir Februari tersebut kini memasuki bulan ketujuh.

Baca Juga: WNI Peserta Magang Di Jepang Meninggal, Terjepit Mesin Pabrik Di Hiroshima

Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan, Washington tidak berencana melakukan pembicaraan dengan Iran kecuali Teheran menghentikan serangan terhadap kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz.

"Pasar akan mencermati apakah serangan AS pada awal pekan ini merupakan kejadian satu kali atau bukan," ujar analis UBS Giovanni Staunovo.

Ancaman Israel Jadi Sentimen Pendukung

Sentimen terhadap harga minyak juga datang dari Israel. Menteri Pertahanan Israel Israel Katz kembali memperingatkan bahwa Israel akan "melumpuhkan" infrastruktur militer dan sipil Iran, termasuk fasilitas energi, apabila Teheran melancarkan serangan terhadap Israel.

Analis Saxo Bank Ole Hansen menilai, komentar Katz turut mendorong kenaikan harga minyak pada perdagangan Kamis.

Ancaman terhadap fasilitas energi Iran menjadi perhatian pasar karena eskalasi konflik berpotensi mengganggu pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah yang merupakan salah satu pusat produksi energi dunia.

Namun, tekanan terhadap harga minyak datang dari perkembangan positif terkait perang Rusia-Ukraina.

Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan terdapat peluang untuk mencapai kesepakatan guna mengakhiri perang di Ukraina. Putin juga menyebut sejumlah negara, termasuk AS dan China, siap mendukung penyelesaian konflik tersebut.

Baca Juga: Pertumbuhan Ekonomi Global Capai Level Tertinggi dalam 27 Bulan

Menurut Phil Flynn dari Price Futures Group, pernyataan Putin dapat meredakan kekhawatiran terkait gangguan pasokan bahan bakar Rusia.

Jika serangan terhadap kilang minyak Rusia berkurang dan produksi kembali normal, pasokan energi global berpotensi meningkat sehingga memberikan tekanan terhadap harga minyak.

Kapal Melintasi Selat Hormuz Berkurang

Di sisi lain, aktivitas pelayaran di Selat Hormuz menunjukkan penurunan.

Data pelayaran awal menunjukkan hanya enam kapal komoditas yang melintasi Selat Hormuz pada Rabu (2/9). Jumlah tersebut turun dari 11 kapal sehari sebelumnya dan jauh di bawah rata-rata 10 hari yang mencapai sekitar 13 kapal per hari.

"Pasar minyak masih ketat, dengan persediaan minyak global yang terus menurun sehingga mendorong harga lebih tinggi," kata Staunovo.

Iran juga menambahkan sejumlah kapal ke dalam daftar kapal yang dianggap tidak mematuhi aturan. Kapal-kapal tersebut dapat dikenai denda, penyitaan atau penahanan apabila mencoba melintasi Selat Hormuz.

Meski demikian, Iran masih mengizinkan kapal-kapal berbendera Irak untuk melewati jalur strategis tersebut.

Baca Juga: Nvidia Resmi Umumkan Akuisisi Hugging Face Senilai US$ 12,93 Miliar

Sementara itu, Irak meningkatkan ekspor minyak menjadi sekitar 2,34 juta barel per hari (bpd) pada Agustus, dari sekitar 1,35 juta bpd pada Juli.

Dua pejabat energi Irak mengatakan ekspor pada September juga diperkirakan kembali meningkat. Diskon harga yang besar serta persetujuan Iran terhadap kapal tanker Irak disebut turut mendorong pembeli meningkatkan permintaan minyak Irak.




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×