Sumber: Global Times | Editor: S.S. Kurniawan
Menurut dia, AS, dengan berlindung di balik "demokrasi, hak asasi manusia, dan otonomi" Hong Kong, menggunakan berbagai cara untuk mencampuri urusan bekas jajahan Inggris itu.
Dan, AS menghasut untuk pemisahan diri serta kegiatan kriminal yang mengganggu tatanan sosial.
"Semua yang disebut sanksi terhadap pejabat Pemerintah China dan Hong Kong menunjukkan bahwa AS adalah tangan hitam terbesar di balik kekacauan sosial di Hong Kong," ungkap Zheng.
"Tidak benar AS peduli dengan demokrasi, hak asasi manusia, dan otonomi Hong Kong. Memang benar mereka ingin membuat kekacauan di Hong Kong dan menyabotase pembangunan stabil China," imbuhnya.
Baca Juga: Cegah penyebaran corona, Hong Kong batasi makan di restoran, salon dan gym ditutup
Dia menegaskan, China menentang setiap pasukan asing yang mencampuri urusan Hong Kong, secara tegas menjalankan prinsip "satu negara, dua sistem," serta menjaga keamanan dan kedaulatan nasional.
Karena itu, China mendesak AS untuk segera memperbaiki kesalahannya dan membatalkan keputusan soal sanksi, serta berhenti mencampuri urusan Hong Kong.
"Jika tidak, konsekuensi serius hanya dapat ditanggung sepenuhnya oleh AS," tegas Zheng.













