kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Berpakaian hitam, aksi demonstrasi di Hong Kong terbesar sejak pemilu lokal


Senin, 09 Desember 2019 / 06:22 WIB
Berpakaian hitam, aksi demonstrasi di Hong Kong terbesar sejak pemilu lokal
ILUSTRASI. Aksi demonstrasi Hong Kong pada Minggu, 8 Desember 2019. REUTERS/Danish Siddiqui

Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - HONG KONG. Kerumunan besar para demonstran yang berpakaian serba hitam memadati Hong Kong pada hari Minggu (8/12) dalam aksi unjuk rasa anti-pemerintah terbesar sejak pemilihan lokal bulan lalu.

Nyanyian "Berjuang untuk kebebasan! Berdiri dengan Hong Kong!” bergema ketika para demonstran, yang terdiri dari pelajar hingga profesional dan lansia, berbaris dari Victoria Park di distrik perbelanjaan yang ramai menuju pusat keuangan di negara kota tersebut.

Ketika gelap, beberapa pengunjuk rasa menyemprotkan grafiti anti-Beijing ke sebuah gedung Bank of China. Polisi anti huru-hara berdiri berjaga-jaga, bertahan ketika pengunjuk rasa meneriakkan "anjing" dan "kecoak."

Baca Juga: Hong Kong bersiap hadapi aksi unjuk rasa besar, Minggu ini

Negara bekas koloni Inggris dengan populasi lebih dari 7,4 juta orang ini kembali ke pemerintahan China pada tahun 1997. Hal itu diatur di bawah formula “Satu Negara, Dua Sistem” yang menjamin kebebasan yang tidak diizinkan di daratan China, akan tetapi banyak yang khawatir Beijing akan memperketat kekuasannya.

"Waktu Natal segera tiba, tetapi kami tidak dalam mood untuk merayakan lagi," kata Lawrence, seorang siswa berusia 23 tahun kepada Reuters.

Dia memegang poster yang berbunyi: "Harapan 2020 saya adalah hak pilih universal", sebuah rujukan pada tuntutan untuk pemungutan suara terbuka pada pemimpin kota, saat ini Carrie Lam yang didukung Beijing yang menjadi pemimpin yang tidak populer.

Baca Juga: WNI yang menulis soal demonstrasi Hong Kong dideportasi, wamenlu angkat bicara

China menyalahkan kerusuhan yang sudah berlangsung selama enam bulan akibat campur tangan pemerintah asing, termasuk Amerika Serikat dan Inggris.

Pada hari Sabtu, dua pemimpin Kamar Dagang Amerika di Hong Kong ditolak masuk ke kota tetangga China, Macau, tanpa penjelasan.

Lam di bawah tekanan

Lam mengatakan dia telah mendengar orang-orang tetapi tidak menawarkan konsesi meskipun partai-partai pro-demokrasi Hong Kong menang besar dalam pemilihan lokal dua minggu lalu. Mereka mendapatkan hampir 90% dari 452 kursi dewan distrik dalam jumlah suara terbanyak.

Baca Juga: Hong Kong siap guyur stimulus HK$ 4 miliar untuk dongkrak ekonomi

Pada aksi unjuk rasa hari Minggu, teriakan "lima tuntutan, tidak kurang" terdengar, mengacu pada tuntutan mulai dari pengunduran diri Lam hingga amnesti bagi tahanan.

"Saya akan berjuang untuk kebebasan sampai saya mati karena saya seorang warga Hong Kong," kata June, seorang ibu berusia 40 tahun berpakaian hitam yang duduk di rumput di Victoria Park kepada Reuters.

Polisi mengatakan mereka menangkap 11 orang lagi, dengan rentang usia 20 hingga 63 tahun, menyita senjata termasuk pisau tentara, petasan, peluru dan pistol semi-otomatis, selama berlangsung aksi protes.

Dulu, aksi kekerasan jarang terjadi di Hong Kong. Namun kini, kekerasan meningkat sepanjang tahun, ketika para pengunjuk rasa membakar kendaraan dan bangunan, melemparkan bom bensin, menjatuhkan puing-puing dari jembatan ke lalu lintas dan merusak pusat perbelanjaan. Polisi merespons dengan gas air mata, meriam air dan, kadang-kadang, tembakan langsung.

Baca Juga: Kabar terbaru, AS-China ternyata lebih dekat dengan kesepakatan dagang

Aksi unjuk rasa bersama pada bulan Juni atas RUU ekstradisi yang sekarang sudah ditarik akan memungkinkan seseorang untuk dikirim ke China daratan untuk diadili. Aksi itulah yang kemudian berkembang menjadi seruan demokrasi yang lebih luas.

Tidak ada komentar pada hari Minggu dari pemerintah Hong Kong, meskipun sehari sebelumnya pemerintah berjanji "dengan rendah hati" mendengarkan dan menerima kritik. Bos kepolisian baru menjanjikan pendekatan yang fleksibel untuk para pengunjuk rasa, dengan "baik pendekatan keras maupun lunak."

Baca Juga: China ke AS: Isu di Xinjiang bukan agama, tapi anti-terorisme dan anti-separatisme!

Sejak Juni, Hong Kong telah menyaksikan lebih dari 900 demonstrasi, prosesi, dan pertemuan publik, banyak yang berakhir dengan konfrontasi dengan kekerasan. Hampir 6.000 orang telah ditangkap.

Namun, Hong Kong relatif tenang sejak pemilihan 24 November. Sementara aksi demonstrasi muncul hampir setiap hari, kadang-kadang mengganggu bisnis, sekolah, dan transportasi, kehidupan sebagian besar berjalan seperti biasa.

 


Tag


TERBARU

Close [X]
×