Sumber: Reuters | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Menteri Keuangan AS Scott Bessent membela berbagai kebijakan ekonomi pemerintahan Trump di hadapan para anggota parlemen pada hari Selasa (15/9/2026), mulai dari intervensi pasar mata uang dan obligasi hingga keamanan AI, serta mengungkapkan rencana untuk bertemu dengan mitranya dari China akhir pekan ini.
Mengutip Reuters, Rabu (16/9/2026), Bessent mengatakan dalam sidang Komite Jasa Keuangan DPR bahwa Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping akan melanjutkan diskusi pekan depan mengenai Iran dan hubungan keuangan China dengan Teheran.
Washington berupaya mengucilkan Iran dari sistem keuangan Barat seiring konflik Iran yang telah memasuki bulan ketujuh.
Sidang tersebut secara resmi membahas sistem keuangan internasional, termasuk reformasi Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia, namun anggota parlemen terus menghujani Bessent dengan pertanyaan mengenai isu-isu yang lebih mendesak, seperti kondisi pasar keuangan dan ekonomi, serta langkah-langkah keuangan pemerintah terhadap Iran.
Baca Juga: Biaya Perang AS-Iran Capai US$ 38 Miliar, Diperkirakan Naik US$ 3 Miliar Per Bulan
Bessent mengatakan kepada wartawan bahwa kenaikan imbal hasil obligasi disebabkan oleh "isu-isu global" saat ia hendak memasuki ruang sidang. Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun mencapai level tertinggi sejak 2007 pada hari Selasa, di tengah aksi jual obligasi global yang dialami oleh sebagian besar negara ekonomi besar lainnya.
Para analis mengaitkan kenaikan imbal hasil obligasi AS ini dengan harga minyak yang lebih tinggi dan ekspektasi bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunga acuannya minggu ini, serta persaingan modal akibat belanja kecerdasan buatan (AI) dan kekhawatiran mengenai arah kebijakan fiskal AS.
Dalam sidang tersebut, Bessent mengakui bahwa kenaikan imbal hasil tenor 10 tahun mencerminkan "perlunya mengatasi defisit," di antara faktor-faktor lainnya.
Imbal hasil obligasi AS tetap naik meskipun Departemen Keuangan memutuskan untuk melipatgandakan volume pembelian kembali (buyback) utang jangka panjang—langkah yang disebut Bessent sebagai cara untuk menyuntikkan likuiditas dan meredam kenaikan imbal hasil, atau setidaknya memperlambat lajunya.
Bessent mengatakan kepada para anggota parlemen bahwa langkah pembelian kembali tersebut berhasil mencegah kenaikan imbal hasil lebih lanjut dan mempertegas kredibilitas AS.
"Ada skenario alternatif mengenai apa dampaknya jika langkah itu tidak diambil—dan kemudian kami berhasil melaksanakan dua lelang obligasi pemerintah yang paling sukses dalam 20 tahun terakhir," ujar Bessent dalam sidang kongres tersebut. "Sejak Presiden Trump menjabat, (pasar obligasi AS) telah menjadi pasar obligasi dengan kinerja terbaik di negara-negara maju."
Ia juga membela intervensi bersama Departemen Keuangan dengan Jepang untuk memperkuat mata uang Jepang, dengan mengatakan bahwa AS membeli yen dalam "jumlah nominal" sebagai sinyal dukungan terhadap kebijakan Jepang, dan bahkan memperoleh keuntungan puluhan juta dolar dari proses tersebut.
"Yen yang lebih kuat lebih menguntungkan bagi ekspor Amerika. Yen yang lebih kuat berarti pemerintah Jepang tidak perlu menjual aset-aset AS untuk membiayai intervensi mata uang asing," tambah Bessent.
Baca Juga: WTO Beri Alarm! Perdagangan Global di Titik Kritis, Ekonomi Dunia Bisa Tertekan
Soroti Penurunan Tingkat Kemiskinan
Sejumlah anggota parlemen dari Partai Demokrat mendesak Bessent untuk memberikan penjelasan mengenai kondisi ekonomi, inflasi, dan kenaikan biaya hidup, serta mengaitkan hal-hal tersebut dengan perang Iran dan lonjakan harga minyak global.
Bessent menyalahkan pemerintahan Biden sebelumnya atas inflasi yang terjadi dan menyatakan bahwa kondisi masyarakat Amerika lebih baik di bawah kepemimpinan Trump. Ia merujuk pada data terbaru dari Biro Sensus AS yang menunjukkan bahwa persentase penduduk Amerika yang hidup dalam kemiskinan tahun lalu turun 0,5 poin persentase ke tingkat terendah dalam catatan sejarah, yakni 10,2%, dengan jumlah 34,5 juta orang Amerika hidup dalam kemiskinan. Pendapatan rumah tangga median meningkat 2,6% tahun lalu mencapai rekor tertinggi sebesar $87.460.
Bessent juga ditanya apakah usulan Trump—untuk memberikan pembayaran sebesar $5.000 kepada setiap warga Amerika jika Partai Republik mempertahankan mayoritas di Kongres pada pemilihan bulan November—merupakan usulan yang serius. Ia mengatakan akan bekerja sama dengan Ketua DPR Mike Johnson untuk merealisasikan pembayaran tersebut jika persetujuan Kongres diperlukan.
Bessent menyatakan bahwa kekuatan dolar AS mencerminkan kredibilitas pemerintahan Trump.
"Dolar yang kuat bukan sekadar angka di layar; hal itu merupakan cerminan dari serangkaian tindakan nyata. Apa yang kita lihat pada pemerintahan ini adalah penciptaan kepastian di bidang regulasi, perpajakan, perdagangan, dan energi, yang pada gilirannya mendatangkan triliunan dolar ke AS," ujar Bessent.














