Sumber: Reuters | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Perang AS melawan Iran yang telah berlangsung selama enam bulan sejauh ini menelan biaya US$ 38 miliar, dan jumlah tersebut diproyeksikan akan meningkat sebesar US$ 3 miliar per bulan, demikian dilaporkan oleh Congressional Budget Office (CBO), lembaga nonpartisan Kongres yang menangani perhitungan anggaran.
Mengutip Reuters, Rabu (16/9/2026), menurut perhitungan Congressional Budget Office (CBO) yang mencakup pengeluaran hingga 1 Agustus, perang ini diperkirakan akan meningkatkan inflasi sebesar 0,5% pada tiga bulan pertama tahun 2027.
Meningkatnya biaya tersebut telah menguras persediaan amunisi AS dan mendorong kenaikan harga energi, sehingga menimbulkan kekhawatiran mengenai kemampuan negara tersebut untuk merespons potensi konflik lain serta menambah tekanan pada anggaran federal yang sudah terbebani.
Angka biaya tersebut mendekati angka US$ 37,5 miliar yang dilaporkan oleh Menteri Pertahanan Pete Hegseth dalam sidang dengar pendapat Senat pada 21 Juli.
Baca Juga: UEFA Tunjuk Allianz Arena dan Camp Nou Jadi Tuan Rumah Final Liga Champions
CBO menyatakan bahwa sebagian besar biaya tersebut berasal dari penggunaan cepat amunisi, dengan perkiraan waktu lima tahun untuk memulihkan kembali persediaan AS.
Reuters melaporkan pada bulan Agustus bahwa AS telah menggunakan "hampir seluruh" rudal presisi jarak jauhnya selama perang berlangsung.
Departemen Pertahanan tidak bekerja sama dengan auditor keuangan Kongres, demikian dilaporkan oleh CBO.
Juru bicara Gedung Putih, Anna Kelly, menggambarkan tindakan Presiden Donald Trump terhadap Iran sebagai "langkah tegas" untuk mencegah Teheran membahayakan personel atau kepentingan AS. Dalam sebuah pernyataan, ia mengatakan bahwa militer AS memiliki "amunisi dan persediaan yang lebih dari cukup untuk memenuhi seluruh tujuan strategis Panglima Tertinggi dan bahkan lebih dari itu."
Kepala juru bicara Pentagon, Sean Parnell, membantah temuan laporan mengenai kekurangan amunisi tersebut dan menyatakan, "Kami memiliki segala yang diperlukan untuk melancarkan serangan pada waktu dan tempat yang dipilih oleh presiden."
Penyelidikan mengenai biaya ini dilakukan atas permintaan anggota senior Partai Demokrat di Komite Anggaran DPR AS, Brendan Boyle dari Pennsylvania.
"Perang yang membawa bencana di Iran yang dilakukan Donald Trump telah merenggut nyawa anggota militer Amerika dan menyebabkan yang lainnya terluka," ujar Boyle dalam sebuah pernyataan.
Baca Juga: WTO Beri Alarm! Perdagangan Global di Titik Kritis, Ekonomi Dunia Bisa Tertekan
"Di luar dampak kemanusiaan tersebut, laporan nonpartisan dari CBO ini memperjelas bahwa perang ini juga telah menelan biaya puluhan miliar dolar dari uang pembayar pajak Amerika—dan jumlahnya terus bertambah—sembari terus memicu kenaikan biaya."
Delapan belas anggota militer AS telah gugur dalam perang Iran.
Laporan tersebut tidak mencakup biaya serangan baru-baru ini terhadap kapal-kapal komersial di Selat Hormuz serta serangan terhadap instalasi militer AS di kawasan tersebut.
Laporan itu juga tidak memperhitungkan biaya pinjaman terkait pendanaan perang, yang dapat menambah puluhan miliar dolar pada total biaya keseluruhan.
Dampak Terhadap Kesiapan AS
Analisis CBO menemukan bahwa perang tersebut dapat "berdampak luas terhadap postur pertahanan AS dan ekonomi domestik."
Kekurangan amunisi vital, termasuk rudal pencegat, berisiko menghambat respons Pentagon jika terjadi konflik besar lainnya, seperti potensi permusuhan yang melibatkan China dan Taiwan, ungkap CBO.
Dalam sidang dengar pendapat Senat bulan Juli, Hegseth mendesak pengucuran dana darurat sebesar hampir 90 miliar dolar untuk mengisi kembali persediaan amunisi.
"Tanpa dana ini, kita akan menghadapi kekurangan yang kritis," kata Hegseth.
Inspektur Jenderal Pentagon melaporkan pekan ini bahwa Iran telah merusak atau menghancurkan ratusan bangunan di pangkalan AS di Timur Tengah, serta berbagai pesawat termasuk jet tempur, pesawat pengisi bahan bakar, dan pesawat nirawak (drone).
Laporan tersebut mencatat biaya perang hingga 19 Juni mencapai US$ 33,4 miliar, dengan rincian bahwa jumlah itu mencakup sekitar US$ 184 juta akibat kerusakan fasilitas diplomatik AS akibat serangan Iran.
Guncangan sektor energi yang dipicu oleh serangan di Selat Hormuz—jalur perairan sempit yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia sebelum perang—serta serangan terhadap fasilitas energi di negara-negara Teluk tetangga, telah menyebabkan lonjakan harga yang tajam bagi konsumen maupun produsen global.
Meningkatnya biaya perang juga berisiko memperparah kondisi fiskal AS yang kian memburuk. Total utang publik negara tersebut telah melampaui angka US$ 40 triliun pada bulan Agustus.
Baca Juga: China Kini Bisa Larang Warga ke Luar Negeri karena Risiko Keamanan Teknologi
Trump kerap membandingkan perang melawan Iran ini dengan invasi AS ke Irak dan Afghanistan yang terjadi setelah serangan 11 September 2001.
Menurut laporan Reuters, perang AS di Irak yang berlangsung selama delapan tahun—dan melibatkan lebih dari 100.000 tentara darat pada puncaknya—menelan biaya US$ 2 triliun.
Sementara itu, konflik AS di Afghanistan yang berlangsung selama dua dekade—dan juga melibatkan lebih dari 100.000 tentara pada masa intensitas tertingginya—menelan biaya US$ 2,3 triliun.














