Sumber: Reuters | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID - BOSTON/SINGAPURA/PARIS. Binance, bursa mata uang kripto terbesar di dunia, berupaya memulihkan kepercayaan publik setelah platformnya mengalami peretasan dengan rekor kerugian sebesar US$ 6,3 miliar pada Jumat (30/10/2026).
Binance berjanji akan menanggung seluruh kerugian menggunakan dana internal dan memungkinkan nasabah untuk kembali bertransaksi dalam beberapa hari ke depan.
Harga mata uang kripto turun menyusul berita peretasan tersebut. Para analis menduga Korea Utara sebagai pihak di balik serangan ini, yang disebut-sebut sebagai pencurian finansial terbesar sepanjang masa.
Saham perusahaan-perusahaan yang bergerak di sektor kripto, seperti Coinbase, Strategy, dan Robinhood, turut anjlok.
Baca Juga: Bursa Kripto Binance Dibobol, Aset Kripto Senilai US$ 6,3 Miliar Raib
Binance menyatakan, dana nasabah aman dan pihaknya tengah bekerja sama dengan mitra industri untuk membekukan sebagian aset yang terdampak; sejauh ini, sekitar US$ 3 miliar aset telah terlacak.
Meski tidak merinci status sisa $3,3 miliar lainnya, salah satu CEO Binance, Yi He, mengungkapkan melalui unggahan di platform X bahwa US$ 3 miliar tersebut hanya mencakup sekitar 2% dari total aset pengguna dan cadangan publik yang dimiliki perusahaan.
Pada Jumat sore waktu Amerika Serikat bagian timur, pihak bursa juga menyampaikan, tim teknis mereka menargetkan untuk memulihkan layanan penarikan dana dalam waktu sekitar 34 jam.
Binance tengah melakukan tinjauan keamanan menyeluruh dan berencana untuk melakukan pengambilan data (snapshot) bukti cadangan (proof-of-reserves) dalam 12 jam ke depan, dengan hasil yang diperkirakan akan tersedia pada hari Senin.
Binance menyatakan telah menyisihkan sekitar US$ 6,34 miliar dari dana internal perusahaan untuk menutupi kerugian tersebut. Menurut situs webnya, perusahaan tersebut memiliki dana cadangan bitcoin senilai US$ 1 miliar yang dirancang untuk melindungi aset nasabah jika terjadi pelanggaran keamanan.
Pendiri Binance, Changpeng Zhao, menyatakan melalui platform X, perusahaannya memiliki saham di SpaceX dengan nilai lebih dari US$ 1 miliar.
Serangan Kompleks
Salah satu CEO Binance lainnya, Richard Teng, mengungkapkan dalam sebuah unggahan di X bahwa insiden tersebut merupakan "serangan kompleks" yang tidak dilakukan oleh satu orang saja.
Serangan ini melibatkan laptop yang telah disusupi serta perangkat lunak berbahaya yang dirancang untuk menghapus jejak aktivitas pelaku secara langsung, sehingga "menyulitkan kami dalam melacak dan melakukan investigasi."
Teng menjelaskan, para peretas berhasil memanipulasi sistem persetujuan transaksi untuk mengeluarkan dana dari hot wallet (dompet digital yang terhubung ke internet) milik Binance, dengan cara yang tidak melalui prosedur persetujuan standar.
"Yakinlah bahwa kami terus berupaya tanpa henti untuk menyelesaikan masalah ini, memulihkan kerugian pengguna, dan menjaga kepercayaan Anda," tulis Teng seperti dikutip Reuters, Jumat (30/10/2026).
Baca Juga: Peretasan Binance US$ 6,3 Miliar Picu Kekhawatiran Likuiditas Pasar Kripto
Harga mata uang kripto secara umum mengalami penurunan, namun dampaknya masih terkendali.
Bitcoin sempat menyentuh level terendah dalam enam minggu di angka US$ 76.368, sementara ether turun lebih dari 3% ke level terendah dalam dua bulan di angka US$ 2.178, sebelum akhirnya pasar kembali stabil.
Saat ini, harga bitcoin berada di angka US$ 76.447 dan ether di level US$ 2.226. Token BNB milik Binance turun sekitar 6,4% dalam 24 jam terakhir menjadi US$ 696.
Didalangi Korea Utara?
Insiden ini menambah daftar panjang pencurian mata uang kripto. Menurut para peneliti di TRM Labs, tahun lalu terjadi hampir 150 serangan yang mengakibatkan pencurian mata uang kripto senilai US$ 2,9 miliar.
Perusahaan analisis blockchain asal Inggris, Elliptic, menyatakan, "Insiden ini hampir bisa dipastikan merupakan pencurian tunggal terbesar yang pernah diketahui."
Menurut firma analisis blockchain asal AS, TRM Labs dan Chainalysis, sebagian besar aksi pencurian di Binance berlangsung dalam waktu sekitar 20 menit yang dimulai pada Kamis malam.
Serangan ini memiliki kemiripan dengan serangan-serangan besar sebelumnya yang diduga didalangi oleh Korea Utara.
TRM menyatakan bahwa para penyerang mampu memerintahkan dompet Binance untuk mengosongkan isinya ke dalam dompet yang dikendalikan oleh peretas. Kejadian ini serupa dengan peretasan di bursa kripto Bybit pada tahun 2025, yang menurut FBI didalangi oleh Korea Utara.
Menurut pihak berwenang Amerika Serikat dan Korea Selatan, serta para pakar keamanan siber, Korea Utara telah selama bertahun-tahun menggunakan unit siber yang berafiliasi dengan negara untuk melakukan spionase, pencurian finansial, dan penggalangan pendapatan.
Korea Utara membantah tuduhan tersebut. Perwakilan mereka di Jenewa maupun kedutaan besar mereka di Tiongkok tidak menanggapi permintaan untuk berkomentar.
Baca Juga: Binance Dibobol, Aset Kripto US$ 6,3 Miliar Terdampak dan Bitcoin Anjlok
Tanggapan Donald Trump
Saat ditanya pada hari Jumat apakah peretas Korea Utara berada di balik pencurian tersebut, Presiden AS Donald Trump mengatakan, ia tidak mengetahuinya, namun pemerintahannya sedang menyelidiki masalah ini.
"Ini adalah peretasan. Itulah masalahnya. Dulu, ada cara konvensional di mana Anda menandatangani cek dan menyerahkannya secara fisik. Sekarang situasinya berbeda; orang-orang bahkan tidak lagi melihat wujud uangnya. Jadi, menurut saya, hal ini memang cukup berbahaya," ujar Trump kepada para wartawan di Gedung Putih saat ditanya apakah dana yang dicuri tersebut dapat dipulihkan.
Namun, kata Trump,pihak Binance menyatakan situasi ini sudah cukup terkendali.
Menurut seseorang yang mengetahui masalah ini, Binance tengah bekerja sama dengan FBI dan Dinas Rahasia AS (US Secret Service).
FBI menyatakan, mereka mengetahui insiden tersebut dan sedang berkoordinasi dengan mitra terkait, baik dari sektor publik maupun swasta, untuk memahami cakupan aktivitas ini, mengevaluasi dampak yang mungkin timbul, serta melakukan koordinasi langkah-langkah investigasi yang tepat.
Secret Service menyatakan, para penyelidiknya bekerja sepanjang waktu bersama mitra-mitra kami di sektor swasta, termasuk Circle, untuk mengidentifikasi, membekukan, melacak, dan memulihkan dana yang dicuri dari Binance pada hari Kamis.
Penerbit stablecoin, Tether, menyatakan telah membekukan aset senilai hampir US$ 1,57 miliar yang terkait dengan insiden tersebut, sementara Circle membekukan lebih dari US$ 800 juta.
Otoritas Regulasi Layanan Keuangan (Financial Services Regulatory Authority) Abu Dhabi, yang menerbitkan izin operasional utama bagi Binance menyatakan, mereka berkoordinasi erat dengan Binance dan terus memantau insiden tersebut. Grup investasi yang didukung Abu Dhabi, MGX—yang menjadi investor minoritas di Binance tahun lalu—menolak untuk memberikan komentar.
Baca Juga: Binance Bekukan Aset Kripto US$ 2,54 Miliar, Dugaan Peretasan Masih Diselidiki
Implikasi Keamanan
Menurut para analis, selain potensi hilangnya aset, pelanggaran keamanan ini kemungkinan akan membawa dampak yang lebih luas bagi sektor kripto, yang saat ini memang tengah berada di bawah tekanan akibat suku bunga AS yang lebih tinggi serta melemahnya permintaan dari pembeli dana yang diperdagangkan di bursa (ETF).
"Hal ini dapat semakin menurunkan selera risiko dan mendorong para investor untuk mengevaluasi kembali keamanan aset yang mereka simpan di bursa terpusat," ujar Tim Sun, peneliti senior di HashKey Group.
Investor Michael Saylor, salah satu pendukung utama bitcoin, menulis dalam sebuah unggahan di X berharap Binance akan "memenuhi janjinya" untuk memastikan tidak ada nasabah yang mengalami kerugian.
"Industri kita akan belajar dari insiden ini, memperkuat keamanan, serta bangkit menjadi lebih kuat dan tangguh," tulis Saylor pada hari Jumat.
Binance, platform yang memungkinkan pengguna untuk membeli, menjual, dan memperdagangkan aset digital, memiliki 335 juta pengguna terdaftar di seluruh dunia. Berdasarkan laporan tahunan 2025, perusahaan ini mengelola aset senilai sekitar US$ 162,8 miliar.
Pencurian di Binance ini memicu reaksi yang relatif terkendali dari kalangan penggemar kripto di dunia maya.
Di platform media sosial Reddit, diskusi mengenai pelanggaran keamanan ini diwarnai dengan beragam respons—mulai dari humor dan keyakinan terhadap kekuatan finansial bursa tersebut, hingga pertanyaan mengenai bagaimana pencurian dalam skala sebesar itu bisa terjadi.
Reaksi ini sangat kontras dengan kepanikan yang muncul saat runtuhnya FTX pada November 2022, di mana keraguan yang kian memuncak mengenai kemampuan bursa tersebut dalam mengembalikan dana nasabah memicu kemarahan publik secara daring.
"Berdasarkan data historis, kami menemukan peretasan hot wallet—bahkan yang berskala besar—secara historis tidak memberikan dampak berarti terhadap imbal hasil kripto di masa depan," ujar Matt Hougan, kepala investasi di Bitwise Asset Management. "Para investor cenderung menganggapnya sebagai 'peristiwa yang hanya terjadi sekali'."
Baca Juga: Binance Diselidiki AS Terkait Dugaan Pelanggaran Sanksi Iran, Ini Kasusnya














