Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Samsung Electronics memperkirakan laba operasional kuartal III-2026 menembus 107,4 triliun won atau sekitar US$80,17 miliar.
Jika terealisasi, capaian tersebut menjadi laba kuartalan tertinggi yang pernah dibukukan perusahaan teknologi secara global.
Mengutip Reuters, Kamis (8/10/2026), proyeksi laba operasional Samsung untuk periode Juli-September tersebut melonjak hampir sembilan kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Angka itu juga sedikit di atas estimasi LSEG SmartEstimate sebesar 106,1 triliun won.
Baca Juga: Dolar AS Bertahan di Level Tertinggi 18 Bulan Kamis (8/10) Usai Risalah The Fed
Lonjakan kinerja Samsung terutama ditopang oleh bisnis chip memori yang mendapat berkah dari ledakan investasi infrastruktur kecerdasan buatan (AI).
Permintaan yang kuat terhadap chip untuk mendukung komputasi AI membuat harga chip memori meningkat tajam di tengah pasokan yang semakin ketat.
Proyeksi tersebut sekaligus menandai kuartal keempat berturut-turut Samsung mencatat rekor laba operasional.
Kondisi ini menunjukkan ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan chip memori semakin dalam, karena pertumbuhan investasi AI melampaui peningkatan kapasitas produksi.
Samsung memperkirakan pendapatan kuartal III-2026 mencapai sekitar 195 triliun won, naik 127% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Analis Yuanta Securities Lee Jae-won mengatakan, kinerja Samsung ternyata lebih baik dari ekspektasi pasar meski sejumlah analis sebelumnya memangkas proyeksi laba perusahaan.
"Ketidakpastian masih melingkupi laba Samsung karena analis memangkas estimasi mereka, tetapi hasilnya ternyata lebih baik dari perkiraan," kata Lee.
Investor juga akan mencermati kebijakan pengembalian modal kepada pemegang saham yang akan dibahas Samsung dalam paparan kinerja pada akhir Oktober.
Baca Juga: IMF Siapkan Dana US$ 1,21 Miliar untuk Pakistan, Tunggu Persetujuan Dewan
Permintaan chip AI melonjak
Bisnis memori diperkirakan menjadi kontributor terbesar terhadap peningkatan laba Samsung. Para analis memperkirakan pasokan chip memori masih tertinggal dari permintaan, bahkan kesenjangan tersebut berpotensi semakin melebar pada 2027 karena kebutuhan chip untuk AI menyerap porsi kapasitas produksi global yang semakin besar.
Selain chip DRAM dan NAND konvensional, permintaan terhadap high-bandwidth memory (HBM) juga meningkat pesat.
Chip tersebut menjadi komponen penting untuk memproses volume data dalam jumlah besar pada aplikasi AI.
Baca Juga: CrowdStrike Duga Pelaku Peretasan Bank Korea Selatan Pria 26 Tahun di China
Pengiriman chip DRAM konvensional diperkirakan relatif stagnan akibat keterbatasan persediaan. Sebaliknya, pengiriman HBM diperkirakan meningkat signifikan dibandingkan kuartal sebelumnya seiring tingginya permintaan terhadap HBM4.
Douglas Kim dari Douglas Research Advisory memperkirakan pengiriman HBM Samsung meningkat hampir 50% secara kuartalan pada kuartal III-2026.
Pesaing Samsung, Micron, juga memperkirakan kondisi pasar chip akan semakin ketat pada 2027 dan 2028. Perusahaan tersebut pada Rabu (7/10/2026) memproyeksikan pendapatan kuartalan jauh di atas ekspektasi pasar.
Namun, penguatan won Korea Selatan dapat menjadi salah satu faktor yang menahan pertumbuhan laba Samsung. Penguatan mata uang tersebut dapat mengurangi nilai penjualan Samsung dalam dolar AS ketika dikonversi ke won.
Boom chip juga menjadi tantangan bagi bisnis Samsung lainnya, terutama smartphone dan elektronik konsumen. Kenaikan harga memori meningkatkan biaya komponen yang digunakan dalam produk-produk tersebut sehingga berpotensi menekan margin.
Baca Juga: Tiga Tahun Israel Bombardir Gaza: Rasa Kemanusian yang Hilang untuk Warga Palestina
Sementara itu, bisnis foundry atau manufaktur chip berdasarkan pesanan diperkirakan masih mencatat kerugian. Rendahnya tingkat utilisasi pabrik dan tingginya beban biaya tetap menjadi tekanan bagi bisnis tersebut.
Meski demikian, utilisasi diperkirakan membaik dalam beberapa kuartal mendatang seiring meningkatnya permintaan terhadap teknologi manufaktur chip canggih.
Samsung juga terus berupaya memperkecil kesenjangan dengan TSMC sebagai pemimpin industri foundry global.
Peluang tersebut semakin terbuka setelah CEO AMD Lisa Su mengatakan pada Rabu bahwa perusahaan chip AS tersebut masih menjajaki peluang kerja sama dengan Samsung, baik di bisnis memori maupun foundry.
Kompetisi China dan tarif AS jadi risiko
Di tengah prospek positif industri memori, ekspansi produsen chip China menjadi salah satu risiko jangka panjang bagi Samsung.
Untuk saat ini, produsen memori China masih diperkirakan lebih bergantung pada konsumen domestik, termasuk pengembang chip AI serta produsen komputer dan smartphone di dalam negeri.
Baca Juga: Harga iPhone 18 Di Indonesia Mulai Rp 27 Juta, Apakah Lebih Murah Beli Di Singapura?
Pembatasan AS terhadap akses China ke peralatan manufaktur chip canggih juga masih menjadi faktor yang membatasi seberapa cepat produsen China meningkatkan kapasitas produksinya.
Selain itu, rencana penerapan tarif terhadap produk semikonduktor di AS menjadi ketidakpastian lain bagi industri chip.
Washington terus mendorong produsen semikonduktor meningkatkan kapasitas manufaktur di Amerika Serikat.
Namun, peningkatan kapasitas tersebut diperkirakan membutuhkan waktu bertahun-tahun sebelum memberikan tambahan pasokan signifikan ke pasar global.
Pembangunan fasilitas fabrikasi chip skala besar membutuhkan waktu panjang hingga mencapai kapasitas produksi optimal.
Saham Samsung naik 0,3% pada perdagangan awal Kamis (8/10/2026), mengungguli indeks acuan KOSPI yang turun 0,1%.
Baca Juga: Notulen The Fed Ungkap Perdebatan Panas soal Arah Suku Bunga AS














