Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Krisis energi global kini memasuki fase yang lebih serius. CEO Shell, Wael Sawan, memperingatkan bahwa Eropa bisa mulai mengalami kekurangan energi mulai bulan depan jika konflik di Timur Tengah terus berlanjut.
Reuters memberitakan, menurut Sawan, gangguan pasokan energi sudah lebih dulu menghantam Asia Selatan, lalu menyebar ke Asia Tenggara dan Asia Timur.
Kini, tekanan yang sama diperkirakan akan mencapai Eropa pada April.
Pemicunya jelas. Konflik di Timur Tengah yang mengganggu distribusi energi global, terutama karena tersendatnya jalur vital Selat Hormuz, yang mengalirkan sekitar 20% minyak dan gas dunia.
Bukan Sekadar Minyak, Tapi Efek Berantai
Sawan menegaskan, dampaknya tidak hanya pada minyak mentah.
- Pasokan bahan bakar pesawat sudah mulai terganggu
- Solar (diesel) diperkirakan menjadi berikutnya
- Disusul bensin saat musim liburan musim panas di belahan bumi utara
Artinya, krisis ini akan merambat ke transportasi, logistik, hingga aktivitas ekonomi sehari-hari.
Baca Juga: Krisis Energi Global Semakin Memburuk: Asia Terancam, Eropa Menyusul April
Energi = Keamanan Nasional
Dalam pernyataannya, Sawan menekankan satu hal penting: tanpa keamanan energi, tidak ada keamanan nasional.
Ia juga menyebut, perusahaan energi kini bekerja sama dengan pemerintah untuk mencari solusi, mulai dari: pengelolaan cadangan energi, strategi pembelian, , dan pengendalian permintaan.
Namun, pendekatan yang ada saat ini dinilai masih reaktif, bukan solusi jangka panjang.
Eropa Bisa Kehabisan Pasokan
Peringatan ini juga diperkuat oleh pernyataan pejabat lain. Menteri ekonomi Jerman menyebut potensi kelangkaan energi bisa terjadi pada akhir April atau Mei jika konflik tak mereda.
Masalahnya, dunia kehilangan hingga sekitar 20 juta barel minyak per hari akibat gangguan pasokan, jumlah yang sangat besar dan sulit digantikan dalam waktu cepat.
Tonton: NATO Bergerak! 22 Negara Bersiap Hadapi Blokade Iran di Hormuz
Meski berbagai negara sudah melepas cadangan minyak besar-besaran, melonggarkan sanksi energi, bahkan mengalihkan jalur distribusi, langkah tersebut dinilai belum mampu menutup kekurangan pasokan global.













