kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.814.000   5.000   0,18%
  • USD/IDR 17.266   44,00   0,26%
  • IDX 7.072   -34,13   -0,48%
  • KOMPAS100 955   -6,68   -0,69%
  • LQ45 682   -4,42   -0,64%
  • ISSI 255   -2,37   -0,92%
  • IDX30 378   -0,88   -0,23%
  • IDXHIDIV20 463   -1,76   -0,38%
  • IDX80 107   -0,70   -0,65%
  • IDXV30 135   -1,18   -0,87%
  • IDXQ30 121   -0,66   -0,55%

Bursa Asia Turun dari Rekor, Investor Tunggu Laporan Keuangan Raksasa Teknologi AS


Selasa, 28 April 2026 / 15:45 WIB
Bursa Asia Turun dari Rekor, Investor Tunggu Laporan Keuangan Raksasa Teknologi AS
ILUSTRASI. Bursa Asia - Kospi Korea (REUTERS/Kim Soo-hyeon)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Saham di pasar negara berkembang Asia bergerak melemah dari level tertinggi sepanjang masa pada Selasa (28/4/2026).

Seiring meningkatnya kehati-hatian investor menjelang rilis laporan keuangan perusahaan teknologi besar Amerika Serikat yang berpotensi menguji reli berbasis kecerdasan buatan (AI).

Melansir Reuters, Indeks MSCI Asia Emerging Markets tercatat turun 0,2% dan indeks MSCI Emerging Markets global melemah 0,1%.

Baca Juga: Iran Bersedia Berbagi Kemampuan Pertahanan dengan Mitra-Mitra di Asia

Sentimen hati-hati juga tercermin di pasar mata uang, dengan indeks mata uang emerging markets global versi MSCI turun 0,3%.

Tekanan cukup besar terlihat pada peso Filipina yang terdepresiasi hampir 1% dan menembus level 61 per dolar AS untuk pertama kalinya, menyentuh rekor terendah di 61,266.

Sepanjang 2026, mata uang ini telah melemah hampir 4%, menjadikannya salah satu yang terburuk di kawasan setelah rupee India yang turun hampir 5%.

Pelaku pasar juga masih dibayangi risiko geopolitik, terutama setelah Donald Trump dikabarkan tidak puas dengan proposal terbaru Iran untuk mengakhiri konflik.

Kondisi ini meredupkan harapan tercapainya perdamaian dalam waktu dekat dan memperpanjang gangguan pasokan energi global, yang berpotensi mendorong inflasi, khususnya di negara berkembang yang bergantung pada impor energi.

Baca Juga: Trump Tak Puas dengan Proposal Iran, Negosiasi Akhiri Perang Terancam Mandek

Analis Maybank menilai, tekanan terhadap pasangan dolar AS/peso Filipina masih berpotensi berlanjut di tengah ketidakpastian negosiasi damai Iran. Namun, mereka juga melihat belum ada katalis untuk lonjakan tajam dalam waktu dekat.

Di pasar saham, pelemahan mencerminkan sikap wait and see menjelang laporan kinerja sejumlah raksasa teknologi AS seperti Microsoft, Alphabet, Amazon, Meta Platforms, dan Apple.

“Jika laba sektor teknologi kuat, reli berbasis AI bisa berlanjut dan mendorong saham Asia kembali ke level tinggi. Namun jika mengecewakan, pasar berisiko mengalami koreksi valuasi yang cukup tajam,” ujar Glenn Yin, Direktur Riset ACCM.

Di kawasan Asia Timur, saham Taiwan yang sebelumnya menjadi salah satu penerima manfaat utama dari tren AI justru terkoreksi setelah mencetak rekor tertinggi pada sesi sebelumnya.

Baca Juga: Taylor Swift Ajukan Hak Merek untuk Lindungi Suara dan Citra dari Deepfake AI

Berbeda dengan tren regional, indeks KOSPI di Korea Selatan melonjak sekitar 1% ke level tertinggi sepanjang masa, ditopang oleh kenaikan saham sektor otomotif dan baja.

Sementara itu, indeks saham di Jakarta sempat turun hingga 0,9% ke level terendah sejak 7 April dan berpotensi mencatat penurunan selama tujuh hari berturut-turut. Bursa saham Filipina juga melemah hampir 1% dan menuju level terendah sejak akhir Maret.

Di pasar valuta Asia Tenggara, baht Thailand melemah 0,6% ke posisi terendah sejak 7 April menjelang keputusan suku bunga bank sentral.

Rupiah Indonesia dan dolar Taiwan masing-masing turun 0,3%, sementara ringgit Malaysia dan dolar Singapura cenderung stagnan.

Secara keseluruhan, pasar bergerak dalam mode defensif, menanti arah baru dari kombinasi kinerja sektor teknologi global dan perkembangan geopolitik yang masih penuh ketidakpastian.




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Capital Structure

[X]
×