kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.565.000   8.000   0,31%
  • USD/IDR 18.155   62,00   0,34%
  • IDX 4.930   -99,86   -1,99%
  • KOMPAS100 634   -13,85   -2,14%
  • LQ45 505   -8,77   -1,71%
  • ISSI 162   -3,81   -2,30%
  • IDX30 285   -4,34   -1,50%
  • IDXHIDIV20 385   -4,37   -1,12%
  • IDX80 73   -1,49   -2,00%
  • IDXV30 107   -1,39   -1,29%
  • IDXQ30 96   -1,36   -1,39%

Bursa Saham Asia Berguguran Jumat (6/11), Kekhawatiran AI Picu Aksi Jual Global


Jumat, 06 November 2026 / 09:38 WIB
Bursa Saham Asia Berguguran Jumat (6/11), Kekhawatiran AI Picu Aksi Jual Global
ILUSTRASI. Bursa Asia - Nikkei Jepang (REUTERS/Manami Yamada)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - Bursa saham Asia mengalami aksi jual besar-besaran pada perdagangan Jumat (6/11/2026). Pasar saham yang didominasi emiten teknologi tertekan tajam setelah kekhawatiran terhadap pengetatan regulasi kecerdasan buatan (AI) dan perlambatan pembangunan infrastruktur AI memicu kejatuhan Wall Street.

Mengutip Reuters, indeks Kospi Korea Selatan sempat anjlok lebih dari 8% hingga memicu penghentian sementara perdagangan atau circuit breaker. Setelah perdagangan kembali dibuka, Kospi masih terkoreksi sekitar 7%.

Indeks Nikkei Jepang merosot sekitar 6%, sedangkan indeks saham Taiwan turun lebih dari 8%.

Baca Juga: Pasar Saham Korea Selatan Ingin Naik Kelas, MSCI Masih Ingin Lihat Ini

Tekanan di pasar Asia mengikuti kejatuhan bursa saham Amerika Serikat (AS) pada Kamis (5/11/2026). Indeks Nasdaq anjlok 5,5%, sementara indikator volatilitas pasar atau fear gauge Wall Street melonjak.

Aksi jual tersebut menghapus sekitar US$ 3 triliun kapitalisasi pasar perusahaan-perusahaan yang tergabung dalam indeks S&P 500.

Investor mencermati kemungkinan Partai Demokrat, yang meraih kemenangan besar dalam pemilihan paruh waktu AS pekan ini, memperketat pengawasan terhadap industri AI.

Kekhawatiran tersebut muncul ketika investasi besar-besaran di sektor AI juga mulai dipertanyakan dari sisi potensi imbal hasilnya.

Kepala Strategi Investasi Saxo, Charu Chanana, menilai aksi jual di pasar saham tidak hanya dipicu perubahan sentimen, tetapi juga unsur kepanikan dan penyesuaian posisi investor.

Menurut dia, ketika banyak investor melepas posisi secara bersamaan, tekanan jual dapat semakin kuat. Kondisi tersebut terutama berisiko terjadi apabila transaksi melibatkan penggunaan leverage dan likuidasi paksa.

Baca Juga: Putin Ambil alih Kendali Atas Aset Japan Tobacco di Rusia

Produsen cip dan pemasok peralatan pusat data di Korea Selatan, Taiwan, dan Jepang menjadi kelompok yang paling rentan terhadap perubahan sentimen tersebut. Saham-saham sektor ini bahkan telah melemah sejak Rabu dan Kamis.

Saham Samsung Electronics turun hampir 10%, sementara SK Hynix merosot 11,7%. Produsen memori Jepang Kioxia anjlok 14% dan Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC) terkoreksi 8,5%.

Tekanan juga menjalar ke SoftBank Group, salah satu investor besar di industri AI, yang sahamnya turun 11%.

Pada saat bersamaan, biaya asuransi terhadap risiko gagal bayar atau credit default swap (CDS) SoftBank melonjak ke level tertinggi dalam empat tahun.

Kontrak berjangka saham Eropa juga turun sekitar 1%, mengindikasikan aksi jual berpotensi meluas ke pasar Eropa.

Baca Juga: Presiden Vladimir Putin Ambil Alih Pengelolaan Aset Japan Tobacco di Rusia

Sentimen investasi AI mulai berubah

Kekhawatiran investor tidak hanya menyasar perusahaan teknologi besar. Pasar juga mencermati risiko perlambatan ekspansi infrastruktur AI terhadap perusahaan-perusahaan yang lebih kecil, terutama penyedia layanan komputasi awan atau neocloud.

Perusahaan-perusahaan tersebut dinilai rentan karena kemampuan menghimpun pendanaan telah tertekan oleh suku bunga yang lebih tinggi dan kondisi keuangan yang semakin ketat.

Salah satu perusahaan yang menjadi barometer kekhawatiran investor adalah CoreWeave. Perusahaan penyedia layanan komputasi awan yang banyak terkait dengan belanja AI tersebut mengalami penurunan saham sekitar 10%.

Pada saat yang sama, selisih imbal hasil CDS CoreWeave tenor lima tahun melebar ke level tertinggi sepanjang masa. Pelebaran tersebut mencerminkan meningkatnya persepsi pasar terhadap risiko gagal bayar perusahaan.

Baca Juga: Dolar AS Stabil Jumat (6/11), Yen Menguat di Tengah Aksi Jual Saham Global

CEO Moomoo untuk Australia dan Selandia Baru, Michael McCarthy, mengatakan telah terjadi perubahan sentimen yang signifikan di pasar.

Menurut dia, titik balik pasar kerap disertai perbedaan pandangan investor yang tajam dan tercermin dari volatilitas harga yang besar.

Aksi jual juga mengindikasikan investor mulai memperhitungkan meningkatnya penolakan masyarakat lokal terhadap pembangunan pusat data.

Sejumlah analis menilai pasar belum sepenuhnya memperhitungkan biaya sosial dan dampak pembangunan fasilitas tersebut terhadap komunitas di sekitarnya.

Di pasar AS, Philadelphia Semiconductor Index anjlok 12,2% pada perdagangan semalam. Sementara itu, Nasdaq kini telah turun sekitar 12% dari rekor penutupan tertingginya yang tercatat sebulan lalu.

Di tengah tekanan pasar saham, obligasi pemerintah AS berpotensi kembali diburu investor. Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun tercatat sebesar 4,838%, mendekati level terendah sejak 9 September.

Baca Juga: Kekhawatiran Regulasi AI Memukul Bursa Jepang Jumat (6/11), Nikkei Ambles 5,5%

Penguatan aset obligasi tersebut sejalan dengan meningkatnya minat investor terhadap instrumen yang lebih aman. Dolar AS juga melemah terhadap sejumlah mata uang safe haven, termasuk yen Jepang dan franc Swiss.

Chief Investment Officer Vantage Point Asset Management, Nick Ferres, memperkirakan imbal hasil US Treasury masih berpeluang turun lebih jauh. Ia juga menilai saham-saham semikonduktor dan memori berpotensi menghadapi tekanan lanjutan.


Video Terkait



TERBARU
11.11
Kontan Academy
[Executive Education Program] Sustainable Development and ESG Leadership Mitigasi Risiko SP2DK dan Pemeriksaan Pajak

[X]
×