Sumber: Reuters | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - SYDNEY. Bursa saham Australia mencatat penurunan harian terbesar dalam 10 bulan pada hari Jumat, dengan perusahaan tambang memimpin aksi jual yang mencakup semua sektor, karena investor menarik diri dari saham sumber daya alam akibat harga komoditas yang lemah di tengah penurunan yang lebih luas dari pasar saham secara global.
Jumat (6/2/2026) indeks S&P/ASX 200 turun 2% menjadi 8.708,8 dalam penurunan satu hari tercuram sejak awal April 2025. Indeks acuan merosot 1,8% minggu ini, kinerja terburuknya dalam 11 minggu.
Penurunan harga saham terjadi secara luas, dengan sektor sumber daya dan keuangan yang berbobot besar masing-masing turun 2,7% dan 1,2%,. Sementara saham energi, teknologi, dan emas masing-masing turun sekitar 3%.
Saham sektor kesehatan, barang konsumsi pokok, dan barang konsumsi diskresioner kehilangan antara 1% dan 3%. Indeks saham unggulan, yang mencakup perusahaan pertambangan dan bank terkemuka, turun 1,5%, penurunan terbesar sejak pertengahan November.
Baca Juga: Bank Sentral India Pertahankan Suku Bunga Usai Kesepakatan Dagang dengan AS Tercapai
Semalam, indeks Wall Street ditutup lebih rendah, dipimpin oleh kerugian di perusahaan teknologi besar karena kekhawatiran atas pengeluaran AI mereka. Ekuitas global juga berada di bawah tekanan pada hari Jumat.
"Sentimen risiko global melemah tajam semalam karena investor beralih dari sektor-sektor dengan valuasi tinggi dan terpapar siklus ekonomi," kata Marc Jocum, ahli strategi produk dan investasi senior di Global X ETFs.
Kehati-hatian di Wall Street meluas ke Australia, dengan volatilitas komoditas dan kekhawatiran atas melemahnya pertumbuhan global yang membebani kepercayaan, kata Jocum.
Indeks volatilitas S&P ASX melonjak 21%, tertinggi sejak guncangan "Liberation Day" April lalu, menunjukkan peningkatan tajam dalam kecemasan investor dan ekspektasi akan volatilitas pasar yang meningkat.
Indeks sumber daya berakhir pada level terendah tiga minggu, turun 4,6% untuk minggu ini - penurunan terbesar sejak akhir Maret.
Sementara BHP Group turun 3%, pesaingnya Rio Tinto melonjak 2% ke rekor tertinggi setelah membatalkan pembicaraan merger dengan Glencore, meskipun berakhir sedikit lebih rendah.
Baca Juga: Serangan Ukraina Rusak Parah Belgorod Rusia, Pasokan Listrik Belum Pulih
Saham Rio Tinto yang terdaftar di London berakhir lebih dari 2% lebih rendah semalam. Jocum mengatakan perbedaan antara kedua saham tersebut kemungkinan mencerminkan apresiasi pemegang saham Australia terhadap keputusan manajemen untuk memprioritaskan disiplin valuasi.
Di Selandia Baru, indeks acuan S&P/NZX 50 berakhir 0,2% lebih rendah pada 13,444.02.












