kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.635.000   20.000   0,76%
  • USD/IDR 18.088   -22,00   -0,12%
  • IDX 6.042   2,45   0,04%
  • KOMPAS100 790   1,48   0,19%
  • LQ45 600   1,02   0,17%
  • ISSI 210   -0,03   -0,02%
  • IDX30 339   0,09   0,03%
  • IDXHIDIV20 422   0,59   0,14%
  • IDX80 90   0,11   0,12%
  • IDXV30 115   -0,13   -0,11%
  • IDXQ30 109   0,09   0,08%

China ke Uni Eropa: Subsidi untuk melindungi pekerja, bukan demi keuntungan industri


Jumat, 12 April 2019 / 13:46 WIB


Sumber: South China Morning Post | Editor: Tendi Mahadi

KONTAN.CO.ID - BRUSSEL. Perdana Menteri China Li Keqiang mengatakan kepada para pemimpin Eropa bahwa subsidi yang diberikan negaranya adalah untuk melindungi pekerja dan bukan merupakan bentuk dukungan ilegal untuk industri. Pernyataan itu dilontarkan di tengah kritikan soal praktek subsidi yang dilakukan oleh negaranya.

Dilansir dari South China Morning Post, dalam sebuah pertemuan dengan Uni Eropa, Li meminta blok tersebut untuk memperlakukan perusahaan-perusahaan asal China dengan layak.

Di sisi lain, subsidi industri yang dilakukan oleh China hampir merusak penandatanganan pernyataan bersama di KTT Uni Eropa-China. Hubungan dagang dari kedua pihak sendiri telah menembus angka sekitar € 1,5 miliar atau setara US$ 1,7 miliar dalam sehari.

"Beberapa subsidi yang kami berikan adalah untuk pekerja yang di-PHK, sehingga mereka tidak kehilangan mata pencaharian mereka. Subsidi bukan untuk daya saing industri," kata Li.

Li mengatakan bahwa China menghormati aturan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) dan akan bekerja dengan Uni Eropa dan entitas lain untuk mereformasi serta mengatasi persoalan subsidi.

Sementara itu Uni Eropa dan sejumlah negara seperti Amerika Serikat dan Jepang telah sejak lama menuduh China memberikan subsidi yang tidak adil untuk mendukung industri di negaranya.

Kesepakatan tentang subsidi yang termasuk dalam pernyataan pernyataan bersama antar Uni Eropa dan China digambarkan sebagai sebuah terobosan oleh Presiden Dewan Eropa Donald Tusk. "Untuk pertama kalinya, China telah setuju untuk terlibat dengan Eropa pada prioritas utama ini untuk reformasi WTO," ujar Tusk.

Tusk mengatakan bahwa ia berharap pembicaraan mengenai subsidi akan berkembang dengan cepat sebelum KTT G-20 di Osaka, Jepang pada Juni ini. Di mana China kemungkinan akan menghadapi tekanan lagi dari sejumlah negara ekonomi utama.




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Strategi Implementasi PP 20 tahun 2026 (PPh Final UMKM) dan Mitigasi Risiko SP2DK

[X]
×