kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.652.000   21.000   0,80%
  • USD/IDR 16.878   8,00   0,05%
  • IDX 8.885   -52,03   -0,58%
  • KOMPAS100 1.226   -2,75   -0,22%
  • LQ45 867   -1,47   -0,17%
  • ISSI 324   0,11   0,04%
  • IDX30 441   1,22   0,28%
  • IDXHIDIV20 520   3,38   0,65%
  • IDX80 136   -0,29   -0,21%
  • IDXV30 144   0,32   0,22%
  • IDXQ30 142   1,10   0,79%

Cuaca Ekstrem Pangkas Produksi Wine Global


Rabu, 12 November 2025 / 17:11 WIB
Cuaca Ekstrem Pangkas Produksi Wine Global
ILUSTRASI. Hatten 


Sumber: Reuters | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - PARIS. Produksi wine global sedikit meningkat pada 2025, namun tetap berada di bawah rata-rata untuk tahun ketiga berturut-turut. Ini karena kebun-kebun anggur di berbagai belahan dunia menghadapi cuaca ekstrem dan tidak menentu menurut data Organization of Vine and Wine(OIV).

Dalam estimasi awalnya, OIV memperkirakan produksi wine dunia tahun ini mencapai 232 juta hektoliter (mhl), naik 3% dibandingkan 2024, tetapi masih 7% di bawah rata-rata lima tahun terakhir.

"Jika melihat penyebab rendahnya produksi selama tiga tahun terakhir, sebagian besar disebabkan oleh variasi iklim yang ekstrem di kedua belahan bumi," kata Direktur Jenderal OIV, John Barker, kepada Reuters. Beberapa wilayah mengalami panas dan kekeringan, lalu disusul hujan deras atau embun beku yang tak terduga. Fakta ini terjadi tiga tahun berturut-turut sangat mencolok. 

Baca Juga: Singles’ Day China Lesu, Diskon Besar Tak Mampu Dongkrak Gairah Belanja Konsumen

Di Eropa, Prancis mencatat panen wine terkecil sejak 1957, sementara produksi Spanyol turun ke level terendah dalam 30 tahun. Sebaliknya, Italia kembali menjadi produsen anggur terbesar dunia dengan kenaikan produksi 8%, didorong oleh kondisi cuaca yang lebih bersahabat.

Di Amerika Serikat, produsen anggur terbesar keempat dunia produksi diperkirakan mencapai 21,7 juta hektoliter, naik 3% dibandingkan tahun lalu, namun masih 9% di bawah rata-rata lima tahun terakhir.

Sementara itu, di belahan bumi selatan, produksi melonjak 7% setelah tiga tahun penurunan berturut-turut, dipimpin oleh Afrika Selatan, Australia, Selandia Baru, dan Brasil. Kenaikan ini sebagian menutupi penurunan produksi di Chili, namun total output kawasan masih 5% di bawah rata-rata historis, kata OIV.

Barker menambahkan pertumbuhan terbatas produksi global diperkirakan menstabilkan stok wine di tengah permintaan yang lemah di pasar-pasar matang, penurunan konsumsi di China, serta ketidakpastian dalam perdagangan global.

"Produksi rendah memang sulit bagi produsen dan wilayah tertentu, tetapi dari sisi makroekonomi justru positif, karena membantu menjaga keseimbangan antara produksi dan konsumsi," ujar Barker.

OIV berencana memperbarui estimasi produksinya pada akhir tahun. Satu hektoliter setara dengan 133 botol wine standar.

Selanjutnya: BRIN Dorong Regulasi Rokok Elektronik Berbasis Kajian Ilmiah dan Analisis Risiko

Menarik Dibaca: Ramalan Cinta Zodiak Tahun 2026, Ada yang Bertemu Cinta Sejati




TERBARU
Kontan Academy
Mastering Management and Strategic Leadership (MiniMBA 2026) Global Finance 2026

[X]
×