Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Rencana penawaran saham perdana (IPO) raksasa antariksa milik Elon Musk, SpaceX, senilai US$ 75 miliar memicu euforia di kalangan investor Asia.
Antusiasme tersebut tidak hanya terlihat pada minat terhadap saham SpaceX, tetapi juga meluas ke perusahaan pemasok dan produk investasi yang memiliki keterkaitan dengan perusahaan tersebut.
Baca Juga: Harga Emas Stabil Selasa (9/6), Pelaku Pasar Cermati Gencatan Senjata Iran-Israel
Melansir Reuters Selasa (9/6/2026), saham perusahaan yang bergerak di sektor satelit, roket, hingga rantai pasok Starlink tercatat mengalami kenaikan signifikan dalam beberapa bulan terakhir.
Investor juga memburu sejumlah exchange traded fund (ETF) yang memiliki eksposur terhadap saham privat SpaceX menjelang pencatatan saham perusahaan tersebut di bursa.
SpaceX menargetkan valuasi sekitar US$ 1,75 triliun dalam IPO yang diperkirakan menjadi salah satu yang terbesar dalam sejarah pasar modal.
Harga final penawaran dijadwalkan ditetapkan pada 11 Juni 2026, sementara perdagangan saham di bursa Nasdaq akan dimulai sehari setelahnya.
Baca Juga: Ekspor dan Impor China Meningkat di Mei 2026, Tapi ke Pasar AS Turun
Perusahaan bahkan disebut mempertimbangkan untuk mengalokasikan hingga 30% saham IPO kepada investor ritel, porsi yang relatif besar dibandingkan kebanyakan penawaran saham perdana lainnya.
Namun, keterbatasan akses investor ritel di sejumlah negara Asia terhadap IPO SpaceX membuat banyak pelaku pasar mencari alternatif dengan membeli saham perusahaan yang menjadi bagian dari rantai pasok SpaceX.
Salah satunya dilakukan oleh Hu Xiaobin, investor ritel asal Provinsi Anhui, China.
Dalam beberapa bulan terakhir, ia membeli saham perusahaan yang memiliki keterkaitan dengan ekosistem SpaceX, seperti Sunway Communication yang memasok komponen terminal darat Starlink dan Western Superconducting Technologies yang menyediakan material khusus untuk industri roket.
"Saya mencari sendiri perusahaan-perusahaan terkait di pasar saham China dan mendapatkan keuntungan yang cukup besar," ujarnya.
Baca Juga: Perkuat Poros Beijing-Pyongyang, Kim Jong Un Nyatakan Dukung Penuh Prinsip Satu China
Meski demikian, Hu mengaku telah melepas kepemilikan saham tersebut menjelang IPO SpaceX.
Di China, saham perusahaan teknologi Lens Technology juga menjadi sorotan. Emiten yang dikenal sebagai pemasok Apple dan Tesla tersebut telah melonjak hampir 50% sepanjang tahun ini setelah menyebut sektor antariksa komersial sebagai salah satu mesin pertumbuhan bisnis baru.
Sentimen positif semakin menguat setelah Ketua Lens Technology, Zhou Qunfei, terlihat duduk di antara CEO Apple Tim Cook dan Elon Musk dalam sebuah jamuan di Beijing pada Mei lalu.
Momen tersebut memicu spekulasi pasar mengenai potensi kerja sama yang lebih luas dengan berbagai perusahaan milik Musk.
Menurut Direktur Central Asset Management Hong Kong, Jeffrey Chan, investor ritel di Asia menghadapi tantangan besar untuk memperoleh alokasi langsung dalam IPO SpaceX.
"Bagi investor ritel lokal, mendapatkan porsi langsung dalam IPO SpaceX akan sangat sulit," ujarnya.
Chan menilai SpaceX merupakan aset yang hampir wajib dimiliki oleh banyak manajer investasi global yang berfokus pada pertumbuhan.
Sementara itu, akses terhadap dokumen pemasaran IPO SpaceX juga dilaporkan terbatas di Hong Kong dan China daratan.
Bloomberg sebelumnya melaporkan bahwa penjamin emisi SpaceX melarang investor dari China dan Hong Kong untuk berpartisipasi dalam IPO tersebut.
Baca Juga: Kondisi Bisnis Australia Stabil, Namun Kepercayaan Pelaku Usaha Masih Lesu
Saham dan ETF Bertema Antariksa Melonjak
Euforia IPO SpaceX juga mengangkat kinerja saham perusahaan antariksa global. Sejumlah emiten Eropa seperti operator satelit Eutelsat dari Prancis, produsen satelit OHB dari Jerman, serta SES yang berbasis di Luksemburg mencatat kenaikan dua digit sepanjang tahun ini.
Di pasar ETF, minat investor terhadap produk bertema antariksa juga meningkat tajam. Tema Space Innovators ETF, yang memiliki eksposur sekitar 6,49% terhadap saham privat SpaceX sebelum IPO, telah naik 29% sejak diluncurkan pada Maret lalu.
Produk lain yang juga menarik perhatian investor adalah Tradr 2x Fly Long Daily ETF, ETF leveraged yang memberikan eksposur terhadap Firefly Aerospace, perusahaan antariksa yang berhasil melakukan pendaratan komersial di bulan pada tahun lalu.
Meski demikian, sejumlah analis menilai fenomena ini masih lebih banyak didorong oleh investor ritel dibandingkan investor institusi.
"Ini memang cerita yang menarik bagi trader, tetapi saya meragukan investor institusi akan melakukan taruhan besar hanya karena IPO ini," kata Strategis CLSA Jepang, Nicholas Smith.
Baca Juga: Dolar AS Dekati Level Tertinggi 2 Bulan: Efek Gencatan Senjata Iran-Israel yang Rapuh
Taiwan Jadi Pusat Perhatian
Di kawasan Asia, Taiwan dipandang sebagai salah satu pihak yang berpotensi memperoleh manfaat terbesar dari ekspansi bisnis SpaceX pasca IPO.
Taiwan merupakan basis sejumlah produsen komponen satelit yang memasok kebutuhan SpaceX, termasuk Chin-Poon Industrial, Wistron NeWeb Corporation, dan Universal Microwave Technology.
Selain itu, Central Asset Management juga menyoroti sejumlah perusahaan lain yang dianggap sebagai proxy investasi terhadap SpaceX di Asia, seperti Compeq, Tong Hsing Electronic, Kinpo Electronics dari Taiwan, serta Meiko Electronics dari Jepang.
Managing Director Man Group, Nick Wilcox, menilai dana segar yang diperoleh SpaceX dari IPO berpotensi meningkatkan belanja modal perusahaan pada masa mendatang.
"Kami memperkirakan SpaceX akan memperkuat kerja sama dengan para pemasok untuk mendukung fase ekspansi berikutnya. Banyak perusahaan Asia yang berpotensi memperoleh manfaat dari peningkatan investasi tersebut," ujarnya.













