kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.168.000   165.000   5,49%
  • USD/IDR 16.776   42,00   0,25%
  • IDX 8.232   -88,35   -1,06%
  • KOMPAS100 1.139   -9,43   -0,82%
  • LQ45 813   0,48   0,06%
  • ISSI 296   -9,48   -3,11%
  • IDX30 422   3,70   0,88%
  • IDXHIDIV20 501   7,26   1,47%
  • IDX80 126   -0,89   -0,70%
  • IDXV30 136   -1,76   -1,27%
  • IDXQ30 136   1,46   1,09%

Demam Safe Haven Global, Citigroup Proyeksikan Harga Perak Akan Tembus Segini


Kamis, 29 Januari 2026 / 19:20 WIB
Demam Safe Haven Global, Citigroup Proyeksikan Harga Perak Akan Tembus Segini
ILUSTRASI. Harga perak melonjak 55% sepanjang 2026, Citigroup proyeksikan tembus US$150. Pahami pemicu reli dan potensi keuntungan besar sekarang! (REUTERS/Denis Balibouse)


Sumber: Finbold News | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Citigroup secara tajam menaikkan proyeksi jangka pendek harga perak setelah logam mulia tersebut melampaui ekspektasi sebelumnya, didorong oleh kuatnya permintaan investor dan aksi beli berbasis momentum.

Hingga saat ini, harga perak diperdagangkan di kisaran US$112 per ons troi, melonjak hampir 55% sepanjang 2026. Kenaikan ini terjadi seiring meningkatnya minat investor terhadap aset safe haven di tengah ketidakpastian global.

Bank asal Amerika Serikat tersebut kini melihat ruang kenaikan yang jauh lebih besar dalam beberapa pekan ke depan, mencerminkan reli yang dinilai sangat kuat dan tidak biasa.

Prospek harga perak versi Citi

Menurut Maximilian Layton, Global Head of Commodities Research Citi, harga perak telah melampaui target 0–3 bulan yang sebelumnya baru saja direvisi naik beberapa pekan lalu.

Baca Juga: Perak Bangkit Lagi! Analis Proyeksikan Harga Melonjak ke US$200

Menyusul percepatan reli, Citi kini memperkirakan potensi kenaikan lanjutan sebesar 30% hingga 40% dalam beberapa minggu ke depan.

Dengan proyeksi tersebut, Citi menaikkan target harga jangka pendek perak menjadi US$150 per ons troi.

Sebagai catatan, pada 26 Januari lalu, harga perak sempat menyentuh rekor tertinggi intraday di kisaran US$118 per ons troi. Pada saat yang sama, rasio emas terhadap perak (gold-to-silver ratio) turun di bawah level 50, menguatkan pandangan lama Citi bahwa perak akan mengungguli kinerja emas.

“Kami telah bullish terhadap perak, baik secara absolut maupun relatif terhadap emas, selama berbulan-bulan dan tetap mempertahankan pandangan tersebut dalam beberapa minggu ke depan. Kami tetap bullish secara taktis dan menaikkan target harga 0–3 bulan menjadi US$150 per ons,” ujar Layton.

Layton menjelaskan bahwa reli harga perak saat ini lebih banyak digerakkan oleh arus modal (capital flows) dibandingkan faktor fundamental tradisional. Perak dinilai semakin diperdagangkan sebagai versi leveraged dari emas.

Meningkatnya risiko geopolitik serta kekhawatiran baru terhadap independensi Federal Reserve AS turut memicu lonjakan permintaan investasi dan spekulatif terhadap perak.

Dalam analisis Citi, China menjadi motor utama lonjakan permintaan ini, diikuti oleh India serta partisipasi investor ritel global.

Premi harga perak di pasar China dan India juga meningkat tajam. Hal ini terjadi meski indikator yang biasanya bersifat bearish, seperti penurunan kepemilikan ETF perak dan pelemahan posisi di Comex, belum mampu menahan kenaikan harga.

Baca Juga: Emas dan Perak Makin Berkilau, Kembali Dekati Level Tertinggi Sepanjang Masa

Meski otoritas China telah menerapkan sejumlah pengetatan, termasuk kenaikan persyaratan margin dan pembatasan langganan ETF perak, Layton menilai langkah tersebut tidak akan secara signifikan meredam permintaan ritel.

Prospek jangka panjang perak

Dalam jangka lebih panjang, Citi menyebut bahwa jika rasio emas terhadap perak terus menyempit, maka harga perak berpotensi bergerak di kisaran US$160 hingga US$170 per ons troi, meski skenario ekstrem dinilai kecil kemungkinannya.

Dukungan tambahan terhadap prospek perak juga disampaikan oleh Claudio Wewel, strategist di J. Safra Sarasin. Ia menyoroti turunnya ekspektasi pemangkasan suku bunga AS, meningkatnya status perak sebagai mineral kritis, serta pengetatan pasokan global.

Selain itu, pembatasan ekspor dari China dan harga emas yang berada di rekor tertinggi turut mendorong investor beralih ke perak sebagai alternatif aset lindung nilai.

Meski demikian, di tengah pandangan bullish dan reli yang masih berlangsung, sejumlah pelaku pasar mengingatkan bahwa kenaikan tajam saat ini berpotensi bersifat sementara. Berdasarkan pola historis, koreksi harga tetap mungkin terjadi dalam waktu dekat.

Selanjutnya: Meski Tak Ada Insentif, Polytron Yakin Penjualan Motor Listrik Tumbuh 50% di 2026

Menarik Dibaca: 7 Tips Membuat Smoothie yang Aman untuk Gula Darah, Coba yuk!


Video Terkait



TERBARU
Kontan Academy
SPT Tahunan PPh Coretax: Mitigasi, Tips dan Kertas Kerja Investing From Zero

[X]
×