Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Tur Afrika Paus Leo yang mencakup empat negara ditutup dengan dramatis pada Rabu (22/4/2026), ketika pemimpin Gereja Katolik itu menerobos hujan deras untuk menyapa kerumunan di Guinea Khatulistiwa, setelah sebelumnya berbicara di sebuah penjara di mana para narapidana meneriakkan tuntutan kebebasan.
Reuters memberitakan, Guinea Khatulistiwa, negara berbahasa Spanyol yang kerap dicap sebagai salah satu negara paling represif di kawasan tersebut, telah dipimpin sejak 1979 oleh Presiden Teodoro Obiang Nguema Mbasogo, presiden dengan masa jabatan terlama di dunia. Negara ini memiliki hubungan yang hangat dengan Amerika Serikat, sebagian karena kekayaan minyaknya.
Leo, paus pertama asal Amerika Serikat yang selama kunjungan di Afrika menampilkan gaya bicara baru yang lebih tegas, mengawali hari dengan mengecam ketimpangan kekayaan dalam misa di bangunan keagamaan terbesar di Afrika Tengah, yakni sebuah gereja di kota Mongomo, yang terletak di tepi hutan hujan Cekungan Kongo.
Setelah itu, ia mengunjungi sebuah penjara di kota Bata, fasilitas tempat para tahanan kerap ditahan bertahun-tahun tanpa akses pengacara, menurut Amnesty International.
Leo mendengarkan sejumlah kesaksian dari para tahanan yang berkumpul di halaman dalam kompleks penjara tersebut. Saat ia menyampaikan pidato, hujan mulai turun, namun para tahanan tetap berdiri di luar.
“Kebebasan, kebebasan!”
Paus meminta agar “segala upaya” dilakukan untuk memberi kesempatan kepada para tahanan agar bisa belajar dan bekerja selama masa penahanan mereka.
Ketika ia hendak meninggalkan lokasi, sementara Menteri Kehakiman Reginaldo Biyogo Mba Ndong Anguesomo masih berada di atas panggung, para tahanan mulai melompat-lompat di tengah hujan dan meneriakkan: “Kebebasan, kebebasan!”
Baca Juga: Iran Sita Dua Kapal Kontainer yang Mencoba Keluar dari Teluk
Guinea Khatulistiwa selama ini menolak tuduhan pelanggaran HAM. Sebelum Leo berbicara di penjara Bata, Biyogo mengatakan negaranya memperlakukan para tahanan secara adil sesuai standar Perserikatan Bangsa-Bangsa.
“Kami berkomitmen menjamin hak asasi manusia, hak-hak fundamental, dan kewarganegaraan,” ujarnya.
Tahun lalu, pemerintahan Obiang membuat kesepakatan dengan pemerintahan Trump untuk menerima deportan dari negara lain, sebagai bagian dari rangkaian perjanjian serupa di Afrika yang menuai kritik dari pengacara dan aktivis imigrasi.
Para aktivis berharap Leo akan menyoroti nasib para deportan yang dikirim dari AS ke Guinea Khatulistiwa.
Sekelompok 70 LSM menerbitkan surat terbuka pada Senin yang mendesak Leo agar mendorong “perlakuan yang adil, manusiawi, dan sesuai hukum” terhadap para deportan, dengan menyebut mereka ditekan untuk kembali ke negara asal.
Leo, yang memicu kemarahan Presiden AS Donald Trump karena semakin vokal menentang perang dan despotisme, tidak secara terbuka membahas kondisi deportan selama berada di Guinea Khatulistiwa maupun Kamerun, pemberhentian pertama tur tersebut, yang juga menerima deportan.
Wakil presiden yang dikenal glamor hadir dalam misa
Dalam misa pada Rabu pagi di Basilika Konsepsi Tak Bernoda di Mongomo, Leo menyerukan warga Guinea Khatulistiwa untuk “mengutamakan kepentingan bersama daripada kepentingan pribadi, serta menjembatani kesenjangan antara yang beruntung dan yang kurang beruntung.”
Presiden Obiang dan putranya, Wakil Presiden Teodoro Nguema Obiang Mangue, yang dikenal luas dengan nama Teodorin, hadir dalam misa tersebut. Teodorin selama bertahun-tahun dikenal memamerkan gaya hidup glamor di Instagram.
Pada Oktober 2017, Teodorin divonis bersalah atas penggelapan dana di Prancis dalam persidangan in absentia, dan pengadilan memerintahkan penyitaan aset senilai lebih dari 100 juta euro (US$ 117 juta).
Vatikan mengatakan sekitar 100.000 orang berkumpul di dalam dan sekitar basilika pada Rabu untuk melihat Leo, memenuhi area kolonnade yang dirancang menyerupai Lapangan Santo Petrus di Roma.
Mereka menari dan berteriak ketika popemobile putih Paus tiba. Penyelenggara melepaskan asap berwarna emas, putih, hijau, dan merah ke udara, merujuk pada warna bendera Vatikan dan Guinea Khatulistiwa.
Mairano Nve, 70 tahun, mengaku gembira bisa melihat Leo.
“Sungguh kebahagiaan besar paus datang mengunjungi kami,” kata Nve. “Ia hanya ingin melihat kami dan memberi berkat dalam nama Yesus.”
Tonton: El Nino 2026 Mengancam! Jakarta Bersiap Hadapi Krisis Air dan Pangan
Lebih dari 70% penduduk Guinea Khatulistiwa yang berjumlah 1,8 juta jiwa mengidentifikasi diri sebagai Katolik. Leo, yang merupakan paus pertama yang berkunjung sejak 1982, kini berada di penghujung salah satu tur luar negeri paling rumit yang pernah diatur untuk seorang paus.
Ia telah menempuh hampir 18.000 km melintasi 18 penerbangan menuju 11 kota di empat negara.
Paus juga berdoa pada Rabu di lokasi ledakan besar pada 2021 di barak militer di Bata yang menewaskan lebih dari 100 orang. Pemerintah menyalahkan insiden itu pada “penyimpanan amunisi yang buruk”.
Aktivis HAM telah menyerukan penyelidikan independen atas insiden tersebut, namun sejauh ini tidak berhasil.













