Sumber: Reuters | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - ROMA. Ketegangan antara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dengan Paus Leo XIV memanas. Terlebih setelah Trump mengkritik Paus Leo dengan "sangat buruk" dalam serangan langsung yang jarang terjadi terhadap paus.
Terhadap kritik tersebut, Paus Leo menjawab bahwa dia tidak takut pada pemerintahan Gedung Putih dan akan terus mengecam kengerian perang.
Sebelumnya, komentar Trump muncul setelah Paus berbicara, dengan semakin lantang, menentang perang AS-Israel di Iran dan kebijakan imigrasi pemerintahan Trump.
"Paus Leo LEMAH dalam hal kejahatan, dan buruk dalam Kebijakan Luar Negeri," tulis Trump dalam sebuah unggahan di Truth Social pada Minggu (12/4/2026) malam.
Baca Juga: Paus Leo Tegaskan Sikap Anti-Perang Usai Diserang Kritik Trump
Trump kemudian mengunggah gambar yang dihasilkan AI yang menggambarkan dirinya sebagai Yesus, dengan bendera AS dan Patung Liberty di latar belakang.
'SESEORANG HARUS BERDIRI,' kata Paus Leo.
Paus Leo yang merupakan Paus pertama yang berasal dari AS, menanggapi pada hari ini (13/4/2026) dengan mengatakan bahwa ia akan terus menyuarakan penentangannya terhadap konflik. Paus juga menambahkan bahwa pesan Kristen, yang berakar pada keutamaan perdamaian, sedang "disalahgunakan".
Sangat tidak biasa bagi seorang Paus, yang memimpin umat Katolik di seluruh dunia, untuk menjawab pemimpin asing secara terbuka.
“Saya akan terus bersuara lantang menentang perang, berupaya mempromosikan perdamaian, mendorong dialog dan hubungan multilateral antar negara untuk mencari solusi yang adil bagi masalah-masalah,” kata Leo kepada Reuters di dalam penerbangan kepausan menuju Aljir, tempat ia memulai tur 10 hari ke empat negara Afrika.
“Terlalu banyak orang menderita di dunia saat ini,” katanya. “Terlalu banyak orang tak bersalah yang dibunuh. Dan saya pikir seseorang harus berdiri dan mengatakan ada cara yang lebih baik.”
Berbicara kepada wartawan lain, Paus berkata: “Saya tidak takut pada pemerintahan Trump, atau bersuara lantang.”
Umat Katolik membela Paus
Umat Katolik di media sosial mengecam Trump karena menyerang pemimpin Gereja Katolik yang beranggotakan 1,4 miliar orang, yang mereka yakini sebagai penerus Santo Petrus, salah satu dari 12 rasul Yesus.
"Tidak ada keraguan lagi tentang situasi saat ini," kata Massimo Faggioli, seorang ahli kepausan, kepada Reuters.
Ia membandingkan komentar tersebut dengan upaya para pemimpin Jerman dan Italia selama Perang Dunia Kedua untuk menarik mendiang Paus Pius XII agar mendukung tujuan mereka.
"Bahkan Hitler atau Mussolini pun tidak menyerang Paus secara langsung dan terbuka seperti itu," kata Faggioli.
Baca Juga: Militer AS Berlakukan Blokade di Teluk Oman, Semua Kapal Wajib Patuhi
Uskup Agung Paul S. Coakley, presiden Konferensi Uskup Katolik AS, mengatakan ia merasa kecewa dengan komentar Trump.
“Paus Leo bukanlah saingannya; Paus juga bukan seorang politikus. Ia adalah Wakil Kristus yang berbicara dari kebenaran Injil dan untuk kepedulian terhadap jiwa-jiwa,” katanya dalam sebuah pernyataan.
TRUMP MENGATAKAN LEO HARUS 'MEMPERBAIKI DIRINYA'
Paus Leo, yang berasal dari Chicago, dikenal karena memilih kata-katanya dengan hati-hati. Ia telah muncul sebagai kritikus vokal terhadap konflik dengan Iran dalam beberapa minggu terakhir dan mengecam "kegilaan perang" dalam seruan perdamaian pada hari Sabtu.
Tahun lalu, ia mempertanyakan apakah kebijakan imigrasi garis keras pemerintahan Trump sejalan dengan ajaran pro-kehidupan Gereja, dan menyerukan "refleksi mendalam" tentang cara para migran diperlakukan di Amerika Serikat.
“Seseorang yang mengatakan, 'Saya menentang aborsi tetapi saya setuju dengan perlakuan tidak manusiawi terhadap imigran di Amerika Serikat', saya tidak tahu apakah itu “Pro-kehidupan,” kata Paus pada bulan September.
Trump menulis dalam unggahannya pada hari Minggu bahwa “Leo harus memperbaiki perilakunya sebagai Paus” dan “fokus untuk menjadi Paus yang Hebat, bukan seorang Politisi”.
Baca Juga: Ekspor Minyak Arab Saudi ke China Anjlok ke Level Terendah Imbas Konflik Iran dan AS
Serangan Trump terhadap Leo juga menuduhnya “lemah dalam hal senjata nuklir”, beberapa hari setelah Paus mengatakan ancaman presiden AS untuk menghancurkan peradaban Iran “benar-benar tidak dapat diterima”.
Dalam pidato pada Minggu Palma bulan lalu di Lapangan Santo Petrus di Vatikan, Paus mengatakan Tuhan menolak doa para pemimpin yang memulai perang dan “tangan mereka penuh dengan darah,” menyebut konflik di Iran “mengerikan”.
Leo juga telah meminta Trump untuk menemukan “jalan keluar” untuk mengakhiri konflik dan “mengurangi jumlah kekerasan”.
Dalam unggahannya, Trump menyarankan bahwa Paus Leo hanya terpilih untuk memimpin Gereja Katolik tahun lalu "karena dia orang Amerika, dan mereka pikir itu akan menjadi cara terbaik untuk berurusan dengan Presiden Donald J. Trump".
Sementara itu, Paus Leo mengatakan pada hari Senin bahwa dia bukan seorang politisi dan tidak ingin terlibat dalam perdebatan dengan Trump.
"Pesan Gereja, pesan saya, pesan Injil: Berbahagialah para Pembawa Damai. Saya tidak memandang peran saya sebagai seorang politikus," katanya.
Baca Juga: Kapal Tanker Mulai Hindari Selat Hormuz Jelang Blokade AS
Trump juga memiliki hubungan yang kurang baik dengan pendahulu Paus Leo, yakni Paus Fransiskus, yang mengkritiknya.
Usulan kebijakan imigrasi Trump ketika ia pertama kali mencalonkan diri sebagai presiden dan menyatakan bahwa Trump "bukan seorang Kristen".
Trump menyebut Paus Fransiskus "memalukan" pada awal tahun 2016.











