Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pemimpin Gereja Katolik, Pope Leo, menegaskan akan terus menyuarakan penolakan terhadap perang, menyusul kritik keras dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Dalam wawancara dengan Reuters di atas pesawat kepausan menuju Aljazair pada Senin (13/4/2026), Paus Leo menyatakan bahwa dirinya tidak ingin terlibat dalam perdebatan langsung dengan Trump. Namun, ia menekankan bahwa pesan ajaran Kristen tidak seharusnya disalahgunakan.
“Saya tidak ingin terlibat dalam perdebatan dengannya,” ujar Paus Leo.
“Saya tidak berpikir bahwa pesan Injil dimaksudkan untuk disalahgunakan seperti yang dilakukan oleh sebagian orang,” terangnya.
Kunjungan ini merupakan bagian dari tur 10 hari ke empat negara di Afrika, sekaligus menandai peran aktif Paus Leo dalam isu global, khususnya terkait perdamaian dan konflik internasional.
Baca Juga: Pernyataan Presiden Korea Selatan tentang Holocaust Picu Kontroversi di Dalam Negeri
Tegaskan Komitmen Perdamaian Global
Paus Leo menegaskan bahwa dirinya akan terus bersuara lantang menentang perang dan mendorong penyelesaian konflik melalui dialog serta kerja sama multilateral antarnegara.
“Saya akan terus bersuara lantang menentang perang, dengan mendorong perdamaian, dialog, dan hubungan multilateral antarnegara untuk mencari solusi yang adil atas berbagai masalah,” ujarnya.
Ia juga menyoroti besarnya dampak kemanusiaan akibat konflik yang terus berlangsung di berbagai belahan dunia.
“Terlalu banyak orang yang menderita di dunia saat ini. Terlalu banyak orang tak bersalah yang terbunuh. Dan saya pikir seseorang harus berdiri dan mengatakan bahwa ada cara yang lebih baik,” lanjutnya.
Menurut Paus Leo, pesan utama Gereja adalah perdamaian, bukan politik. Ia menegaskan bahwa perannya bukan sebagai aktor politik, melainkan sebagai pemimpin moral yang menyerukan nilai-nilai kemanusiaan.
“Pesan Gereja, pesan saya, pesan Injil adalah: Berbahagialah para pembawa damai. Saya tidak melihat peran saya sebagai sesuatu yang bersifat politik atau sebagai seorang politisi,” katanya.
Baca Juga: Kuwait Naikkan Harga Minyak Mentah untuk Pasar Asia pada Bulan Mei 2026
Kritik terhadap Perang dan Respons Trump
Paus Leo, yang berasal dari Chicago, dalam beberapa pekan terakhir menjadi salah satu tokoh vokal yang mengkritik konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Ia juga sebelumnya mengecam apa yang disebutnya sebagai “kegilaan perang” dalam seruan perdamaian global.
Pernyataan tersebut tampaknya memicu respons dari Trump. Dalam unggahan di platform Truth Social pada Minggu (12/4), Trump menyebut Paus Leo sebagai sosok yang “lemah terhadap kejahatan” dan “buruk dalam kebijakan luar negeri”.
“Paus Leo LEMAH dalam menangani kejahatan, dan buruk dalam kebijakan luar negeri,” tulis Trump.













