Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kuwait resmi menaikkan harga jual resmi (official selling price/OSP) minyak mentah ekspor ke pasar Asia untuk pengiriman Mei, di tengah ketegangan geopolitik yang meningkat akibat konflik antara Iran dan Amerika Serikat.
Berdasarkan dokumen yang ditinjau Reuters pada Senin (13/4/2026), Kuwait menetapkan OSP untuk Kuwait Export Crude sebesar US$17 per barel di atas rata-rata harga Oman/Dubai. Angka ini melonjak tajam dibandingkan premi hanya US$0,50 per barel pada April.
Kuwait juga menaikkan harga minyak jenis Kuwait Super Light untuk pengiriman Mei menjadi US$17 per barel di atas acuan Oman/Dubai, dari sebelumnya US$1,15 per barel pada bulan April.
Baca Juga: Harga Emas Turun ke Level Terendah Sepekan, Dolar Menguat dan Minyak Tembus US$100
Dampak Konflik dan Gangguan Pasokan
Kenaikan harga ini terjadi setelah militer Amerika Serikat mengumumkan rencana blokade lalu lintas maritim melalui pelabuhan dan wilayah pesisir Iran. Langkah tersebut diambil setelah perundingan akhir pekan gagal mencapai kesepakatan untuk mengakhiri konflik, yang sekaligus mengancam gencatan senjata rapuh yang telah berlangsung selama dua pekan.
Konflik ini berdampak langsung pada distribusi minyak global, terutama melalui Selat Hormuz—jalur penting yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia. Gangguan di jalur ini telah membuat minyak mentah Timur Tengah menjadi yang termahal secara global.
Tren Kenaikan Harga Regional
Kuwait bukan satu-satunya negara yang menaikkan harga. Produsen minyak utama di Timur Tengah juga menaikkan harga jual ke Asia untuk pengiriman Mei.
Arab Saudi menetapkan harga minyak Arab Light dengan premi tertinggi sepanjang sejarah sebesar US$19,50 per barel di atas acuan Oman/Dubai. Sementara itu, Irak menaikkan harga minyak Basrah Medium ke Asia hingga US$17 per barel.
Baca Juga: Inggris Tegaskan Tidak Akan Terlibat Perang Iran, Fokus Dorong Pembukaan Selat Hormuz
Lonjakan harga ini mencerminkan meningkatnya risiko pasokan akibat konflik yang belum mereda di kawasan.
Prospek Pasar: Dari Surplus ke Defisit
Di sisi lain, kelompok produsen minyak OPEC+ telah menyepakati peningkatan kuota produksi sebesar 206.000 barel per hari untuk Mei. Namun, analis menilai kenaikan ini kemungkinan hanya akan bersifat nominal karena sejumlah produsen utama kesulitan meningkatkan produksi di tengah konflik Iran.
Para analis memperkirakan gangguan terhadap produksi global akan mengubah keseimbangan pasar minyak tahun ini dari kondisi surplus menjadi defisit pasokan. Sebelum konflik, pasar minyak diproyeksikan mengalami kelebihan pasokan yang cukup besar.













