Sumber: Reuters | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga emas dunia melemah ke level terendah dalam hampir satu pekan pada Senin (22/3), tertekan oleh penguatan dolar Amerika Serikat serta lonjakan harga minyak yang menembus US$100 per barel.
Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran inflasi dan mendorong pelaku pasar mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve tahun ini.
Harga emas spot tercatat turun 0,4% ke level US$4.730,75 per ons pada pukul 07.35 GMT, setelah sebelumnya sempat menyentuh level terendah sejak 7 April di US$4.643. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Juni turun 0,7% menjadi US$4.753,30 per ons.
Dolar Menguat, Tekanan bagi Emas
Penguatan dolar AS sekitar 0,3% terjadi di tengah persiapan militer Amerika Serikat untuk memblokade Selat Hormuz, yang berpotensi membatasi ekspor minyak Iran. Langkah ini diambil setelah perundingan damai antara AS dan Iran mengalami kegagalan.
Baca Juga: Filipina Temukan Sianida di Kapal China, Ancam Ekosistem Laut China Selatan
Penguatan dolar membuat emas yang diperdagangkan dalam mata uang tersebut menjadi lebih mahal bagi investor pemegang mata uang lain, sehingga menekan permintaan.
Di sisi lain, Garda Revolusi Iran memperingatkan bahwa kapal militer yang mendekati Selat Hormuz akan dianggap melanggar gencatan senjata dan akan ditindak tegas.
Lonjakan Harga Minyak Picu Kekhawatiran Inflasi
Kenaikan harga minyak di atas US$100 per barel menjadi faktor utama yang memicu kekhawatiran inflasi global. Analis pasar menyebut bahwa kondisi ini mengubah ekspektasi kebijakan moneter.
“Optimisme gencatan senjata memudar setelah gagalnya perundingan damai, dan kenaikan dolar serta harga minyak kembali menekan emas,” ujar Tim Waterer, analis utama di KCM Trade.
Ia menambahkan bahwa ketika harga minyak melampaui US$100, perhatian pasar langsung beralih ke potensi kenaikan suku bunga untuk menahan inflasi. Prospek suku bunga yang lebih tinggi inilah yang membebani kinerja emas, karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset).
Ekspektasi Pemangkasan Suku Bunga Menyusut
Pelaku pasar kini melihat peluang pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve semakin kecil pada tahun ini. Lonjakan harga energi dinilai berpotensi memperluas tekanan inflasi dan membatasi ruang pelonggaran kebijakan moneter.
Baca Juga: Inggris Tegaskan Tidak Akan Terlibat Perang Iran, Fokus Dorong Pembukaan Selat Hormuz
Sebelum konflik AS-Israel dengan Iran pecah pada akhir Februari, investor sempat memperkirakan adanya dua kali pemangkasan suku bunga pada 2026. Namun, dinamika geopolitik dan lonjakan harga energi telah mengubah ekspektasi tersebut secara signifikan.
Sejak awal konflik, harga emas tercatat telah turun lebih dari 11%. Meski biasanya diuntungkan oleh ketidakpastian geopolitik, kenaikan suku bunga justru menjadi faktor penekan utama bagi emas.
Selain emas, harga logam mulia lainnya juga menunjukkan pergerakan beragam. Harga perak spot turun 1,7% menjadi US$74,56 per ons. Sementara itu, platinum relatif stabil di US$2.046,05, dan paladium naik 0,8% menjadi US$1.533,27 per ons.













