Sumber: Telegraph | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
Ketegangan ini muncul bersamaan dengan kritik keras Menteri Keuangan AS Scott Bessent terhadap kesepakatan dagang Uni Eropa–India yang akhirnya rampung Selasa lalu setelah 20 tahun perundingan. Bessent menuduh Eropa “mendanai perang melawan diri mereka sendiri” dengan membeli produk turunan minyak mentah Rusia.
Menurut survei lembaga think tank Jamestown terhadap 40 artikel di People’s Daily pada 10–23 Januari, media propaganda China secara sistematis mencoba memanfaatkan friksi antara AS dan Uni Eropa. Salah satu artikel mengutip pernyataan menteri luar negeri Prancis dan Inggris yang menolak bergabung dengan Board of Peace Trump, sementara kritik terhadap “pemerasan Amerika” soal Greenland menjadi tema berulang.
Ketegangan geopolitik ini juga tercermin dalam pernyataan Mark Carney di Forum Ekonomi Dunia di Davos. Ia menyerukan agar negara-negara “kekuatan menengah” bekerja sama untuk menghindari tekanan dan intimidasi dari AS, pernyataan yang memicu badai diplomatik.
Dalam kunjungannya ke Beijing, Carney mengumumkan kesepakatan dagang yang akan menghapus tarif mobil listrik China, membuka jalan masuk kendaraan tersebut ke pasar Amerika Utara, sebagai imbalan atas akses lebih luas bagi produk pertanian Kanada ke China.
Tonton: Masyarakat Beralih Non Tunai, 1.399 ATM Tutup
Namun tantangan menjaga keseimbangan antara dua kekuatan besar dunia segera terlihat. Trump merespons dengan ancaman tarif 100% atas barang-barang Kanada.
Scott Bessent mengklaim ancaman itu membuat Carney menarik kembali pernyataannya di Davos. “Saya berada di Oval Office hari ini. Presiden berbicara dengan Perdana Menteri Carney, yang dengan sangat agresif menarik kembali sejumlah komentar tidak beruntung yang ia sampaikan di Davos,” ujar Bessent kepada Fox News.













