kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.968.000   52.000   1,78%
  • USD/IDR 16.730   -61,00   -0,36%
  • IDX 8.346   -634,72   -7,07%
  • KOMPAS100 1.155   -84,79   -6,84%
  • LQ45 820   -56,56   -6,46%
  • ISSI 305   -25,77   -7,79%
  • IDX30 422   -22,43   -5,05%
  • IDXHIDIV20 498   -21,62   -4,16%
  • IDX80 128   -9,62   -6,99%
  • IDXV30 138   -5,58   -3,88%
  • IDXQ30 136   -6,80   -4,77%

Diplomasi Xi Menggoda Eropa, Akankah AS Kehilangan Sekutu Penting?


Rabu, 28 Januari 2026 / 07:01 WIB
Diplomasi Xi Menggoda Eropa, Akankah AS Kehilangan Sekutu Penting?
ILUSTRASI. Kunjungan pemimpin Barat ke Beijing menandai pergeseran. China gencar dekati Eropa di tengah kritik AS. Apa artinya? (KONTAN/MFA China)


Sumber: Telegraph | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Presiden China Xi Jinping menawarkan kemitraan dagang baru kepada Eropa sekaligus berjanji menjunjung tinggi “nilai-nilai” Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Langkah ini dipandang sebagai upaya Beijing memanfaatkan retaknya hubungan antara Eropa dan Amerika Serikat (AS).

The Telegraph melaporkan, dalam beberapa hari terakhir, sejumlah pemimpin Barat berkunjung ke Beijing. Pada Selasa, Perdana Menteri Inggris Sir Keir Starmer menjadi pemimpin terbaru yang datang ke China, menyusul Mark Carney dan Petteri Orpo, masing-masing perdana menteri Kanada dan Finlandia.

Dalam pertemuannya dengan Petteri Orpo, Xi menegaskan bahwa China dan Eropa adalah “mitra, bukan musuh”. Ia bahkan mengundang perusahaan-perusahaan Finlandia untuk “berenang di samudra luas pasar China”.

Pada saat yang sama, Xi tampak menyindir Board of Peace bentukan Presiden AS Donald Trump, sebuah lembaga yang dirancang sebagai tandingan PBB. Sejauh ini, badan tersebut diikuti oleh Arab Saudi, Pakistan, Uni Emirat Arab, dan Qatar.

Menurut kantor berita negara Xinhua, Xi mengatakan China siap bekerja sama dengan Finlandia untuk menjaga sistem internasional dengan PBB sebagai porosnya. Ia juga menekankan bahwa negara-negara besar harus “menjunjung supremasi hukum, mengedepankan kerja sama, dan menjaga integritas”.

Baca Juga: Dunia Dagang Bergeser: AS Terpinggirkan dari Mega Kesepakatan Baru?

Meski Xi kerap menyuarakan prinsip-prinsip tersebut di ruang publik, China secara simultan berupaya memposisikan diri sebagai mitra dagang yang bertanggung jawab dan kekuatan global yang stabil. Hal ini kontras dengan pendekatan Trump yang dinilai lebih konfrontatif dan kerap mengabaikan norma diplomasi internasional.

Kementerian Luar Negeri China menyatakan Beijing siap mempererat kerja sama dengan Inggris, bertepatan dengan kedatangan Keir Starmer untuk kunjungan empat hari bersama delegasi dari 50 perusahaan dan institusi.

Namun hubungan London–Beijing juga dibayangi kontroversi. Sehari sebelumnya, media Inggris mengungkap bahwa mata-mata China diduga meretas ponsel di kantor Perdana Menteri Inggris (No 10 Downing Street). Skandal ini menambah daftar kekhawatiran lintas partai soal ketergantungan Inggris terhadap China.

Pekan lalu, pemerintah Inggris juga akhirnya menyetujui pembangunan “super-embassy” China, meski ada kekhawatiran lokasi tersebut berpotensi digunakan untuk memata-matai kabel data yang terhubung ke pusat keuangan City of London.

Sementara itu, media pemerintah China semakin gencar mengeksploitasi ketegangan antara AS dan Uni Eropa. Editorial China Daily pada Minggu lalu memperingatkan para pemimpin Eropa bahwa “menjadi sekutu AS tidak lagi bermakna dalam kalkulasi ‘America First’”, merujuk pada ancaman tarif dan sengketa Greenland.

Baca Juga: 7 Pimpinan Baru Goldman Sachs, Semua dari Divisi Ini? Ada Apa?

Artikel tersebut menyerukan agar Eropa memperkuat “otonomi strategis” dan mendiversifikasi kepentingannya.

Ketegangan ini muncul bersamaan dengan kritik keras Menteri Keuangan AS Scott Bessent terhadap kesepakatan dagang Uni Eropa–India yang akhirnya rampung Selasa lalu setelah 20 tahun perundingan. Bessent menuduh Eropa “mendanai perang melawan diri mereka sendiri” dengan membeli produk turunan minyak mentah Rusia.

Menurut survei lembaga think tank Jamestown terhadap 40 artikel di People’s Daily pada 10–23 Januari, media propaganda China secara sistematis mencoba memanfaatkan friksi antara AS dan Uni Eropa. Salah satu artikel mengutip pernyataan menteri luar negeri Prancis dan Inggris yang menolak bergabung dengan Board of Peace Trump, sementara kritik terhadap “pemerasan Amerika” soal Greenland menjadi tema berulang.

Ketegangan geopolitik ini juga tercermin dalam pernyataan Mark Carney di Forum Ekonomi Dunia di Davos. Ia menyerukan agar negara-negara “kekuatan menengah” bekerja sama untuk menghindari tekanan dan intimidasi dari AS, pernyataan yang memicu badai diplomatik.

Dalam kunjungannya ke Beijing, Carney mengumumkan kesepakatan dagang yang akan menghapus tarif mobil listrik China, membuka jalan masuk kendaraan tersebut ke pasar Amerika Utara, sebagai imbalan atas akses lebih luas bagi produk pertanian Kanada ke China.

Tonton: Masyarakat Beralih Non Tunai, 1.399 ATM Tutup

Namun tantangan menjaga keseimbangan antara dua kekuatan besar dunia segera terlihat. Trump merespons dengan ancaman tarif 100% atas barang-barang Kanada.

Scott Bessent mengklaim ancaman itu membuat Carney menarik kembali pernyataannya di Davos. “Saya berada di Oval Office hari ini. Presiden berbicara dengan Perdana Menteri Carney, yang dengan sangat agresif menarik kembali sejumlah komentar tidak beruntung yang ia sampaikan di Davos,” ujar Bessent kepada Fox News.

Selanjutnya: Promo Krispy Kreme Buy 1 Get 1, Manjakan Lidah Lebih Hemat Cuma Hari Ini

Menarik Dibaca: Promo Krispy Kreme Buy 1 Get 1, Manjakan Lidah Lebih Hemat Cuma Hari Ini




TERBARU
Kontan Academy
SPT Tahunan PPh Coretax: Mitigasi, Tips dan Kertas Kerja Investing From Zero

[X]
×