kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.772.000   35.000   1,28%
  • USD/IDR 16.957   -16,00   -0,09%
  • IDX 9.010   -124,37   -1,36%
  • KOMPAS100 1.238   -17,33   -1,38%
  • LQ45 871   -12,96   -1,47%
  • ISSI 330   -4,30   -1,29%
  • IDX30 446   -8,42   -1,86%
  • IDXHIDIV20 522   -16,69   -3,10%
  • IDX80 137   -2,04   -1,46%
  • IDXV30 144   -4,36   -2,93%
  • IDXQ30 142   -3,40   -2,34%

Ditekan Tarif Trump, Perdagangan AS–Asia Tenggara dan Taiwan Melonjak Tajam


Rabu, 21 Januari 2026 / 17:07 WIB
Ditekan Tarif Trump, Perdagangan AS–Asia Tenggara dan Taiwan Melonjak Tajam
ILUSTRASI. Kebijakan tarif Trump terhadap China justru membuat Asia Tenggara panen keuntungan. Defisit AS dengan RI, Thailand, Filipina, Vietnam melonjak (REUTERS/Evelyn Hockstein)


Sumber: Al Jazeera | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Satu tahun setelah kembali menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mulai menuai hasil awal dari kebijakan dagang agresif yang diluncurkannya.

Pada 2024, defisit perdagangan AS untuk barang dan jasa membengkak hingga sekitar US$918,4 miliar, setara 3,1% dari produk domestik bruto (PDB). Trump pun berjanji memangkas angka tersebut secara signifikan.

Dengan menggunakan International Emergency Economic Powers Act (IEEPA), Trump memberlakukan kebijakan “tarif resiprokal” terhadap mitra dagang utama AS mulai 2 April 2025. Gedung Putih menyebut langkah ini bertujuan “memperbaiki praktik perdagangan” yang selama ini dianggap menggerus basis manufaktur AS.

Baca Juga: Jepang Aktifkan Kembali PLTN Terbesar di Dunia Setelah 15 Tahun Dihentikan

Data perdagangan awal menunjukkan, secara global defisit perdagangan AS memang menurun sepanjang 2025. Namun, dampaknya di Asia Timur dan Asia Tenggara tidak sepenuhnya sesuai harapan Washington. Alih-alih mengurangi ketergantungan AS pada dua kawasan tersebut, tarif justru mendorong pergeseran dan penataan ulang rantai pasok global.

“Jika Anda menekan balon di satu sisi dan permintaan tetap ada, maka produk itu akan muncul dari lokasi lain,” kata Deborah Elms, Kepala Kebijakan Perdagangan di Hinrich Foundation, Singapura.

“Perdagangan berpindah ke tempat yang menawarkan peluang. Pola perdagangan berubah, tapi tidak berhenti,” tambahnya.

Ekspor China ke AS Anjlok Tajam

China menjadi sasaran utama kebijakan tarif Trump. Setelah aksi saling balas tarif antara Washington dan Beijing, rata-rata bea masuk AS atas barang China mencapai 47,5% per November 2025, menurut Peterson Institute for International Economics.

Dampaknya signifikan. Nilai ekspor China ke AS turun 20% sepanjang 2025, berdasarkan data bea cukai China. Sementara itu, data Biro Sensus AS menunjukkan impor barang dari China merosot dari US$438,7 miliar pada 2024 menjadi US$266,3 miliar pada 2025.

Secara keseluruhan, defisit perdagangan barang AS terhadap China menyusut dari US$245,5 miliar pada 2024 menjadi US$175,4 miliar pada 2025. Namun, penurunan ini diimbangi oleh kenaikan defisit dengan negara-negara Asia Tenggara.

Asia Tenggara Jadi Pemenang Tak Terduga

Asia Tenggara merupakan bagian penting dari strategi “China Plus One” dalam rantai pasok global. Kawasan ini sempat dikenai tarif awal antara 17% hingga 49%, sebelum dinegosiasikan ulang menjadi sekitar 19%–20% melalui perjanjian bilateral dengan pengecualian sektor tertentu.

Baca Juga: Pengadilan Jepang Vonis Penjara Seumur Hidup Pembunuh Mantan PM Shinzo Abe

Meski tarif naik, perdagangan AS dengan sejumlah negara ASEAN justru meningkat. Defisit perdagangan AS terhadap Indonesia naik 11%, Thailand 23%, dan Filipina melonjak 38%, meski dari basis yang relatif kecil.

Perubahan paling mencolok terjadi pada Vietnam. Defisit perdagangan barang AS dengan Vietnam melonjak lebih dari US$20 miliar, dari US$123,4 miliar pada 2024 menjadi US$145,7 miliar pada 2025, meski dikenai tarif 20%.

Menurut ekonom Capital Economics, Zichun Huang, sebagian pergeseran ini memang terkait praktik transshipment atau pengalihan jalur ekspor China melalui negara tetangga. Namun, faktor utamanya adalah restrukturisasi rantai pasok.

“ASEAN kini mengimpor lebih banyak mesin dan barang antara dari China, lalu menggunakannya untuk memproduksi barang ekspor ke AS,” ujarnya.

China Diversifikasi Pasar Global

Seiring tekanan tarif AS, eksportir China juga memperluas pasar di luar Amerika. Hal ini tercermin dari surplus perdagangan global China yang mencapai rekor US$1,19 triliun pada 2025.

Meski Gedung Putih sempat mengancam tarif 40% untuk praktik transshipment, penerapannya sulit karena rantai pasok modern melibatkan lintas batas berulang kali. “Mendefinisikan transshipment kini sangat kompleks,” kata Nick Marro dari Economist Intelligence Unit.

Di tengah pengetatan tarif, Taiwan justru mencatat lonjakan perdagangan dengan AS, didorong oleh ledakan permintaan semikonduktor dan teknologi kecerdasan buatan (AI).

Defisit perdagangan AS dengan Taiwan melonjak lebih dari 50%, dari US$73,7 miliar pada 2024 menjadi US$111,8 miliar pada 2025. Hal ini terjadi karena adanya pengecualian tarif untuk chip dan produk turunannya.

“Permintaan semikonduktor sangat kuat akibat boom AI dan penimbunan stok,” kata Kristy Tsun-Tzu Hsu dari Chung-Hua Institution for Economic Research, Taipei. Tren ini diperkirakan berlanjut hingga 2026, termasuk untuk Vietnam yang kini naik peringkat sebagai pemasok chip utama AS.

Baca Juga: Dolar AS Menguat Jelang Pidato Trump di Davos, Ketegangan Tarif Tekan Pasar Global

Menurut Deborah Elms, Trump kecil kemungkinan menekan Taiwan secara agresif di sektor chip. “Trump mungkin ingin defisit menyempit, tapi ia juga sangat menyukai lonjakan pasar saham akibat AI,” ujarnya.

Ketidakpastian Kebijakan Tarif

Ke depan, nasib tarif resiprokal Trump masih tidak pasti. Kebijakan ini tengah menghadapi tantangan hukum di Mahkamah Agung AS. Bahkan jika dibatalkan, proses pencabutan tarif diperkirakan memakan waktu lama.

Selain itu, pemilu sela AS pada November berpotensi mengurangi agresivitas kebijakan tarif seiring meningkatnya tekanan inflasi domestik.

“Sentimen publik mulai berubah, dan dukungan terhadap Trump tidak sekuat sebelumnya,” kata Priyanka Kishore, ekonom Asia Decoded di Singapura.

Dengan dinamika tersebut, satu hal menjadi jelas: kebijakan tarif Trump memang mengubah peta perdagangan global, tetapi tidak mengakhiri perdagangan. Sebaliknya, dunia usaha terus beradaptasi, memindahkan rantai pasok ke wilayah yang paling mampu mengisi celah permintaan global.

Selanjutnya: IHSG Berpeluang Rebound, Simak Support-Resist dan Saham Pilihan Kamis (22/1)

Menarik Dibaca: Pantau 5 Kripto Top Gainers 24 Jam Terakhir, LayerZero Memimpin




TERBARU
Kontan Academy
SPT Tahunan PPh Coretax: Mitigasi, Tips dan Kertas Kerja Investing From Zero

[X]
×